HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Orangtuaku dan Keluargaku Tidur dan Menginap di Jalan yang Lembab

Redaksi by Redaksi
Januari 29, 2026
in #Korban Bencana, Aceh, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana
Reading Time: 5 mins read
0
Orangtuaku dan Keluargaku Tidur dan Menginap di Jalan yang Lembab
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rahmiayana 

Gampong Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026

Banjir bandang dan longsor yang menerjang  sejumlah kabupaten di Aceh, telah ikut memorak-poranda kampung kami,  Gampong Pantee Tambong , yang berada di kecamatan Pantee Bidari , kabupaten Aceh  Timur. Peristiwa yang memilukan itu terjadi di akhir November 2025 lalu.

Kejadian yang menyisakan banyak cerita, kehilangan, sedih bahkan trauma yang mendalam bagi para korban. Aku merasa sangat sedih menyakasikan dan merasakan penderitaan akibat bencana yang memilukan itu. 

Aku memang tidak langsung berenang dalam  arus banjir yang sangat merusak dan menghanyutkan rumah dan bangunan serta kayu gelondongan dan lumpur itu. Karena pada hari itu aku masih sedang bekerja sebagai karyawan di POTRET Gallery Banda Aceh. Aku kala itu tidak menyangka bahwa bencana itu sebesar dan separah itu. Sehingga aku tidak tahu seperti apa nasib orangtuaku yang tinggal di kampungku, gampong Pante Tambong, Pante Bidari Aceh Timur.

Aku berusaha mencari tahu keadaan orangtuaku. Mulai dari tanggal 25 November 2025 aku menelepon orang tua di rumah dengan penuh kegelisahan seorang anak terhadap nasib kedua orang tua yang berada di tengah bencana. 

Hari  itu  akunmemang tergerak hati ingin menelpon ke rumah. Padahal sebelumnya aku tidak pernah menelepon pada waktu siang 13:00, tapi entah mengapa hari itu  tergerak hatiku untuk telpon. aat itu juga telpon jun diangkat oleh ibuku. Seperti biasa, saya menanyakan kabar, dan saat itu juga  ibu berkata, “ Rahmi nyoo ie ka di ek “ ( Rahmi, ini air sudah naik). Mak teungoh peubereh barang, peu ek u ateuh para ” (Rahmi ini air udah naik ini mama lagi beres barang untuk dinaikkan ke atap ).

Tiba tiba, tak lama setelah itu telponnnya mati, aku mencoba untuk menghubungi kembali, tapii tidak bisa.  Hatiku mulai tidak tenang , aku mencoba hubungi kembali di pukul  16:00. Sama juga,  tidak bisa terhubung. Kepanikan mulai ada,  tapi aku mencoba untuk berfikir yang baik baik. 

Besoknya 26 November 2025 akun mencoba telepon kembali,  tapii tetap tidak bisa juga.  Tanggal 27,28,29,30 aku terus menanyakan kabar ke teman teman ,tetangga dan saudara,  tapi hasilnya nihil. Di saat itu hatiku merasa tidak tenang sekali, apalagi kamii juga hilang jaringan.

Mungkin akibat banjir bandang yang menimpa saudara kita, jadi di tempat kami juga mati lampu atau listrik padam dan tidak ada jaringan. Oleh sebab itu komunikasi dengan orang tua dan lainnya juga terputus .

Merantau di kampung orang bukan lah hal yang mudah untukku ,apalagi dengan kondisi orang tua belum ada kabar sama sekalii di kampung,dengan berat hati aku memutuskan pulang di tanggal 1 Desember 2026. Untuk pulang pun butuh perjuangan yang sangat extra hati hati, karena belum ada jaringan untuk komunikasi,  bahkan untuk ingin pulang saja kita susah. 

Singkat cerita, aku dan teman kerjaku Masyitah berangkat dari  pukul 23:30. Kami naik mobil hi Ace. Pejalanan ke Lhok Nibong, biasanya ditepuh lebih kurang 7-8 jam. Namun perjalanan ini lebih lama, karena banyak jalan dan rusak dan jembatan yang terputus serta jalan yang tertimbun lumpur. Di sepanjang perjalanan aku melihat banyak kota yang tedampak banjir.  

ADVERTISEMENT

Sesampai di Kuta Blang pada pagi hari. Kami melihat banyak sekali orang yang menunggu giliran untuk menyeberangi sungai dengan perahu atau boat kecil dengan satu mesin. Perahu yang sangat kecil,  hanya muat beberapa orang. Itupun tidak memakai baju pelampung. Padahal mengarungi sungai yang sangat deras/ Dengan hati yang sangat ketakutan ,namun semua ketakutan itu aku hilangkan demi ingin bertemu dengan orangg tua yang belum ada kabar sama sekali. 

