Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan malas? Apakah malas hanya berarti tidak bekerja, tidak mencari uang, atau tidak bergerak secara fisik?
Pemahaman seperti itu terlalu sempit.
Hari ini, kita hidup dalam sistem yang mengukur rajin atau tidaknya seseorang hanya dari seberapa keras ia bekerja secara fisik, seberapa lama ia menghabiskan waktu untuk bekerja, dan seberapa besar ia berkontribusi pada mesin ekonomi.
Namun pertanyaannya: bekerja untuk siapa, dan untuk kepentingan siapa?
Dalam sistem Kapitalisme, manusia sering kali tidak lagi menjadi subjek yang merdeka, melainkan bagian dari mesin produksi. Ia bekerja, tetapi bukan untuk membangun dirinya. Ia bergerak, tetapi tidak menentukan arah. Ia rajin, tetapi kehilangan makna.
Di sinilah letak kesalahpahaman besar itu. Tidak semua yang tampak “tidak bekerja keras” adalah malas. Banyak orang sesungguhnya bukan malas, melainkan dibatasi, dimiskinkan, dan dibodohi oleh sistem yang tidak memberi ruang untuk berkembang.
Ketika pendidikan hanya mencetak pekerja, bukan pemikir,. Ketika ekonomi hanya membuka ruang bagi tenaga, bukan gagasan. Maka manusia perlahan kehilangan kemampuannya untuk berkarya.
Padahal, berkarya adalah hakikat manusia. Seorang manusia yang bekerja hanya untuk bertahan hidup, tanpa ruang untuk berpikir dan mencipta, pada akhirnya tidak berbeda jauh dari alat. Ia hidup, tetapi tidak sepenuhnya merdeka.
Inilah yang pernah diingatkan oleh Soekarno, bahwa kemerdekaan bukan hanya soal lepas dari penjajahan fisik, tetapi juga terbebas dari ketergantungan ekonomi dan penjajahan cara berpikir. Bangsa yang merdeka seharusnya tidak menjadi kuli di negeri sendiri.
Hari ini, kita melihat perubahan besar tentang
cara kerja bergeser, teknologi berkembang, bahkan kerja bisa dilakukan dari mana saja. Namun perubahan ini tidak otomatis memerdekakan manusia. Jika pola pikirnya tetap sama, maka manusia hanya berpindah dari satu bentuk ketergantungan ke bentuk lainnya.
Ketergantungan pada energi, pada sistem global, pada struktur ekonomi yang tidak kita kendalikan Semua itu menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar kerja, tetapi kedaulatan.
Indonesia adalah bangsa yang kaya.
Kaya sumber daya, kaya potensi, kaya sumber daya manusia. Namun kekayaan itu tidak berarti jika rakyatnya hanya dididik untuk menjadi pekerja, bukan pencipta.
Karena itu, kita harus membedakan dengan jelas: antara malas adalah pilihan untuk tidak bertindak, tetapi dimiskinkan dan dibodohi adalah kondisi yang dipaksakan oleh sistem.
Keduanya tidak sama.
Cita-cita tentang Indonesia terhormat bukanlah tentang seberapa keras rakyatnya bekerja, tetapi tentang seberapa merdeka rakyatnya berpikir dan berkarya.
Indonesia terhormat adalah Indonesia yang:
tidak sekadar bekerja, tetapi mencipta
tidak sekadar mengikuti, tetapi menentukan arah
tidak sekadar bertahan hidup, tetapi memberi makna pada kehidupan
Sebab pada akhirnya, martabat sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa sibuk rakyatnya, melainkan dari seberapa besar kesadaran dan kemandirian yang dimilikinya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini










