Dengarkan Artikel
Oleh: Siti Hajar
Sabang adalah sebuah kota wisata yang indah di ujung barat Indonesia. Terletak di Pulau Weh, kota ini terkenal dengan keindahan lautnya yang memikat wisatawan, namun lebih dari itu Sabang juga merupakan pusat lalu lintas maritim internasional. Letaknya yang sangat strategis, hanya beberapa mil laut dari Selat Malaka, menjadikan Sabang bagian penting dari jalur perdagangan dunia sejak zaman kolonial hingga era modern.
Letak geografis pulau Sabang yang terletak pada koordinat 5°53′ LU, 95°19′ BT, adalah titik paling barat dari wilayah Nusantara. Ini juga dikukuhkan dengan adanya Tugu Kilometer Meter Nol di pulau yang memiliki banyak sejarah ini. Dari sini, hanya butuh hitungan jam pelayaran untuk memasuki Selat Malaka, jalur laut yang menurut International Maritime Organization (IMO) dilintasi lebih dari 90.000 kapal setiap tahun.
Kapal-kapal yang melintas membawa 40–50% perdagangan dunia, termasuk minyak mentah dari Timur Tengah menuju Asia Timur, barang industri dari Asia menuju Eropa, dan komoditas curah dari Australia ke berbagai negara. Sabang, dengan teluk dalam dan perairan yang aman, memiliki semua karakteristik sebagai pelabuhan internasional yang vital.
Dari Kolonial Hingga Free Port
Peran Sabang dalam perdagangan global bermula pada 1883, saat Belanda membangun Kolen Station Sabang (KSS) sebagai stasiun batu bara. Sabang menjadi tempat singgah kapal uap internasional sebelum melanjutkan perjalanan melintasi samudra. Tidak lama kemudian, Sabang berstatus pelabuhan bebas (free port) yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Australia.
Sabang sudah dua kali mengalami penetapan sebagai pelabuhan bebas: pertama tahun 1963, dan kemudian secara resmi dihidupkan kembali tahun 2000 hingga sekarang.
Sejak awal abad ke-20, kapal dari Inggris, Jerman, Jepang, hingga Amerika Serikat rutin bersandar di Sabang. Pelabuhan ini tidak hanya berfungsi sebagai titik logistik, tetapi juga sebagai simpul perdagangan dunia.
Harapan Baru dengan Pelantikan T. Hendra Budiansyah
📚 Artikel Terkait
Kini, Sabang kembali menarik perhatian publik. Pada 4 Agustus 2025, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) melantik T. Hendra Budiansyah sebagai Wakil Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (BPKS) Sabang periode 2025–2030. Dia resmi mendampingi Iskandar Zulkarnean yang sebelumnya telah dinobatkan sebagai Ketua BPKS Sabang pada Mei tahun 2024 lalu.
Dalam arahannya, Mualem menegaskan bahwa BPKS harus memainkan peran strategis dalam pembangunan ekonomi Aceh. Ia berharap pejabat baru dapat memaksimalkan potensi Sabang sebagai hub perdagangan, pelayaran, dan pariwisata internasional. Pelantikan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Sabang di tengah kompetisi global dengan pelabuhan besar seperti Singapura, Port Klang (Malaysia), dan Colombo (Sri Lanka).
Kapal-Kapal Raksasa di Perairan Sabang
Bukan hal mengejutkan jika perairan Sabang kerap dipenuhi kapal tanker, bulk carrier, dan container ship berukuran raksasa. Kapal-kapal tersebut mengangkut: Minyak mentah dari Teluk Persia menuju Asia Timur, komoditas curah seperti batu bara, semen, dan bijih, serta barang manufaktur dalam kontainer yang menopang rantai pasok global.
Dengan kedalaman teluknya, Sabang mampu menampung kapal dengan kapasitas lebih dari 200.000 DWT (Deadweight Tonnage), kelas kapal lintas samudra yang menjadi tulang punggung perdagangan global.
Harapan dan Jalan ke Depan
Menurut UNCTAD (2023), sekitar 80–90% perdagangan dunia masih dilakukan lewat laut, dan jalur Asia Tenggara—terutama Selat Malaka—merupakan nadi pentingnya. Posisi Sabang sebagai pintu masuk jalur perdagangan internasional memberi peluang besar untuk menjadi simpul logistik global, terutama dengan dukungan BPKS sebagai otoritas kawasan.
Akhir-akhir ini, Sabang benar-benar mencuri perhatian wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Keelokan laut biru, pasir putih, dan taman bawah laut Pulau Weh berpadu dengan keunikan gaya hidup warganya yang sederhana dan ramah, membuat turis selalu ingin kembali. Bahkan para pesohor lokal, influencer, dan konten kreator yang belum pernah menginjakkan kaki di Sabang sering melontarkan rasa penasaran: “Seperti apa sebenarnya suasana Sabang itu?” Akibatnya, setiap akhir pekan dan musim liburan.
Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh dan Pelabuhan Balohan di Sabang menjadi sangat sibuk melayani ribuan pendatang dari berbagai penjuru Nusantara. Fenomena ini memperlihatkan bahwa Sabang bukan hanya penting dalam peta perdagangan global, tetapi juga sedang tumbuh menjadi destinasi wisata populer yang mendunia.
Selain perdagangan, sektor pariwisata bahari Sabang—dari keindahan Pantai Iboih hingga taman laut Pulau Rubiah—dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pelabuhan. Dengan strategi tepat, Sabang bukan hanya kota wisata kelas dunia, melainkan juga pelabuhan bebas yang kembali berperan di jalur pelayaran internasional
Sabang adalah kota kecil dengan dua wajah besar: surga wisata bahari dan simpul lalu lintas global. Dari stasiun batu bara era kolonial, hingga ambisi modern sebagai Kawasan Ekonomi Khusus yang mendukung perdagangan internasional, Sabang terus membuktikan perannya dalam peta maritim dunia.
Pelantikan T. Hendra Budiansyah sebagai Wakil Kepala BPKS 2025–2030 menjadi momentum baru. Di bawah kepemimpinan yang kuat dan visi maritim yang jelas, Sabang berpeluang besar mengukir kembali namanya sebagai gerbang barat Nusantara sekaligus titik strategis perdagangan dunia.[]
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





