• Latest
Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka - db8eae47 a0d0 42ae 9a77 a33cfd771a1c | Aceh | Potret Online

Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka

Februari 13, 2026
IMG_0811

Krisis Moral dan Tantangan Martabat Perempuan di Indonesia

April 17, 2026
1644037c-9c07-459e-8bd0-1005ddefbd88

Euforia Otsus dan Kejelasan Dana TKD 824 Milyar Rupiah

April 17, 2026
beb4ab3b-53fa-4329-93c9-4af1acd5127d

Digitalisasi Wakaf Melalui e-AIW

April 17, 2026
a16e068a-f693-4165-8ec4-fa77c8ac85af

Madiun Mendunia: Para Perupa Cilik dari Kota Pecel Unjuk Gigi di Kancah Global

April 17, 2026
file_00000000ed1871fa885008c1f509199b

Puisi Esai April: Perjuangan Perempuan‎ Marwah Perempuan Yang Menolak Dijarah

April 17, 2026
ae101973-036d-4e7c-b508-990e61a5c5af

Kosong

April 17, 2026
IMG_0778

OTT Kepala Daerah dan Rapuhnya Demokrasi Lokal

April 17, 2026
fb4fd11e-159e-4ae3-acae-836dffc91dd8

Adab Bermunajat: Integrasi Kesucian Mental dan Fisik dalam Menghadap Sang Khalik

April 17, 2026
Jumat, April 17, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka

Redaksi by Redaksi
Februari 13, 2026
in Aceh, Tradisi, Tradisional
Reading Time: 4 mins read
0
Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka - db8eae47 a0d0 42ae 9a77 a33cfd771a1c | Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh: Siti Sarah

Minggu pagi di kampung selalu dimulai dengan bunyi yang sama: desir angin sawah, kokok ayam yang bersahutan, dan langkah-langkah pelan menuju dapur setelah subuh ditunaikan. Pagi itu, seperti biasa, aku menyempurnakan subuh dengan sunat fajar dan zikir yang agak panjang. Ada ketenangan yang tak tergantikan di waktu pagi. Di sela doa-doa yang lirih, aku sudah tahu hari itu bukan pagi biasa.

Sore sebelumnya, Bang Fadhlul—suamiku yang masih terhitung linto baro, pengantin baru yang dalam adat Aceh masih disapa dengan penuh hormat dan harapan—memberi kabar bahwa umong trieng purieh blang paya kajeut tabu bijeh. Sawah kami di Blang Paya sudah siap untuk disemai. 

Sebagai linto baro, kehadirannya di sawah bukan hanya bekerja, tetapi juga membawa nama baik keluarga. Ada semangat, ada harga diri, dan ada doa yang mengiringi setiap langkahnya di lumpur sawah. Sebuah kabar yang bagi sebagian orang mungkin sederhana, tetapi bagi keluarga kami, itu berarti satu hal, aku harus menyiapkan eungkhui-kueengkhui.

Di kampungku, setiap kali linto baro turun ke sawah untuk menyemai benih padi, dara baro lazim menyiapkan makanan khas ini. Eungkhui bukan sekadar penganan dari pisang dan tepung ketan. Ia adalah tanda syukur, doa yang dibungkus kelapa parut, dan jejak adat yang diwariskan turun-temurun.

Malamnya aku telah menyiapkan bahan, pisang yang sudah masak, tepung ketan, gula, dan kelapa. Dapur kayu membuat segalanya sedikit lebih repot. Api harus dijaga, kayu harus disusun rapi agar bara tak cepat padam. Setelah nasi tanak di periuk dan lauk sederhana—telur dadar serta asam kacang kesukaan keluarga—siap tersaji, aku pun mulai meracik adonan eungkhui.

Mamakku yang telah memasuki usia senja duduk memperhatikan. Senyumnya teduh, matanya menyimpan pengalaman panjang sebagai perempuan kampung yang setia menjaga adat. Sesekali ia berpetuah, seperti pagi-pagi sebelumnya.

“Kita perempuan, apa pun pekerjaan kita, tetap harus bangun pagi untuk menjemput rezeki. Malaikat bertebaran membagi rezeki di waktu pagi. Banyak keberkahan di sana.”

Petuah itu sederhana, tetapi selalu menemukan tempatnya di hati.

“Gimana bahan-bahannya, sudah siap semua?” tanyanya.

“Iya, Mak.”

“Kajeut ku u aju.” (sudah bisa kukur kelapa)

“Get, Mak.” (baik Mak)

Dengan cekatan mamak mengupas pisang, menghancurkannya menggunakan gelas hingga lembut. Tepung ketan, gula, dan sedikit garam ditambahkan. Adonan diaduk perlahan, penuh ketelatenan. Aku menyiapkan dandang pengukus, mengikuti setiap arahan seperti murid yang tak ingin tertinggal satu pelajaran pun.

Adonan dibentuk bulatan sebesar bola pimpong, lalu dipipihkan. Setiap lapisan di saringan dandang dipisahkan dengan kelapa parut agar tak lengket. Kami bekerja tanpa banyak kata. Ada bahasa yang tak terucap di antara kami. Bahasa perempuan yang tahu bahwa menjaga dapur berarti menjaga banyak hal—keluarga, doa, dan marwah serta tradisi leluhur.

Sementara eungkhui masih di atas dapur, aku menyiapkan kopi dan teh untuk sekitar sepuluh orang. Di sawah nanti, para lelaki akan bekerja bersama. Menyemai benih tak pernah dilakukan sendiri. Ada gotong royong, ada tawa, ada cerita yang mengalir di antara lumpur dan harapan.

Ketika matang, eungkhui disusun dalam rantang yang sudah dialasi daun pisang di setiap tingkatnya. Aromanya hangat, berpadu wangi kelapa dan pisang yang manis alami. Aku membawa rantang itu bersama kopi, gelas, dan beberapa lembar daun pisang untuk alas makan.

Tak lama kemudian, Bang Fadhlul berangkat ke sawah. Dari halaman rumah, aku membayangkan ia menebar benih dengan hati riang, dibantu para tetangga. Benih-benih itu akan tumbuh perlahan, seperti doa-doa yang tak pernah putus kami panjatkan.

Tradisi menyemai benih dengan eungkhui memang kian jarang dijumpai. Modernisasi pelan-pelan menggeser banyak kebiasaan lama. Makanan praktis menggantikan kudapan tradisi. Gotong royong mulai disibukkan urusan masing-masing. Namun, di keluarga kami, eungkhui masih dipertahankan.

Sebab kami percaya, adat bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengikat identitas. Seperti pepatah Aceh yang kerap diulang orang tua, “Gadoh aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat ta mita.” Hilang anak ada kuburannya, hilang adat ke mana hendak dicari.

Di tengah perubahan zaman, mungkin yang bisa kita jaga bukan hanya hasil panen, tetapi juga cara kita menanamnya. Di situlah adat menemukan maknanya. Kesediaan untuk terus merawat peninggalan kebiasaan tetua. Berharap hari ini masih ada penerus yang mau belajar dan mempertahankan warisan ini.

Gampong Langga, Februari 2026

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka - 4fb7fff0 6c1c 46f6 8034 8ec06fe90625 | Aceh | Potret Online

Gerakan Self Love, Disiplin Diri Sebagai Benteng Kehidupan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com