POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Penangkapan Nicolas Maduro dan Wajah Baru Geopolitik Global

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
January 11, 2026
Penangkapan Nicolas Maduro dan Wajah Baru Geopolitik Global
🔊

Dengarkan Artikel

Kedaulatan Negara, Perang Melawan Narkoba, dan Tantangan Dunia Multipolar

Oleh: Novita Sari Yahya

Pendahuluan

Dunia internasional dikejutkan oleh peristiwa luar biasa pada awal Januari 2026, ketika Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat untuk diadili atas tuduhan keterlibatan dalam jaringan peredaran narkotika internasional. Penangkapan seorang kepala negara berdaulat oleh negara lain bukan sekadar peristiwa hukum, melainkan titik balik penting dalam dinamika geopolitik global. Tindakan ini memicu perdebatan luas mengenai kedaulatan negara, supremasi hukum internasional, serta peran Amerika Serikat sebagai kekuatan superpower di era dunia multipolar.

Peristiwa tersebut tidak berdiri sendiri. Setelah penangkapan Maduro, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka melontarkan ancaman serupa terhadap negara-negara lain di Amerika Latin, khususnya Meksiko dan Kolombia, yang dituding gagal memberantas kartel narkoba. Ancaman ini segera menimbulkan efek politik yang nyata, terutama di Kolombia, yang kemudian menyatakan kesiapan untuk memperketat perang melawan narkotika.

Tulisan ini berupaya mengulas peristiwa tersebut secara komprehensif dengan memisahkan antara fakta hukum, narasi politik, serta implikasi geopolitik yang lebih luas. Selain itu, artikel ini juga mengajukan refleksi penting: sejauh mana stabilitas internal suatu negara dapat menjadi tameng terhadap tekanan geopolitik eksternal, dan bagaimana relevansinya bagi Indonesia.

Latar Belakang Penangkapan Nicolás Maduro

Pada 3 Januari 2026, pasukan khusus Amerika Serikat dilaporkan melakukan operasi penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro di Caracas. Maduro kemudian dipindahkan ke wilayah Amerika Serikat dan dihadapkan ke pengadilan federal di New York. Pemerintah AS menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan berdasarkan dakwaan lama terkait keterlibatan Maduro dalam jaringan narkotika internasional yang dikenal sebagai Cartel de los Soles.

Penangkapan ini segera memicu reaksi keras dari berbagai negara dan organisasi internasional. Banyak pihak menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip kedaulatan negara sebagaimana diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Meski Amerika Serikat berargumen bahwa penangkapan dilakukan demi penegakan hukum internasional dan perang melawan narkoba, langkah tersebut tetap dipandang sebagai preseden berbahaya dalam hubungan antarnegara.

Peristiwa ini mengingatkan dunia pada penangkapan Manuel Noriega, Presiden Panama, oleh Amerika Serikat pada 1989. Namun, dalam konteks global saat ini yang jauh lebih multipolar, dampaknya dinilai jauh lebih kompleks dan berisiko tinggi.

Tuduhan Narkotika dan Narasi Perang Melawan Narkoba

Tuduhan terhadap Nicolás Maduro sebenarnya bukan hal baru. Sejak 2020, Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah memasukkan nama Maduro dalam dakwaan terkait narkoterorisme dan keterlibatan dalam Cartel de los Soles. Kartel ini dituduh melibatkan oknum militer dan elite politik Venezuela dalam memfasilitasi peredaran kokain ke Amerika Serikat dan Eropa.

Namun, dalam proses hukum yang berkembang, sejumlah klaim tersebut mengalami pergeseran. Beberapa laporan menyebutkan bahwa narasi tentang kartel terstruktur yang dikendalikan langsung oleh Maduro mulai dipatahkan di pengadilan. Tuduhan kemudian lebih diarahkan pada adanya budaya korupsi sistemik dan pembiaran oleh negara, bukan komando langsung presiden.

Selain itu, berbagai laporan intelijen internasional juga menunjukkan bahwa Venezuela lebih berperan sebagai negara transit narkotika, bukan produsen utama. Fakta ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah perang melawan narkoba menjadi tujuan utama, atau justru menjadi legitimasi politik bagi intervensi geopolitik yang lebih luas, termasuk kepentingan energi dan pengaruh regional.

Ancaman terhadap Kolombiay dan Meksiko

Pasca penangkapan Maduro, Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu melakukan tindakan serupa terhadap negara-negara lain yang dianggap melindungi kartel narkoba. Kolombia dan Meksiko disebut secara eksplisit dalam pernyataan publik Trump.

📚 Artikel Terkait

Echoes of a Lost Justice

Negara Defisit, Rakyat Dijepit

Aku Berhenti Bekerja

Menunggu Mega, Red Sparks Melangkah ke Final

Reaksi kedua negara tersebut berbeda. Presiden Kolombia, Gustavo Petro, menyatakan kesiapan untuk memperkuat pemberantasan narkoba dan meningkatkan kerja sama internasional. Pernyataan ini dipandang sebagai respons pragmatis terhadap tekanan langsung dari Washington.

Sebaliknya, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum secara tegas menolak segala bentuk intervensi asing dan menegaskan prinsip kedaulatan nasional. Meksiko menilai bahwa perang melawan narkoba harus dilakukan melalui kerja sama setara, bukan ancaman militer sepihak.

Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa tekanan geopolitik dapat menghasilkan hasil yang berbeda tergantung pada posisi politik, kekuatan domestik, dan strategi diplomasi masing-masing negara.

Reaksi Internasional dan Tantangan Hukum Internasional

Penangkapan Maduro menuai keprihatinan luas dari komunitas internasional. Sejumlah negara, termasuk Tiongkok dan Rusia, mengecam tindakan Amerika Serikat sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga didesak untuk mengevaluasi legalitas tindakan tersebut.

Para pakar hukum internasional menilai bahwa penangkapan kepala negara tanpa mandat internasional dapat merusak tatanan hukum global. Jika praktik semacam ini dibiarkan, dunia berisiko memasuki era di mana hukum internasional digantikan oleh logika kekuatan, dan negara superpower bertindak sebagai “polisi dunia” secara sepihak.

Dalam konteks dunia multipolar, tindakan semacam ini juga berpotensi memicu eskalasi konflik dan memperlemah kepercayaan antarnegara.

Stabilitas Domestik dan Pelajaran dari Bhutan

Untuk memahami bagaimana suatu negara dapat meminimalkan tekanan geopolitik eksternal, contoh Bhutan sering dikemukakan. Bhutan dikenal sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia melalui konsep Gross National Happiness (GNH). Negara ini memiliki tingkat kriminalitas rendah, masyarakat yang tertib hukum, serta komitmen kuat terhadap pelestarian budaya dan lingkungan.

Meski Bhutan bukan kekuatan ekonomi atau militer, stabilitas internal dan tata kelola yang baik membuatnya jarang menjadi sasaran tekanan geopolitik langsung. Namun, penting dicatat bahwa ketahanan Bhutan tidak semata-mata disebabkan oleh GNH, melainkan juga faktor geografis dan posisi strategisnya di antara India dan Tiongkok.

Dengan demikian, Bhutan dapat dijadikan ilustrasi, bukan bukti kausal, bahwa stabilitas domestik dan minimnya kriminalitas dapat memperkecil celah intervensi eksternal.

Relevansi bagi Indonesia

Pertanyaan penting kemudian muncul: bagaimana dengan Indonesia?

Sebagai negara besar dengan posisi strategis, Indonesia tidak kebal terhadap dinamika geopolitik global. Indonesia juga menghadapi tantangan serius dalam pemberantasan narkoba dan kejahatan transnasional. Oleh karena itu, menjaga supremasi hukum, memperkuat institusi penegak hukum, dan memastikan tidak adanya pembiaran terhadap kejahatan terorganisasi menjadi sangat krusial.

Di sisi lain, Indonesia memiliki modal kuat berupa prinsip politik luar negeri bebas aktif, komitmen terhadap non-intervensi, serta peran aktif dalam forum multilateral seperti ASEAN dan PBB. Prinsip-prinsip ini dapat menjadi landasan untuk menjaga kedaulatan di tengah tekanan global yang semakin kompleks.

Kesimpulan

Penangkapan Nicolás Maduro bukan sekadar peristiwa hukum, melainkan cermin dari perubahan wajah geopolitik global. Di satu sisi, perang melawan narkoba menjadi isu nyata yang membutuhkan kerja sama internasional. Di sisi lain, penggunaan isu tersebut sebagai legitimasi intervensi sepihak berpotensi merusak tatanan hukum internasional.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, bahwa stabilitas domestik, ketertiban hukum, dan tata kelola yang baik bukan hanya kebutuhan internal, tetapi juga benteng utama dalam menjaga kedaulatan di era dunia multipolar.

Daftar Referensi

  1. Kontan.co.id. Amerika Serikat di Era Trump 2.0: Dari Polisi Dunia ke Preman Dunia.
    https://amp.kontan.co.id/news/amerika-serikat-di-era-trump-20-csis-dari-polisi-dunia-jadi-preman-dunia
  2. Tempo.co. Trump Ancam Kolombia dan Meksiko Usai Penculikan Maduro.
    https://www.tempo.co/internasional/trump-ancam-kolombia-dan-meksiko-usai-penculikan-maduro-2104471
  3. Antara News. Usai Trump Ancam, Kolombia Nyatakan Siap Berantas Narkoba.
    https://m.antaranews.com/berita/5335744/usai-trump-ancam-petro-kolombia-nyatakan-siap-berantas-narkoba
  4. SinPo.id. Klaim Cartel de los Soles Dipatahkan di Pengadilan.
    https://sinpo.id/detail/112363/klaim-cartel-de-los-soles-dipatahkan-di-pengadilan-alasan-utama-trump-gulingkan-maduro-mulai-runtuh
  5. Kementerian Luar Negeri Bhutan. Gross National Happiness.
    https://www.mfa.gov.bt/rbedelhi/bhutan-at-glance/gross-national-happiness
  6. IDN Times. Fakta tentang Bhutan, Negara Paling Bahagia di Dunia.
    https://www.idntimes.com/science/discovery/fakta-mengejutkan-tentang-bhutan-negara-paling-bahagia-di-dunia-c1c2-01-1tp48-zvgmjp
  7. Liputan6.com. Negara-Negara dengan Suasana Paling Damai di Dunia.
    https://www.liputan6.com/citizen6/read/2329152/3-negara-dengan-suasana-paling-damai-di-dunia

Novita sari yahya
Penulis dan peneliti

Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
    Pemesanan Buku: 089520018812

Lagu Rebel Hearts

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam?

Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00