Dengarkan Artikel
Oleh Alfan Raykhan Pane
Sore itu, Jum’at (5/9) sembari menyeruput kopi dingin di sebuah warung kopi. Warung kupi Aby’ yang berada jalan Medan – Banda Aceh, persis di depan kampus IAIN Malikussaleh, Alue Awe. Kampus yang bertagline sebagai ‘Kampus Peradaban’ dan kini sudah berubah status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Lhokseumawe.
Terbersit dalam pikiranku tentang apa dan bagaimana tantangan yang akan dihadapi oleh lulusan sarjana ilmu komunikasi sekarang ini?. Tulisan ini lahir untuk menjawab dan menjabarkan ide yang terlintas itu.
Menurut pengamatan dan pengalaman pribadi yang pernah aku rasakan dan lakukan saat menjadi wartawan yang kini disebut lebih keren Jurnalis. Akü melihat beberapa tantangan yang dihadapi oleh para sarjana lulusan ilmu komunikasi selama ini dalam sunuş nyata.
Para sarjana komunikasi di era digital saat ini dihadapkan dengan pesatnya penyebaran hoaks dan disinformasi; kesenjangan digital; perubahan pola konsumsi media; isu privasi dan etika data; serta adaptasi yang cepat terhadap perkembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan dan analitik data.
Selain itu, mereka (para sarjana lulusan ilmu komunikasi) juga dituntut untuk mampu berinovasi dalam membuat konten kreatif, meningkatkan literasi media dan data, serta memiliki soft skills seperti empati dan kemampuan analitis untuk menjadi agen perubahan di era digital.
Penyebaran informasi palsu yang terjadi dengan cepat di media digital menjadi tantangan yang sangat besar, yang menuntut sarjana komunikasi untuk memperkuat literasi media dan mengembangkan strategi pemberantasannya.
Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya media atau platform digital yang membuat konten tentang penelusuran ‘Hoaks/Hoax atau Fakta’ dalam sebuah informasi atau berita. Sementara, meskipun akses informasi meluas, kesenjangan digital masih ada, memengaruhi siapa yang dapat mengakses dan memahami informasi.
📚 Artikel Terkait
Semua ini ikut mendorong terjadinya perubahan pola konsumsi media. Perilaku audiens dalam mengonsumsi media terus berubah, sehingga praktisi komunikasi harus beradaptasi untuk tetap relevan dan harus lebih cerdas dan bijak, karena bisa menimbulkan banyak dampak, positif maupun negatif.
Ya, tak dapat dimumgkiri bahwa penggunaan data pengguna yang masif menimbulkan isu privasi dan etika yang harus dipahami dan diimplementasikan dengan baik sesuai regulasi. İni juga sebenarnya menjadi tanggung jawab sarjana komunikasi untuk mengedukasi masyarakat dalam menggunakan piranti komunikasi yang semakin canggih dan pesan ini.
Oleh sebab itu, Kondisi kekinian menuntut
sarjana komunikasi harus mampu memahami dan mengintegrasikan teknologi baru seperti kecerdasan buatan, analitik data, dan komunikasi nirkabel ke dalam teori dan praktik komunikasi. Lalu, menjadi pihak yang dapat mengontrol perkembangannya dalam masyarakat yang semakin dekat dengan alat komunikasi digital tersebut.
Tentu tidak mudah dan secara serta meets dapat dilakukan oleh seorang sarjana komunikasi. Apalagi seorang sarjana komunikasi juga dituntut juga bisa sukses dalam melakukan adaptasi dan literasi secara digital: Kebutuhan akan kemampuan seorang sarjana komunikasi untuk mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan teknologi dan tren komunikasi digital baru, sangat penting untuk dilakukan.
Selain itu, sebagai sarjana komunikasi idealnya harus sangat menguasain literasi data dan analiti.
Dalam hal ini, sarjana komunikasi harus pula mampu memahami cara mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data yang menjadi krusial untuk memahami audiens dan mengukur efektivitas komunikasi.
Tidak hanya itu, sikap dan ketrampilan berinovasi semakin penting dimiliki oleh seorang sarjana komunikasi. Sebab, di tengah banjir informasi, penting untuk menciptakan konten yang menonjol, menarik, dan mampu menyampaikan pesan secara efektif.
Agar semua itu bisa terwujud, kemampuan empati, integritas, kreativitas, disiplin, dan kemampuan komunikasi yang baik (termasuk public speaking) menjadi modal penting bagi sarjana komunikasi di era digital ini. Dengan demikian, menjadi sangat penting pula bagi sarjana komunikasi menguasai teori dan praktik. Artinya, ia mampu memadukan pengetahuan teoritis dengan pengalaman praktis melalui magang dan kegiatan organisasi sangat diperlukan untuk membentuk sarjana yang kompeten, apalagi sekarang ada istilah Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang tidak saja mengukur tingkat kompetensi seorang wartawan/jurnalis, tapi juga yang paling penting adalah bagaimana seharusnya sikap seseorang sarjana komunikasi yang akan dan telah terjun ke dunia jurnalisme yang patuh dan taat akan kode etik profesi serta bertanggung jawab terhadap karya jurnalistik atau konten digital yang dia hasilkan.
Nah terakhir dengan mengatasi semua tantangan dan mengembangkan keterampilan yang relevan, maka sarjana komunikasi dapat terus berkontribusi sebagai agen perubahan dan memainkan peran penting di era digital.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






