Dengarkan Artikel
Oleh: Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
(Puisi esai ini merupakan dramatisasi dari kisah yang viral di media sosial tentang seorang anak yang kehilangan ibunya menjelang Hari Raya Idul Fitri.) (1)
—ooo—
Pagi itu takbir menggema,
mengalir dari pengeras suara
ke dada yang berdebar pelan.
Orang-orang mengenakan baju baru,
menjahit senyum
di wajah yang sudah lama
menunggu hari raya tiba.
Di rumah-rumah,
ibu menata ketupat,
ayah membentangkan karpet,
menyambut tangan-tangan
yang akan datang bersalaman.
Anak-anak berlari,
dengan sepatu baru
yang masih kaku menyentuh halaman.
Hari raya selalu tentang opor hangat,
tentang peluk yang ditunggu datang,
tentang perayaan
yang sarat kebersamaan
Namun tidak bagi Ardi.
Di sudut masjid yang lengang,
seorang anak duduk diam
di depan keranda.
Tatapannya kosong,
Tubuhnya kehilangan jiwa
seolah dunia baru saja dicabut
dari dalam dirinya.
Air matanya jatuh
lepas tanpa kendali.
Ia tak mengenakan baju baru.
Tak ada tangan yang merapikan kerahnya.
Tak ada suara yang tergesa
menyuruhnya bersiap berangkat.
Yang tersisa hanya tubuh kaku
terbaring dalam balut putih.
Sunyi.
—ooo—
“Bu, bangun… ini hari raya.
Aku rindu ketupat buatanmu.”
Tak ada jawaban.
Hanya tangis
yang berbaur dengan takbir
yang terus menggema.
Tangis itu runtuh.
Kehilangan itu datang
tanpa aba-aba.
Dunianya mendadak kosong,
saat semua orang merayakan isi
—ooo—
Sejak kecil,
Ardi terbiasa kehilangan.
Ayahnya pergi,
meninggalkan rumah
tanpa jejak kembali.
Tak ada tangan yang menuntunnya tumbuh,
tak ada bahu tempatnya menopang
selain satu nama: ibu.
Perempuan itu
menjahit luka menjadi sabar,
menanak harapan
di dapur yang nyaris padam,
Ibu menjadi alasan
Ardi bertahan.
Namun tumpuan itu kini runtuh
Ia kehilangan
satu-satunya tempat bersandar
—ooo—
Ardi berdiri tegap
meski lututnya gemetar
ia ikut mengangkat keranda
bersama tangan-tangan dewasa.
Di pundaknya,
bukan hanya beban kayu
dan tubuh yang membeku,
tetapi seseorang
yang paling ia sayang
Setiap langkah
adalah perpisahan
yang dipaksa diikhlaskan
Ia menatap wajah ibunya,
mencium kening
yang telah tertutup kafan.
Tak ada lagi yang bisa dipeluk,
selain dingin
yang tak menjawab.
Saat liang itu terbuka,
waktu seperti ditahan.
Orang-orang menunduk.
Ardi berdiri paling dekat.
Dengan suara yang pecah,
ia melangkah maju,
mengumandangkan adzan terakhir
ke telinga bumi
yang akan memeluk ibunya.
Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Suaranya bergetar,
namun tidak roboh.
Seolah ia ingin memastikan:
bahkan di peristirahatan terakhir,
ibunya tidak sendiri.
Bahwa dari seluruh yang hilang,
ia masih bisa memberi
doa untuk mengantarnya pulang.
—ooo—
Pemakaman itu berlangsung
di antara gema hari raya.
Tanah dibuka,
dan dunia Ardi
ditutup perlahan.
Ia menaburkan bunga di pusara
tangisan tak lagi bersuara
Air mata tak lagi bisa mengobati
Luka itu tetap ada,
menganga
di tengah dunia yang bersuka cita.
Lebaran bagi Ardi
bukan lagi kemenangan.
Ia adalah hari
ketika segalanya
diambil dalam satu waktu.
Takbir tetap berkumandang,
namun di telinganya
ia pecah menjadi retak
diam,
menetap,
dan tak pernah benar-benar hilang.
Catatan:
(1)https://www.instagram.com/reel/DWLQ86uDPey/?igsh=MWp4YXBuODFtNnd6dQ==
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini










