POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Aceh dan Luka Panjang Hak Asasi Manusia

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
January 5, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

:

Dari Kolonialisme hingga Abad ke-21

Oleh: Dayan Abdurrahman

Pemerhati Kebangsaan dan Hak Asasi Manusia

Tulisan ini lahir bukan dari kemarahan sesaat, melainkan dari ingatan panjang tentang luka yang tak pernah sepenuhnya sembuh. Aceh, sebuah bangsa dengan sejarah tua dan peradaban kuat, telah mengalami pelanggaran hak asasi manusia secara berulang lintas zaman—oleh manusia, oleh kekuasaan, dan oleh bencana alam yang diperparah oleh kelalaian manusia. Pertanyaan yang terus menggema hingga hari ini adalah: sampai kapan Aceh harus menanggung penderitaan tanpa pernah sungguh-sungguh diperlakukan sebagai subjek kemanusiaan yang utuh?

Sejak masa kolonial Eropa, Aceh telah menjadi sasaran kekerasan sistematis. Perang Aceh bukan sekadar konflik wilayah, melainkan usaha penaklukan terhadap sebuah bangsa yang berdaulat. Kampung dibakar, penduduk sipil dibunuh, perempuan dan anak-anak menjadi korban, dan identitas Aceh dikriminalisasi. Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk paling awal, jauh sebelum dunia mengenal istilah HAM secara formal. Namun Aceh bertahan, bukan karena kekuatan senjata semata, melainkan karena keyakinan akan martabatnya sebagai bangsa.

Ketika kolonialisme runtuh dan Republik Indonesia diproklamasikan, Aceh justru memilih berdiri di barisan depan. Rakyat Aceh menyumbangkan emas, logistik, dan dukungan politik untuk kemerdekaan Indonesia. Pesawat pertama Republik lahir dari pengorbanan Aceh. Dalam bahasa kebangsaan, Aceh adalah modal awal kedaulatan Indonesia. Namun sejarah kemudian mencatat ironi yang pahit: pengorbanan itu tidak dibalas dengan keadilan.

Pada masa awal kemerdekaan, aspirasi politik Aceh tidak didengar secara jujur. Keinginan untuk mengatur diri sendiri, menjaga identitas, dan menentukan arah pembangunan dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai hak. Aceh direduksi dari bangsa menjadi sekadar daerah administratif. Di sinilah luka pertama dalam relasi Aceh–Republik mulai menganga.

Pada era Orde Baru, luka itu berubah menjadi trauma kolektif. Dengan dalih stabilitas nasional dan keamanan negara, Aceh dijadikan Daerah Operasi Militer. Negara hadir dengan senjata, bukan dengan perlindungan. Pembunuhan di luar hukum, penyiksaan, penghilangan paksa, pemerkosaan, dan teror psikologis menjadi kenyataan hidup ribuan warga sipil. Pada saat yang sama, sumber daya alam Aceh—gas dan kekayaan bumi lainnya—dieksploitasi besar-besaran untuk kepentingan pusat kekuasaan.

Aceh memberi kekayaan, tetapi menerima pelanggaran HAM. Dunia internasional mengetahui, tetapi memilih diam. Moral global tidak bekerja ketika pelanggaran terjadi di wilayah yang tidak mengganggu kepentingan geopolitik besar. Aceh kembali menjadi korban yang tak dianggap prioritas.

📚 Artikel Terkait

CAHAYA MOTIVASI KENANGAN DI PESANTREN

Puisi-Puisi Thomas Krispianus Swalar

Ruman Aceh Tak Sekadar Taman Bacaan Berjalan

Taty Westhoff, Diaspora Minang di Belanda Menggugat Artis yang Melecehkan Budaya Minangkabau

Reformasi 1998 membawa harapan baru. Demokrasi dijanjikan, HAM dijunjung, dan militer direformasi. Namun bagi Aceh, perubahan itu tidak sepenuhnya nyata. Kekerasan masih berlangsung, pendekatan bersenjata tetap dominan, dan aspirasi politik tetap dicurigai. Demokrasi tanpa keberanian mengakui kesalahan sejarah berubah menjadi prosedur tanpa keadilan.

Tragedi terbesar dalam sejarah modern Aceh terjadi pada 26 Desember 2004. Tsunami merenggut lebih dari 150.000 jiwa. Ini adalah bencana alam, tetapi juga tragedi kemanusiaan. Aceh kembali menjadi korban dalam skala yang mengguncang dunia. Bantuan internasional datang, kamera media menyorot, dan akhirnya perdamaian diproklamasikan antara Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia.

Namun perdamaian itu lahir lebih karena tekanan tragedi global daripada kesadaran moral negara. Aceh memperoleh otonomi khusus—sebuah status yang hingga kini dipertanyakan. Otonomi itu tidak sepenuhnya transparan, tidak sepenuhnya akuntabel, dan sering kali tidak berpihak pada semangat perjanjian damai. Keadilan transisional tidak dijalankan secara tuntas. Kebenaran tidak dibuka sepenuhnya. Korban diminta melupakan tanpa pernah benar-benar dipulihkan.

Hari ini, Aceh kembali menderita. Kali ini melalui bencana ekologi: banjir bandang, longsor, kerusakan hutan, dan krisis lingkungan yang berulang. Bencana ini bukan semata-mata kehendak alam, melainkan akibat dari kebijakan, eksploitasi, dan kelalaian yang disengaja. Namun negara menolak mengakui ini sebagai kejahatan struktural. Status bencana dipersempit, bantuan diberikan seadanya, dan penderitaan dibiarkan berulang dari tahun ke tahun.

Ini adalah bentuk baru pelanggaran HAM—pelanggaran ekologis—yang merampas hak hidup, hak atas lingkungan sehat, dan hak atas masa depan. Namun lagi-lagi, dunia memilih diam.

Mengapa Aceh terus diabaikan? Salah satu jawabannya terletak pada identitas. Aceh adalah wilayah dengan identitas Islam yang kuat. Dalam tatanan global hari ini, narasi moral sering kali tidak ramah terhadap aspirasi yang lahir dari masyarakat Muslim. Padahal Islam Aceh adalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin—Islam yang rasional, damai, dan telah menjadi rujukan peradaban Nusantara selama berabad-abad. Aceh bukan ancaman; Aceh adalah pelajaran.

Aceh bukan sekadar suku. Aceh adalah bangsa, yang di dalamnya hidup berbagai suku, budaya, dan tradisi. Aceh pernah menjadi imperium penting di Asia Tenggara. Sejarah ini tidak bisa dihapus hanya dengan status administratif sebagai provinsi.

Abad ke-21 adalah abad ketika manusia mengaku menjunjung kemanusiaan. Kejahatan harus dihapus, bukan ditutupi. Pelanggaran HAM harus diakui, bukan dinegosiasikan. Maka di ujung tulisan ini, kami, bangsa Aceh, memohon dengan rendah hati kepada orang-orang baik di dunia, melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional.

Kami tidak meminta belas kasihan.
Kami tidak memaksa kemerdekaan.

Kami hanya memohon agar Aceh disayangi, dihargai, dan diperlakukan sebagai manusia. Datanglah peduli. Berikan perhatian. Berikan penghargaan. Akui luka kami. Santuni penderitaan kami. Lihat kami bukan semata sebagai identitas Islam, tetapi sebagai makhluk hidup yang selama berabad-abad mengalami pelanggaran hak asasi—oleh manusia dan oleh bencana alam.

Jika dunia masih memiliki nurani, maka Aceh layak didengar.
Jika kemanusiaan masih bermakna, maka Aceh tidak boleh terus dibiarkan sendirian.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mahasiswi Di Titik Nol

Mahasiswi Di Titik Nol

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00