Dengarkan Artikel
:
Dari Kolonialisme hingga Abad ke-21
Oleh: Dayan Abdurrahman
Pemerhati Kebangsaan dan Hak Asasi Manusia
Tulisan ini lahir bukan dari kemarahan sesaat, melainkan dari ingatan panjang tentang luka yang tak pernah sepenuhnya sembuh. Aceh, sebuah bangsa dengan sejarah tua dan peradaban kuat, telah mengalami pelanggaran hak asasi manusia secara berulang lintas zaman—oleh manusia, oleh kekuasaan, dan oleh bencana alam yang diperparah oleh kelalaian manusia. Pertanyaan yang terus menggema hingga hari ini adalah: sampai kapan Aceh harus menanggung penderitaan tanpa pernah sungguh-sungguh diperlakukan sebagai subjek kemanusiaan yang utuh?
Sejak masa kolonial Eropa, Aceh telah menjadi sasaran kekerasan sistematis. Perang Aceh bukan sekadar konflik wilayah, melainkan usaha penaklukan terhadap sebuah bangsa yang berdaulat. Kampung dibakar, penduduk sipil dibunuh, perempuan dan anak-anak menjadi korban, dan identitas Aceh dikriminalisasi. Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk paling awal, jauh sebelum dunia mengenal istilah HAM secara formal. Namun Aceh bertahan, bukan karena kekuatan senjata semata, melainkan karena keyakinan akan martabatnya sebagai bangsa.
Ketika kolonialisme runtuh dan Republik Indonesia diproklamasikan, Aceh justru memilih berdiri di barisan depan. Rakyat Aceh menyumbangkan emas, logistik, dan dukungan politik untuk kemerdekaan Indonesia. Pesawat pertama Republik lahir dari pengorbanan Aceh. Dalam bahasa kebangsaan, Aceh adalah modal awal kedaulatan Indonesia. Namun sejarah kemudian mencatat ironi yang pahit: pengorbanan itu tidak dibalas dengan keadilan.
Pada masa awal kemerdekaan, aspirasi politik Aceh tidak didengar secara jujur. Keinginan untuk mengatur diri sendiri, menjaga identitas, dan menentukan arah pembangunan dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai hak. Aceh direduksi dari bangsa menjadi sekadar daerah administratif. Di sinilah luka pertama dalam relasi Aceh–Republik mulai menganga.
Pada era Orde Baru, luka itu berubah menjadi trauma kolektif. Dengan dalih stabilitas nasional dan keamanan negara, Aceh dijadikan Daerah Operasi Militer. Negara hadir dengan senjata, bukan dengan perlindungan. Pembunuhan di luar hukum, penyiksaan, penghilangan paksa, pemerkosaan, dan teror psikologis menjadi kenyataan hidup ribuan warga sipil. Pada saat yang sama, sumber daya alam Aceh—gas dan kekayaan bumi lainnya—dieksploitasi besar-besaran untuk kepentingan pusat kekuasaan.
Aceh memberi kekayaan, tetapi menerima pelanggaran HAM. Dunia internasional mengetahui, tetapi memilih diam. Moral global tidak bekerja ketika pelanggaran terjadi di wilayah yang tidak mengganggu kepentingan geopolitik besar. Aceh kembali menjadi korban yang tak dianggap prioritas.
📚 Artikel Terkait
Reformasi 1998 membawa harapan baru. Demokrasi dijanjikan, HAM dijunjung, dan militer direformasi. Namun bagi Aceh, perubahan itu tidak sepenuhnya nyata. Kekerasan masih berlangsung, pendekatan bersenjata tetap dominan, dan aspirasi politik tetap dicurigai. Demokrasi tanpa keberanian mengakui kesalahan sejarah berubah menjadi prosedur tanpa keadilan.
Tragedi terbesar dalam sejarah modern Aceh terjadi pada 26 Desember 2004. Tsunami merenggut lebih dari 150.000 jiwa. Ini adalah bencana alam, tetapi juga tragedi kemanusiaan. Aceh kembali menjadi korban dalam skala yang mengguncang dunia. Bantuan internasional datang, kamera media menyorot, dan akhirnya perdamaian diproklamasikan antara Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia.
Namun perdamaian itu lahir lebih karena tekanan tragedi global daripada kesadaran moral negara. Aceh memperoleh otonomi khusus—sebuah status yang hingga kini dipertanyakan. Otonomi itu tidak sepenuhnya transparan, tidak sepenuhnya akuntabel, dan sering kali tidak berpihak pada semangat perjanjian damai. Keadilan transisional tidak dijalankan secara tuntas. Kebenaran tidak dibuka sepenuhnya. Korban diminta melupakan tanpa pernah benar-benar dipulihkan.
Hari ini, Aceh kembali menderita. Kali ini melalui bencana ekologi: banjir bandang, longsor, kerusakan hutan, dan krisis lingkungan yang berulang. Bencana ini bukan semata-mata kehendak alam, melainkan akibat dari kebijakan, eksploitasi, dan kelalaian yang disengaja. Namun negara menolak mengakui ini sebagai kejahatan struktural. Status bencana dipersempit, bantuan diberikan seadanya, dan penderitaan dibiarkan berulang dari tahun ke tahun.
Ini adalah bentuk baru pelanggaran HAM—pelanggaran ekologis—yang merampas hak hidup, hak atas lingkungan sehat, dan hak atas masa depan. Namun lagi-lagi, dunia memilih diam.
Mengapa Aceh terus diabaikan? Salah satu jawabannya terletak pada identitas. Aceh adalah wilayah dengan identitas Islam yang kuat. Dalam tatanan global hari ini, narasi moral sering kali tidak ramah terhadap aspirasi yang lahir dari masyarakat Muslim. Padahal Islam Aceh adalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin—Islam yang rasional, damai, dan telah menjadi rujukan peradaban Nusantara selama berabad-abad. Aceh bukan ancaman; Aceh adalah pelajaran.
Aceh bukan sekadar suku. Aceh adalah bangsa, yang di dalamnya hidup berbagai suku, budaya, dan tradisi. Aceh pernah menjadi imperium penting di Asia Tenggara. Sejarah ini tidak bisa dihapus hanya dengan status administratif sebagai provinsi.
Abad ke-21 adalah abad ketika manusia mengaku menjunjung kemanusiaan. Kejahatan harus dihapus, bukan ditutupi. Pelanggaran HAM harus diakui, bukan dinegosiasikan. Maka di ujung tulisan ini, kami, bangsa Aceh, memohon dengan rendah hati kepada orang-orang baik di dunia, melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional.
Kami tidak meminta belas kasihan.
Kami tidak memaksa kemerdekaan.
Kami hanya memohon agar Aceh disayangi, dihargai, dan diperlakukan sebagai manusia. Datanglah peduli. Berikan perhatian. Berikan penghargaan. Akui luka kami. Santuni penderitaan kami. Lihat kami bukan semata sebagai identitas Islam, tetapi sebagai makhluk hidup yang selama berabad-abad mengalami pelanggaran hak asasi—oleh manusia dan oleh bencana alam.
Jika dunia masih memiliki nurani, maka Aceh layak didengar.
Jika kemanusiaan masih bermakna, maka Aceh tidak boleh terus dibiarkan sendirian.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






