HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 27, 2026
in # Ironi, # Koruptor, #Integritas, #Kontemplasi, #Profil Koruptor, Kemenag, Korupsi, KPK
Reading Time: 3 mins read
0
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

KPK benar-benar dirujak netizen. Semua gara-gara hadiah spesial lebaran, tahanan rumah, untuk Gus Yaqut. Awalnya KPK tak peduli. Setelah dibejek siang malam, akhirnya, lembaga antisogok itu, minta maaf ke publik. Simak lagi narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Baca Juga

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

“Kami minta maaf atas kegaduhan yang terjadi.”

Kalimat sederhana, diucapkan oleh Asep Guntur Rahayu, tapi gaungnya seperti petir di siang bolong. Bukan sekadar permintaan maaf. Ini seperti pengakuan, sesuatu yang seharusnya kokoh, tiba-tiba retak di depan mata publik.

Nuan bayangkan! Lembaga sekelas KPK, yang selama ini dibayangkan sebagai benteng terakhir melawan korupsi, mendadak berdiri di podium, menunduk, dan berkata, “Maaf ya… tadi agak kelewatan.”

Lalu, saya, ente, dan kita? Bukan cuma mendengar, tapi merasakan. Seperti nonton wasit meniup peluit penalti, lalu lima detik kemudian berkata, “Eh, maaf, saya salah lihat.” Bedanya, ini bukan sepak bola. Ini hukum. Ini keadilan. Ini rasa percaya yang selama ini dibangun dengan susah payah.

Permintaan maaf itu lahir dari satu keputusan yang efeknya seperti menjatuhkan korek api di ladang kering. Pemberian status tahanan rumah kepada Yaqut Cholil Qoumas, tersangka kasus korupsi kuota haji, sekitar 19 Maret 2026, mengusik rasa keadilan.

Alasannya terdengar mulia, kemanusiaan. Keluarga yang rindu. Sentuhan empati di tengah proses hukum. Tapi di tangan realitas Indonesia, niat baik bisa berubah jadi komedi gelap.

Publik langsung bereaksi seperti netizen melihat diskon 90% cepat, masif, dan tanpa ampun. Kritik datang dari mana-mana, termasuk dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) yang tak tinggal diam. Narasinya sederhana tapi menghantam. Kalau satu bisa, kenapa yang lain tidak?

Di situlah KPK tersadar. Keputusan yang mungkin terasa kecil di meja rapat, ternyata membesar seperti balon yang ditiup opini publik. Dalam hitungan hari, kebijakan itu dicabut. Yaqut kembali ke rutan. Tapi kerusakan sudah telanjur terjadi.

Permintaan maaf pun jadi klimaks. Bukan penutup, tapi justru pembuka bab baru. Karena setelah itu, efek domino mulai menari.

Di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, tanggal 26 Maret 2026, Abdul Wahid, eks Gubernur Riau nonaktif yang sedang menjalani sidang dugaan pemerasan di Dinas PUPR, melihat celah. Bukan celah hukum, tapi celah momentum.

Melalui kuasa hukumnya, Kemal Shahab, permohonan tahanan rumah diajukan. Dengan penuh percaya diri, mereka menjadikan kasus Yaqut sebagai preseden. Seolah berkata, “Kami tidak minta keistimewaan, kami cuma minta konsistensi.”

Namun jaksa KPK tetap kaku seperti tembok beton. Permohonan ditolak. Alasan kesehatan dianggap tak berdasar. Empat bulan penyidikan tanpa keluhan berarti jadi bukti. Ini bukan soal sakit, ini soal kesempatan.

Tapi yang benar-benar bikin cerita ini naik level dari absurd ke legendaris adalah pernyataan dari Budi Prasetyo. Dengan nada datar, hampir administratif, ia mengungkap fakta yang efeknya seperti punchline komedi. Dari 81 tahanan korupsi di rutan KPK, 80 lainnya secara prinsip punya hak yang sama untuk mengajukan tahanan rumah, merujuk Pasal 108 KUHAP.

ADVERTISEMENT

Di titik itu, publik tidak lagi marah sepenuhnya. Mereka tertawa. Tertawa getir. Karena bayangan yang muncul terlalu liar. Rutan KPK mendadak lengang. Sementara rumah-rumah pribadi berubah jadi “rutan versi deluxe.” Para tersangka sibuk menulis surat permohonan dengan alasan yang mungkin lebih kreatif dari naskah FTV, dari tekanan darah, kerinduan keluarga, hingga mungkin… kangen kasur sendiri.

KPK bilang semua akan dinilai kasus per kasus. Tapi publik sudah terlanjur menangkap pesan yang lebih besar, satu keputusan, satu permintaan maaf, bisa mengguncang persepsi tentang keadilan itu sendiri.

Akhirnya, kita sampai pada kesimpulan yang terasa seperti satire hidup. Di negeri ini, bukan hanya keputusan yang penting, tapi juga bagaimana dan kapan kita meminta maaf. Karena terkadang, satu kata “maaf” bisa lebih menggelegar dari satu vonis panjang.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 253x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 225x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 207x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 173x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 143x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Baca Juga

# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
#Geopolitik

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c
Artikel

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi
Artikel

Kegaduhan dan Seni Mengalihkan Pandangan.

Maret 27, 2026
Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com