Dengarkan Artikel
Oleh Nurwida
“ Alif, Ba, Tsa “, terdengar bacaan Iqrak di salah satu rumah masyarakat Aceh. Dulu di rumah warga Aceh akan terdengar bacaan Al-Qur’an. Waktu setelah magrib di desa maupun kota. Tidak ada kegiatan lain selain menyempatkan diri baca Al-Qur’an bagi orang dewasa. Anak-anak diajari “ mengaji” oleh orang tuanya.
Seakan dengan tidak membaca Al-Qur’an terasa ada yang hilang. Pendidikan Islam dimulai dari rumah. Orang tua mengambil peran utama, menjadi pijakan bagi generasinya untuk mengenal Islam dari rumah. Tempat pengajian hanya memolesnya saja. Karena pondasinya sudah ada.
Orang Aceh tidak bisa membaca Al-Qur’an menjadi pertanyaan dan tabu dalam lingkungan sosialnya. Namun sekarang ada yang berbeda. Budaya itu telah pudar dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Peran itu telah diambil oleh balai pengajian dan maupun lembaga pendidikan lainnya. Dengan berbagai kelompok umur. Yang seharusnya peran tersebut diambil oleh orang tua sebagai madrasah pertama.
Di samping itu saat sekarang, tempat pengajian juga tidak terlalu diminati. Dapat kita lihat, tempat pengajian terkadang sepi dari penuntut ilmu agama.
Aceh dikenal dengan kekentalan budaya Islamnya. Mengenal Aceh, maka terdapat pesan tentang Islam. Sejarah kita membuktikannya. Benarkan itu, ataukah kita terlalu larut dalam eforia pemberitaan media lokal, maupun Nasional tentang Aceh yang bersyariatkan Islam.
Hingga berbangga hati tanpa disadari bahwa budaya kita telah tergerus tsunami bernama media sosial. Memang potret budaya Islam masih terlihat. Tapi itu hanya terlihat ketika hari-hari besar Islam.
Perayaannya begitu luar biasa. Kemudian, pernahkan kita memaknai atau generasi memaknai budaya tersebut. Jangan-jangan itu hanya sebagai seremonial saja dan adu gengsi.
Perhatikanlah keadaan Aceh sekarang. Tak bisa dipungkiri, budaya setelah magrib, biasanya disambut riuh orang-orang membaca Al-Qur’an. Sekarang sunyi, bergantikan suara telivisi dan suara HP. Anak-anak kita sekarang lebih memilih memandang Hpnya berlama-lama dan nongkrong.
Anak-anak Aceh sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan nongkrong di kedai kopi dan sejenisnya. Bermain game dan bermedia sosial.
Melihat fenomena ini, yakinkah kita akan bertahan dari air bah ini. Ketika generasi kita mulai tak berminat lagi untuk belajar identitasnya. Membuang kulturnya, ataukah kita harus siap-siap Aceh berganti wajah ke arah daerah tanpa mengenal warisannya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini









