Dengarkan Artikel
Oleh Ismaidar, S.Pd, M. Pd
Ketua Umum PW. PGMNI Aceh
Ketika bencana ekologis melanda Aceh, pada 26 November 2026, duka tidak hanya dirasakan oleh satu daerah saja. Musibah itu meninggalkan luka di berbagai wilayah. Rasa duka lara membuncah melihat rumah-rumah rusak, fasilitas umum hancur, dan banyak keluarga harus bertahan di tenda-tenda darurat dengan penuh keterbatasan.
Di tengah situasi itu, Punggawa Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) Aceh, yang saya diketuai mengambil langkah kemanusiaan. Bersama para pengurus dan relawan, bergerak menggalang dana serta bantuan dari berbagai pihak, baik dari dalam Aceh maupun dari luar daerah.
Bantuan yang terkumpul berupa beras, mie instan, air mineral, pakaian layak pakai, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan darurat lainnya. Semua itu disalurkan dengan satu tujuan: hadir untuk meringankan penderitaan masyarakat yang terdampak bencana.
Perjalanan kemanusiaan ini menempuh berbagai wilayah di Aceh, mulai dari Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, hingga Aceh Tamiang. Namun misi kemanusiaan tidak berhenti di wilayah pesisir dan timur saja. Bantuan juga diperluas ke wilayah tengah Aceh, yaitu Bener Meriah dan Aceh Tengah (Takengon).
Meskipun jalur darat menuju wilayah pegunungan sempat lumpuh total akibat longsor dan kerusakan jalan, semangat para relawan tidak pernah surut. Mereka menembus rintangan demi memastikan bantuan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selain menyalurkan bantuan logistik, para relawan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak korban bencana. Kegiatan trauma healing diadakan untuk membantu anak-anak mengurangi rasa takut dan kesedihan. Mereka juga menerima paket perlengkapan sekolah, buku, alat tulis, serta pakaian layak pakai, agar semangat belajar tetap terjaga meski berada dalam kondisi sulit.
Dari perjalanan panjang ini, muncul pelajaran berharga tentang arti berorganisasi. Bahwa berorganisasi tidak hanya soal struktur atau jabatan, tetapi tentang kebersamaan, kekompakan, dan empati. Semua anggota belajar merasakan penderitaan orang lain dan hadir untuk membantu, tanpa memandang jarak maupun kesulitan.
Bagi Punggawa Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI), perjalanan ini menjadi bukti bahwa kepedulian yang tulus dapat melintasi medan yang paling sulit sekalipun. Kepercayaan dari donatur, baik dalam maupun luar Aceh, tetap dijaga untuk menyalurkan bantuan hingga saat ini.
Dari tanah Aceh yang pernah dilanda duka, lahirlah sebuah keyakinan: selama hati bersatu dalam kepedulian, kemanusiaan akan selalu menemukan jalannya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
















