Dengarkan Artikel
Rethinking God
Oleh ReO Fiksiwan
“Sudah saatnya [bagi Islam] untuk memikul, bersama dengan semua tradisi budaya besar lainnya dengan risiko modern dari pengetahuan ilmiah.” — Mohammed Arkoun(1928-2010), Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers(1994).
Kemarin senja(24/2/26) dalam Webinar #68 Esoterika, Dr. Budhy Munawar Rachman, dosen filsafat di Driyarkara dan Paramadina, bersama Dr. Ahmad Gaus AF, mengajar di Swiss German
University (SGU), Tangerang, Banten, meresensi buku terbaru karya Reiner Emyot Ointoe: Tuhan dan Senjakala Kebudayaan(2025).
Diskusi ini membuka ruang refleksi kritis atas filsafat ontologi dan epistemologi ketuhanan, dengan pendekatan yang berbeda dari kedua pengampu.
Dr. Ahmad Gaus AF menyoroti tiga topik utama yang disajikan dalam buku, yang memberi perspektif fundamental tentang relasi antara Tuhan dan kebudayaan secara ontologis-epistemik.
Sementara itu, Dr. Budhy Munawar Rachman merumuskan sepuluh subtopik yang digelindingkan secara runtut dari 67 esai yang berkelindan dalam buku tersebut.
Diskusi diawali dengan gugatan mendasar: apakah Tuhan dapat dinalar secara rasional, dan bagaimana ujung pemaknaannya dapat dicapai melalui filsafat.
Sebagaimana tertulis dalam sinopsis, buku Tuhan dan Senjakala Kebudayaan sendiri merupakan refleksi filosofis yang luas mengenai relasi antara Tuhan, rasionalitas, dan kebudayaan dalam konteks krisis modern.
Reiner Ointoe memulai dengan pertanyaan ontologis dan epistemologis: apakah Tuhan dapat dipahami secara rasional, dan bagaimana manusia mengetahui serta memaknai keberadaan-Nya.
Melalui dialog dengan tradisi filsafat Barat dan Islam—dari Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Al-Ghazali, hingga Kant dan Heidegger—ia menempatkan persoalan ketuhanan bukan sebagai isu dogmatis, melainkan sebagai problem filosofis yang terbuka dan kritis.
📚 Artikel Terkait
Salah satu sumbangan utama buku ini adalah pembacaan historis terhadap evolusi konsep Tuhan.
Ointoe menunjukkan bahwa pemahaman manusia tentang Tuhan berkembang seiring dengan kesadaran moral, sosial, dan intelektual.
Namun, perubahan historis ini tidak meniadakan dimensi transendensi, melainkan menegaskan bahwa yang berubah adalah horizon pemahaman manusia, bukan realitas ontologis itu sendiri.
Dengan demikian, ia berusaha menghindari reduksionisme, baik yang bersifat sekularistik maupun fundamentalis.
Buku ini juga mengulas relasi antara sains dan agama.
Melalui dialog dengan pemikir seperti Paul Davies, Francis Collins, dan para kritikus agama modern, Ointoe berargumen bahwa konflik antara sains dan iman lebih merupakan benturan epistemologis daripada pertentangan ontologis.
Sains menjelaskan mekanisme dunia, sementara pertanyaan tentang Tuhan menyentuh dasar makna dan keberadaan.
Dengan kerangka ini, ia menolak ateisme saintistik yang mereduksi Tuhan menjadi hipotesis empiris, sekaligus menolak teologi anti-rasional yang menutup diri dari kritik.
Tema “senjakala kebudayaan” menjadi metafora sentral dalam membaca kondisi modernitas.
Ointoe melihat krisis global—baik moral, politik, maupun kultural—sebagai gejala kehilangan orientasi ontologis.
Kebudayaan yang tercerabut dari fondasi makna transenden cenderung jatuh pada komodifikasi, relativisme ekstrem, dan fragmentasi identitas.
Karena itu, buku ini mengusulkan perlunya pemulihan relasi antara Tuhan, rasionalitas, dan kebudayaan sebagai upaya menata kembali arah hidup manusia modern.
Secara keseluruhan, Tuhan dan Senjakala Kebudayaan bukan sekadar karya teologi atau kritik sosial, melainkan peta intelektual yang berusaha menjembatani metafisika klasik, kritik modern, dan krisis kontemporer.
Ia mengajak pembaca untuk berpikir melampaui polarisasi antara iman dan akal, antara tradisi dan modernitas.
Buku ini relevan sebagai bahan diskusi karena tidak menawarkan jawaban final, melainkan membuka ruang dialog reflektif tentang fondasi makna di tengah dunia yang semakin kompleks dan tidak pasti.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






