Dengarkan Artikel
Oleh Rahmiayana
Gampong Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur
Banjir bandang dan longsor yang menerjang sejumlah kabupaten di Aceh, telah ikut memorak-poranda kampung kami, Gampong Pantee Tambong , yang berada di kecamatan Pantee Bidari , kabupaten Aceh Timur. Peristiwa yang memilukan itu terjadi di akhir November 2025 lalu.
Kejadian yang menyisakan banyak cerita, kehilangan, sedih bahkan trauma yang mendalam bagi para korban. Aku merasa sangat sedih menyakasikan dan merasakan penderitaan akibat bencana yang memilukan itu.
Aku memang tidak langsung berenang dalam arus banjir yang sangat merusak dan menghanyutkan rumah dan bangunan serta kayu gelondongan dan lumpur itu. Karena pada hari itu aku masih sedang bekerja sebagai karyawan di POTRET Gallery Banda Aceh. Aku kala itu tidak menyangka bahwa bencana itu sebesar dan separah itu. Sehingga aku tidak tahu seperti apa nasib orangtuaku yang tinggal di kampungku, gampong Pante Tambong, Pante Bidari Aceh Timur.
Aku berusaha mencari tahu keadaan orangtuaku. Mulai dari tanggal 25 November 2025 aku menelepon orang tua di rumah dengan penuh kegelisahan seorang anak terhadap nasib kedua orang tua yang berada di tengah bencana.
Hari itu akunmemang tergerak hati ingin menelpon ke rumah. Padahal sebelumnya aku tidak pernah menelepon pada waktu siang 13:00, tapi entah mengapa hari itu tergerak hatiku untuk telpon. aat itu juga telpon jun diangkat oleh ibuku. Seperti biasa, saya menanyakan kabar, dan saat itu juga ibu berkata, “ Rahmi nyoo ie ka di ek “ ( Rahmi, ini air sudah naik). Mak teungoh peubereh barang, peu ek u ateuh para ” (Rahmi ini air udah naik ini mama lagi beres barang untuk dinaikkan ke atap ).
Tiba tiba, tak lama setelah itu telponnnya mati, aku mencoba untuk menghubungi kembali, tapii tidak bisa. Hatiku mulai tidak tenang , aku mencoba hubungi kembali di pukul 16:00. Sama juga, tidak bisa terhubung. Kepanikan mulai ada, tapi aku mencoba untuk berfikir yang baik baik.
Besoknya 26 November 2025 akun mencoba telepon kembali, tapii tetap tidak bisa juga. Tanggal 27,28,29,30 aku terus menanyakan kabar ke teman teman ,tetangga dan saudara, tapi hasilnya nihil. Di saat itu hatiku merasa tidak tenang sekali, apalagi kamii juga hilang jaringan.
Mungkin akibat banjir bandang yang menimpa saudara kita, jadi di tempat kami juga mati lampu atau listrik padam dan tidak ada jaringan. Oleh sebab itu komunikasi dengan orang tua dan lainnya juga terputus .
📚 Artikel Terkait
Merantau di kampung orang bukan lah hal yang mudah untukku ,apalagi dengan kondisi orang tua belum ada kabar sama sekalii di kampung,dengan berat hati aku memutuskan pulang di tanggal 1 Desember 2026. Untuk pulang pun butuh perjuangan yang sangat extra hati hati, karena belum ada jaringan untuk komunikasi, bahkan untuk ingin pulang saja kita susah.
Singkat cerita, aku dan teman kerjaku Masyitah berangkat dari pukul 23:30. Kami naik mobil hi Ace. Pejalanan ke Lhok Nibong, biasanya ditepuh lebih kurang 7-8 jam. Namun perjalanan ini lebih lama, karena banyak jalan dan rusak dan jembatan yang terputus serta jalan yang tertimbun lumpur. Di sepanjang perjalanan aku melihat banyak kota yang tedampak banjir.
Sesampai di Kuta Blang pada pagi hari. Kami melihat banyak sekali orang yang menunggu giliran untuk menyeberangi sungai dengan perahu atau boat kecil dengan satu mesin. Perahu yang sangat kecil, hanya muat beberapa orang. Itupun tidak memakai baju pelampung. Padahal mengarungi sungai yang sangat deras/ Dengan hati yang sangat ketakutan ,namun semua ketakutan itu aku hilangkan demi ingin bertemu dengan orangg tua yang belum ada kabar sama sekali.
Setelah menyeberang aku naik mobill lain lagi karena jarak Banda Aceh dengan kampungku itu sekitaran 7_8 Jam ,harusnya sudah sampai. Namun karena banjir melanda, jadi aku ke Lhok Nibong baru bisa sampai pada 12,30 WIB. Sebelum itu aku sudah menelpon adekku yang di Langsa (cowok) untuk pulang bareng ke rumah. Takutnya masih ada banjir, jadi kalo berdua tidak begitu takut untuk pulang.
Di Lhok Nibong pada 2 Desember 2025 , sambil menunggu Adekku Rajudin Nuri Fahmi namanya, aku mencari makan ke sana ke sini, tapi tidak ada makanan ,karena semua toko dan usaha orang hancur. Aku duduk kembali di masjid Baiturrahim Lhok Nibong dengan perut yang kosong. Tidak lama setalah itu ada lambaian tangan seorang adek yang membawa pulang satu karung beras kecil untuk orang tuanya yang sampai saat itu kamii belum tahu bagaimana kabar ayah dan ibu serta adek di sana apakah mereka baik baik saja atau kah mereka bagaimana. Dengan perasaan yang bercampur aduk kami akhirnya melanjutkan perjalanan masuk ke dalam kampung yang sangat dalam. Di perjalanan kami jalan kaki selama 5 jam, melawati jalan -jalan yang sulit, penuh air dan berlumpur. Tidak ada satu pun angkutan pun yang dapat kami tumpangi, karena semua akses transportasi lumpuh. Tidak juga ada sepeda motor yang lalu lalang. Bahkan orang-orang pun tak ada yang lalu lalang seperti dulu. Sangat sepi, karena para penduduk sudah ke tempat pengungsian.
Maka, selama di perlajalanan berjalan kaki selama berjam-jam itu, kami menyaksikan langsung kayu – kayu yang berhamburan,dinding yang pecah, bangunan roboh dan lumpur bercampur air menghancurkan seluruh isi rumah warga sekitar, walau begitu tetap kami menembus banjir lumpur tebal demi bisa berjumpa dengan orang tua. Kondisi yang kami lalui sangatlah licin dan sangat berbahaya bagi pengguna jalan .
Meski berisiko, kami tetap melintasi jalur tersebut. Betapa sulitnya proses evakuasi karena akses jalan berlumpur total. Kami terjebak di perjalanan itu. Dari siang sampai magrib, baru sampai atau tiba ke rumah yang telah luluh lantak diterjang banjir.
Ya Allah, betapa terenyuh hati kami ketika tiba di lokasi rumah yang hancur, melihat orang tua tidur di jalan ,yang beralas tanah di bawah tenda yang lusuh. Semakin sedih, ternyata mereka tidak ada makanan apapun. Seketika air mata kamii jatuh tidak tertahankan .
Sambil menatap bingung melihat rumah sederhana kami yang dulu kami tempati kini tersisa hanyalah tanah dan puing- puiings Sisa banjir. Tak hanya hilang rumah, tai juga kebun yang merupakan mata pencaharian orang tua dan para petani. Lahan sawah dan kebun pun tertutup rata dengan tanah sehingga ekonomi masyarakat sulit.
Sungguh tak pernah terbayangkan bencana sedasyat itu menghantam desa kami. Saat ini kami hanya bisa bersyukur masih diberikan keselamatan terhadap keluarga kami, meskipun rumah dan segalanya hilang, tidak tahu ke mana.
Ya, kini kampung kami menjadi sebuah kampung yang tinggal puing puing di balik reruntuhan itu. Kami sangat sedih melihat kehidupan dan mengalami bencana seperti ini. Apalagi kedua orang tua yang selama ini bergantung hidup dari hasil pertanian sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa. Bayangkanlah, bagaimana kami bisa bertahan hidup? Bagaimana nasib adikku yah masih kecil, harus tidur di tempat yang sangat tidak layak. Ya, Allah, kepada Mu aku memohon, bantulah kami.
Alhamdulilah kini kami telah berkumpul dengan ayah dan ibu, walau harus hidup di bawah tenda. Dari ini, kami terus menyaksikan langsung kayu kayu yang berhamburan,dinding yang pecah, bangunan roboh dan lumpur bercampur air menghancurkan seluruh isi rumah warga sekitar, walau begitu tetap kami menembus banjir lumpur tebal hingga kembali berkumpul dengan keluarga.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