Setelah menyeberang aku naik mobill lain lagi karena jarak Banda Aceh dengan kampungku itu sekitaran 7_8 Jam ,harusnya sudah sampai. Namun karena banjir melanda, jadi aku ke Lhok Nibong  baru bisa sampai pada  12,30  WIB.  Sebelum itu aku sudah menelpon adekku yang di Langsa (cowok) untuk pulang bareng ke rumah. Takutnya masih ada banjir, jadi kalo berdua tidak begitu takut untuk pulang. 

Di Lhok Nibong  pada 2 Desember 2025 , sambil menunggu Adekku Rajudin Nuri Fahmi namanya, aku mencari makan ke sana ke sini, tapi tidak ada makanan ,karena semua toko dan usaha orang hancur. Aku duduk kembali di masjid Baiturrahim Lhok Nibong dengan perut yang kosong. Tidak lama setalah itu ada lambaian tangan seorang adek yang membawa pulang satu karung beras kecil untuk orang tuanya yang sampai saat itu kamii belum tahu bagaimana kabar ayah dan ibu serta adek di sana apakah mereka baik baik saja  atau kah mereka bagaimana. Dengan perasaan yang bercampur aduk kami akhirnya melanjutkan perjalanan masuk ke dalam kampung yang sangat dalam. Di perjalanan kami jalan  kaki  selama 5 jam, melawati jalan -jalan yang sulit, penuh air dan berlumpur. Tidak ada satu pun angkutan pun yang dapat kami tumpangi, karena semua akses transportasi lumpuh. Tidak juga ada sepeda motor yang lalu lalang. Bahkan orang-orang pun  tak ada yang lalu lalang seperti dulu. Sangat sepi, karena para penduduk sudah ke tempat pengungsian.

Maka, selama di perlajalanan berjalan kaki selama berjam-jam itu, kami menyaksikan langsung kayu – kayu yang berhamburan,dinding yang pecah, bangunan roboh dan lumpur bercampur air menghancurkan seluruh isi rumah warga sekitar, walau begitu tetap kami menembus banjir lumpur tebal demi bisa berjumpa dengan orang tua. Kondisi yang kami lalui sangatlah licin dan sangat berbahaya bagi pengguna jalan .

Meski berisiko,  kami tetap melintasi jalur tersebut. Betapa sulitnya  proses evakuasi karena akses jalan berlumpur total. Kami terjebak di perjalanan itu. Dari siang sampai  magrib, baru sampai atau tiba  ke rumah yang telah luluh lantak diterjang banjir.

Ya Allah, betapa terenyuh hati kami ketika tiba di lokasi rumah yang hancur, melihat orang tua tidur di jalan ,yang beralas tanah di bawah tenda yang lusuh.  Semakin  sedih, ternyata  mereka tidak ada makanan apapun. Seketika air mata kamii jatuh tidak tertahankan .

Sambil menatap bingung melihat rumah sederhana kami yang dulu kami tempati kini tersisa hanyalah tanah dan  puing- puiings Sisa banjir.  Tak hanya hilang rumah, tai juga kebun yang merupakan mata pencaharian  orang tua dan para petani. Lahan sawah dan kebun pun tertutup rata dengan tanah sehingga ekonomi masyarakat sulit.

Sungguh tak pernah terbayangkan  bencana sedasyat itu menghantam desa kami. Saat ini kami hanya bisa bersyukur masih diberikan keselamatan terhadap keluarga kami, meskipun rumah dan  segalanya hilang, tidak tahu ke mana.

Ya, kini kampung kami menjadi sebuah kampung yang tinggal puing puing di balik reruntuhan itu.  Kami sangat sedih melihat kehidupan  dan mengalami bencana seperti ini. Apalagi kedua orang tua yang selama ini bergantung hidup dari hasil pertanian  sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa. Bayangkanlah, bagaimana kami bisa bertahan hidup? Bagaimana nasib adikku yah masih kecil, harus tidur di tempat yang sangat tidak layak. Ya, Allah, kepada Mu aku memohon, bantulah kami.

Alhamdulilah kini kami telah berkumpul dengan ayah dan ibu, walau harus hidup di bawah tenda. Dari ini, kami terus menyaksikan langsung kayu kayu yang berhamburan,dinding yang pecah, bangunan roboh dan lumpur bercampur air menghancurkan seluruh isi rumah warga sekitar, walau begitu tetap kami menembus banjir lumpur tebal  hingga kembali berkumpul dengan keluarga.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 308x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 229x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 179x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

​TEOLOGI LIMBAH
Puisi

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Artikel

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala
Dinas Koperasi

Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala

Maret 18, 2026
Next Post
Puisi-Puisi Cut Putri Dinata

Mom, Ayo Relaksasi untuk kewarasanmu

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com