HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Legenda Sungai Indung

Redaksi by Redaksi
November 24, 2021
in Cerita, Legenda, Sungai Indung
Reading Time: 9 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Foto Mongabay

Baca Juga

Anak Tuli dan Buta yang Berhasil Menjadi Penulis Terkenal

Agustus 12, 2025

İbuku  yang Tangguh

Agustus 8, 2025

Rahasia Di Balik Pulau Terpencil

Agustus 8, 2025

Oleh : Siti Maimunah, S.Sos.I

 

Sungai adalah aliran air permukaan yang bentuknya memanjang dan mengalir secara terus menerus dari hulu ke hilir. Ada juga yang menyebut sungai adalah air tawar dari sumber alamiah yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah  dan bermuara ke laut.

Gemericik air yang mengalir membuat suasana dingin semakin menjadi, karena semalam hujan tak berhenti hingga adzan subuh berkumandang. Indung,  seorang nenek yang tinggal di dekat sungai besar di desa Jagong Jeget.  Ia hanya seorang diri tinggal di rumah itu dan memang tidak ada rumah lain selain rumah Indung.

Walaupun seorang diri, Indung tetap bersemangat dalam mencari nafkah untuknya sendiri. Bukan tidak punya sanak saudara, akan tetapi sanak saudaranya tinggal  agak jauh dari sungai itu. Indung tidak mau ikut dengan anaknya karena Indung membuka warung sembako di kediaman yang sangat sangat sederhana itu.

Sangat sederhana, karena memang rumah itu ada sejak Indung masuk ke wilayah Jagong jeget sebagai transmigran bersama kelompok orang yang lain. Jadi, rumah itu adalah rumah yang dibuatkan oleh Pemerintah dan tidak diubah sedikitpun oleh Indung ataupun anaknya, seperti itu apa adanya.

Banyak yang belanja ke warung Indung, karena memang saat itu tidak banyak yang membuka warung sembako. Jarak jauh tidak menjadi alasan untuk orang tidak datang ke warung Indung,  selain bahan pangan lengkap, harganya juga lumayan.

Pernah suatu ketika Nenek Indung ditawari oleh orang untuk tinggal di rumahnya, dari pada sendiri di pinggir sungai. Tidak ada yang menemani, apalagi anaknya juga jauh di atas.  Nenek Indung menolak dan tetap ingin tinggal sendiri di pinggir sungai besar itu. Memang rumah indung berada tepat di pinggir sungai besar dan  pinggir jalan besar, jadi tidak terlalu menakutkan. Anak Nenek Indung tinggal di atas.  Mereka biasa menyebutnya seperti itu, karena desa tempat anaknya berada di atas bukit. Jika akan pergi ke tempat anaknya, Nenek Indung akan berjalan naik ke atas. Kebetulan sungai itu berada di antara dua bukit tinggi.

Suatu hari, Nenek Indung jatuh sakit. Anaknya yang bernama Dasa datang dengan istrinya merawat Nenek Indung di rumahnya. Sayangnya seperti yang sudah-sudah. Nenek tidak mau jika harus dirawat di rumah anaknya dan meninggalkan warung daganganya. Setiap kali anaknya memintanya untuk berhenti berdagang, Nenek selalu menolak. Baginya berdagang adalah kegiatan yang menyenangkan, bisa bertemu dengan banyak orang, rumahnya juga akan sering dikunjungi oleh orang. Itu sangat menyenangkan bagi Nenek Indung.

Sakit kali ini tidak seperti sakit biasanya, badannya terasa lemah dan tidak berdaya, demam tinggi. Yang ditakutkan oleh anaknya adalah kejadian-kejadian yang pernah dialami akan terulang kembali.

Nenek Indung pernah mengalami mati suri. Saat itu  ketika sedang dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an, sang Nenek bangun kembali. Hampir semua orang yang ada terkejut dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Setelah itu Nenek beraktivitas seperti biasa.

