HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pohon Industri Penghancur Negeri: Warisan Kolonialisme Ekonomi di Balik Sawit Indonesia

Redaksi by Redaksi
Januari 4, 2026
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
0
598
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Nurul Hikmah, S.Pd.I., M.A

Penjajahan hari ini tidak lagi datang dalam bentuk senapan dan kapal perang. Ia hadir dengan proposal investasi, janji lapangan kerja, dan narasi pembangunan nasional. Di Indonesia, khususnya sejak era Orde Baru, kolonialisme ekonomi menemukan bentuk barunya melalui ekspansi perkebunan industri—terutama kelapa sawit—yang hingga kini meninggalkan luka ekologis dan sosial yang panjang.

Baca Juga

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026

Pada masa pemerintahan Orde Baru, pembangunan ekonomi dijadikan mantra utama. Negara membuka keran investasi selebar-lebarnya, terutama di sektor kehutanan dan perkebunan. Hutan-hutan di Kalimantan dan Sumatra dipetakan ulang, bukan sebagai ruang hidup masyarakat adat, melainkan sebagai “lahan kosong” yang siap dikonversi. Di sinilah logika kolonial lama bekerja kembali: tanah dipisahkan dari manusia, lalu diserahkan kepada modal.

Skema yang digunakan nyaris selalu sama. Masyarakat diajak melepas tanah adat dengan iming-iming harga tinggi dan kompensasi sementara. Banyak yang tergoda—bukan karena serakah, tetapi karena terdesak. Setelah itu, negara dan perusahaan masuk membawa bibit, teknologi, dan sistem produksi baru. Masyarakat lokal diposisikan sebagai buruh atau petani plasma yang sepenuhnya bergantung pada perusahaan inti. Tanah boleh berada di kampung mereka, tetapi kendali tidak lagi di tangan mereka.

Kelapa sawit menjadi simbol paling jelas dari proses ini. Sejak 1980-an, sawit dipromosikan sebagai komoditas unggulan nasional. Di atas kertas, sawit menjanjikan devisa besar dan pertumbuhan ekonomi cepat. Namun di lapangan, terutama di Kalimantan dan Sumatra, sawit justru menjadi pemicu deforestasi masif, konflik agraria, dan kerusakan ekosistem yang sulit dipulihkan.

Secara ekologis, sawit adalah tanaman monokultur yang rakus air. Akar serabutnya menyerap air tanah dalam jumlah besar tanpa kemampuan menyimpannya. Di lahan gambut, hal ini menyebabkan pengeringan masif yang membuat wilayah tersebut sangat rentan terbakar. Kebakaran hutan dan lahan yang berulang setiap tahun tidak bisa dilepaskan dari ekspansi sawit. World Wildlife Fund mencatat bahwa perkebunan sawit berkontribusi besar terhadap hilangnya habitat dan penurunan keanekaragaman hayati di wilayah tropis, termasuk Indonesia (WWF, 2020).

Hutan hujan yang sebelumnya menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna berubah menjadi bentang hijau seragam yang sunyi secara ekologis. Tidak ada ruang bagi satwa liar, tidak ada keragaman tanaman, dan tidak ada keseimbangan alam. Sawit mungkin tampak produktif, tetapi produktivitas itu dibayar mahal oleh alam dan generasi mendatang.

Dampak sosialnya tidak kalah serius. Di banyak wilayah Kalimantan dan Sumatra, masyarakat adat kehilangan akses terhadap tanah ulayat, sumber pangan, dan identitas kultural mereka. Konflik antara warga dan perusahaan menjadi cerita yang berulang. Namun dalam narasi resmi pembangunan, suara-suara ini sering disisihkan demi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Ini mengingatkan kita pada praktik kolonial klasik: ketertiban dijaga, tetapi keadilan dikorbankan.

Selain sawit, tanaman industri lain seperti karet juga memiliki sejarah panjang dalam kolonialisme ekonomi Indonesia. Sejak masa Hindia Belanda, karet ditanam secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan industri global. Hingga kini, pola itu nyaris tidak berubah. Karet tetap menjadi komoditas ekspor mentah, sementara petani kecil menerima keuntungan paling kecil dalam rantai produksi.

Lebih jauh, monokultur industri bukan hanya merusak tanah, tetapi juga memutus pengetahuan lokal. Masyarakat dipaksa meninggalkan sistem pertanian beragam yang selama ratusan tahun terbukti adaptif terhadap lingkungan. Seperti dikatakan Vandana Shiva, “Monokultur tidak hanya menghancurkan keanekaragaman hayati, tetapi juga menghancurkan cara berpikir dan sistem pengetahuan masyarakat” (Shiva, 1993). Ketika satu jenis tanaman dipaksakan, satu cara hidup pun ikut disingkirkan.

Ironisnya, semua ini kerap dibungkus dengan bahasa kesejahteraan rakyat. Perkebunan industri disebut sebagai solusi kemiskinan, padahal yang terjadi sering kali adalah ketergantungan struktural. Masyarakat kehilangan kedaulatan atas tanah, pangan, dan masa depan mereka sendiri. Negara, dalam posisi ini, lebih sering bertindak sebagai fasilitator modal daripada pelindung rakyat.

Sudah saatnya Indonesia belajar dari luka panjang ini. Pembangunan tidak bisa terus diukur semata dari luas kebun dan angka ekspor. Keberlanjutan ekologis, keadilan agraria, dan kedaulatan masyarakat lokal harus menjadi pusat kebijakan. Diversifikasi pertanian, pengakuan hak masyarakat adat, serta penguatan ekonomi berbasis pengetahuan lokal bukanlah langkah mundur, melainkan syarat untuk masa depan yang adil.

Jika tidak, perkebunan industri akan terus berdiri sebagai pohon-pohon tinggi yang tampak menjanjikan dari kejauhan, tetapi akarnya perlahan menghisap kehidupan negeri ini.

Referensi

WWF. (2020). The Environmental Impact of Oil Palm Plantations. World Wildlife Fund.

Shiva, V. (1993). Monocultures of the Mind: Perspectives on Biodiversity and Biotechnology. Zed Books.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 319x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 285x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 243x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 206x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 162x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare239
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan
Esai

Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan

Maret 18, 2026
Artikel

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya
#Korban Bencana

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Hari Buruh

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026
Next Post
Air Bersih yang Terabaikan di Aceh Utara

Air Bersih yang Terabaikan di Aceh Utara

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com