Dengarkan Artikel
Bagaimana sebuah buku abad ke-17 masih relevan di tengah era algoritma, media sosial, dan kecerdasan buatan?
Dalam episode bedah buku kali ini, kami mengupas secara mendalam Novum Organum, karya monumental Francis Bacon yang pertama kali terbit pada 1620. Buku ini bukan sekadar teks filsafat sains, melainkan deklarasi revolusi cara berpikir manusia.
Bacon menantang tradisi lama yang tunduk pada otoritas dan spekulasi. Ia menawarkan “alat baru” bagi akal manusia: metode berpikir berbasis observasi, eksperimen, dan disiplin intelektual. Di dalamnya, ia memperkenalkan konsep terkenal tentang Idola—bias-bias yang mengaburkan kebenaran—yang hingga hari ini terasa sangat aktual dalam menghadapi hoaks, polarisasi politik, dan manipulasi bahasa publik.
- Bedah buku ini tidak berhenti pada ringkasan isi. Kami membawanya lebih jauh:
- Menguji kritik terhadap metode induktif Bacon,
- Mengaitkannya dengan dinamika sosial-politik Indonesia,
Dan mempertanyakan kembali: apakah kita benar-benar telah membangun budaya berpikir yang kritis dan metodologis?
📚 Artikel Terkait
Di tengah demokrasi yang kerap dikuasai emosi dan slogan, membaca Novum Organum terasa seperti kembali ke titik nol: belajar bagaimana seharusnya manusia berpikir sebelum mengambil keputusan.
Episode ini adalah undangan untuk meragukan, memeriksa, dan membebaskan pikiran dari “berhala-berhala” modern.
Karena pada akhirnya, pertarungan terbesar bukanlah antar-ideologi, melainkan antara cara berpikir yang disiplin dan cara berpikir yang tergesa.
Selamat menyimak.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