Umurnya saat itu menginjak 70an, namun semangat kerja selalu ada. Maklum orang tua zaman dahulu, fisiknya luar biasa. Tidak seperti orang zaman sekarang yang makanannya telah dibubuhi pengawet dan pewarna. Orang zaman dahulu hanya memakan nasi sebagai makanan pokok dan umbi – umbian sebagai makanan pendamping. Jadi masih sangat alami. 

Sakit yang dialami oleh Nenek Indung tidak terlalu lama,  hanya sekitar tiga hari kemudian ia kembali pulih dan melakukan kegiatan seperti biasa.

Hari demi hari dilaluinya dengan bahagia. Baginya, sungai itu adalah harapan Nenek Indung untuk mencuci, memasak dan sebagainya.  Jika sungai itu kering atau sedikit airnya karena cuaca kemarau, ia akan bingung dan terpaksa  pergi ke tempat anaknya di atas bukit dan akan kembali jika curah hujan sudah dapat mengembalikan keadaan air sungai seperti biasanya.

Melihat orang tuanya sering sakit, Dasa sebagai anaknya sering mengunjungi Sang Nenek, karena takut ketika sakit tidak ada yang tahu. Semangat Nenek Indung dalam berdagang memang patut dicontoh, karena ia tidak memandang umur.

Suatu hari kembali dari belakang rumah seusai mencuci baju,  Indung merasa badannya sudah tidak enak lagi.  Kemudian keesokan harinya Dasa datang ke rumah kecil itu dan mencoba untuk merayu Nenek agar mau ikut bersamanya.

“ Jangan lagi menolak Nini. Keadaanmu semakin lemah dan tidak mungkin aku meninggalkanmu di sini sendiri.” Ucap Dasa penuh harap. Awalnya nenek Indung menolak dengan permintaan anaknya, akan tetapi karena hari demi hari kesehatannya semakin terganggu, akhirnya dengan sangat berat hati Nenek Indung ikut dengan anaknya.

Setelah sekian lama berada di kediaman anaknya,  sebulan, dua bulan bahkan sampai bertahun-tahun, Indung merasa jenuh. Ia sudah terbiasa beraktivitas, tetapi di rumah anaknya ia hanya duduk diam saja. Barang dagangan Nenek juga dipindahkan ke rumah anaknya.

Sementara rumah di dekat sungai dibiarkan begitu saja termakan usia.

Hingga pada suatu saat Nenek Indung sakit dengan waktu yang lumayan lama. Sudah berusaha diobati dan tak kunjung sehat dan akhirnya Nenek Indung meninggal dunia dengan meninggalkan anak dan cucu-cucunya.

Rumah Nenek yang di dekat sungai akhirnya dibongkar. Ini bukan berarti nama Nenek yang pernah tinggal di sana menjadi hilang. Orang akan selalu ingat bahwa rumah di dekat sungai besar itu adalah rumah Nenek Indung, Nenek yang selalu menyediakan bahan pangan untuk orang-orang di sana. Akhirnya orang selalu menyebut bahwa sungai itu adalah sungai Indung.

Sampai saat ini sudah berjalan hingga kurang lebih lima belas tahun orang selalu menyebutnya “ sungai Indung”.’ dan saat ini jembatan yang ada di sungai itu telah direnovasi dengan jembatan yang baru. Nama itu tidak akan pernah berubah dan akan tetap diingat oleh semua orang bahwa itu adalah “ Sungai Indung”.

Referensi: Bapak Sriyono petugas sosial Kab.Aceh Tengah, Jafarudin selaku cucu indung

 

 

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 285x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 213x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 148x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Esai

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Maret 17, 2026
Di Antara Idealisme dan Honorarium: Potret Memalukan dalam Praktik Kolegalitas Akademik
# Ironi

Di Antara Idealisme dan Honorarium: Potret Memalukan dalam Praktik Kolegalitas Akademik

Maret 17, 2026
#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis
#Korban Bencana

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Next Post

SDIT MUHAMMADIYAH PEDULI MEMBANTU KELUARGA FAKIR YANG BERKEBUTUHAN KHUSUS

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com