POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Raffa, Pena, dan Sunyi yang Bernyanyi

Juni AhyarOleh Juni Ahyar
July 23, 2025
Raffa, Pena, dan Sunyi yang Bernyanyi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Juni Ahyar


Di sebuah desa kecil di pedalaman, hiduplah seorang pemuda bernama Raffa. Ia berbeda dengan anak-anak seusianya. Sementara yang lain riuh bermain, Raffa lebih sering duduk sendiri, menulis puisi, atau menggambar di atas lembaran kertas usang.
“Anak itu aneh, jarang bicara,” gumam orang-orang.


Padahal, Raffa hanya memilih berbicara lewat pena. Setiap goresan tinta dan arsiran pensilnya adalah bahasa yang lahir dari dalam hatinya—bahasa yang tak mampu ia ucapkan.
Sejak kecil, dunia Raffa adalah seni. Buku seni dan sastra menjadi sahabatnya. Ia percaya bahwa setiap garis dan kata adalah cara jiwanya untuk bersuara. Di usia 17 tahun, bakatnya semakin matang. Puluhan lukisan dan puisi lahir dari kesunyian itu.


Pertemuan di Padang Rumput Suatu sore, di padang rumput tempat Raffa biasa menyendiri, datanglah seorang gadis bernama Naya. Ia adalah penduduk baru, anak seorang seniman kota yang pindah ke desa karena tugas ibunya.


“Hi… aku Naya. Kamu siapa?” sapanya ceria.
Raffa hanya melirik sekilas, lalu kembali menunduk menatap buku sketsanya.
Naya memperhatikan lukisan Raffa. Ada sesuatu yang berbeda. Garis-garis itu tidak sekadar indah, tapi juga penuh makna.

📚 Artikel Terkait

Kualat Pada Leluhur

Siswi SMKN 1 Tapaktuan Raih 2 Medali Emas di Ajang OSPAM

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Kecewa Terhadap Sikap Plt Gubernur Aceh


“Lukisanmu luar biasa… aku kagum,” ucap Naya.
Tanpa sengaja, Naya membuka buku tua milik Raffa. Di dalamnya, puisi-puisi penuh emosi seakan melompat keluar dari lembaran.
“Ini semua karyamu? Sungguh… kamu punya jiwa seni yang menakjubkan,” kata Naya terkesima.


Raffa hanya menjawab singkat, “Ya.”
Di sela kebekuan, Naya membaca salah satu puisi Raffa dengan nada teatrikal, tangannya menari di udara, seperti pemain drama klasik. Raffa yang biasanya dingin tak bisa menahan senyum kecil. Senyum itu membuat Naya merasa berhasil menembus tembok sunyi Raffa.


Keyakinan yang Menyala Malam itu, di rumah, Naya mendengar ibunya bingung mencari inspirasi untuk pameran seni besar di kota.
“Bu, aku punya ide. Ada anak di desa ini… namanya Raffa. Dia hebat, karyanya penuh jiwa,” kata Naya penuh semangat.

Keesokan harinya, Naya mendatangi Raffa.
“Raffa, maukah kamu bergabung dalam proyek seni ibuku? Dunia harus melihat karyamu,” ajaknya.
Namun Raffa hanya menjawab lirih, “Tidak ada gunanya. Orang-orang tidak peduli. Mereka tidak akan mengerti.”
“Kau salah, Raffa,” kata Naya mantap. “Karya-karyamu adalah suara hatimu. Biarlah dunia mendengar suaramu lewat lukisan dan puisimu, tanpa kau perlu berkata-kata.”
Kata-kata Naya seperti benih keyakinan yang perlahan tumbuh di hati Raffa.


Ketika Sunyi Menemukan Suara Beberapa hari kemudian, Naya datang bersama ibunya ke rumah Raffa. Dengan harap-harap cemas, mereka mendengar jawabannya.
“Aku… setuju,” ucap Raffa perlahan.
Ibunda Naya melihat kumpulan puisi Raffa, dan di halaman terakhir ia menemukan bait yang membuatnya terdiam lama:
Ada suara dalam jiwaku,
Yang tak lahir di antara kata,
Ia terletak namun bisu,
Bernyanyi dalam dada yang luka.
Bukan senyum yang kuinginkan,
Tapi lidah tak lagi berani,
Setiap huruf jadi hujan,
Tenggelam dalam sunyi sendiri.


“Ini… bukan sekadar karya,” bisik ibu Naya. “Ini adalah jeritan hati yang memilih bernyanyi dalam diam.”
Akhir yang Menggema Beberapa bulan kemudian, pameran seni di ibu kota menampilkan lukisan dan puisi Raffa. Tanpa sepatah kata pun, karya itu memikat hati ratusan pengunjung.
Pada sebuah papan kecil di sudut pameran, Raffa hanya menuliskan:
“Ini adalah suara hati saya.”
Untuk pertama kalinya, Raffa tak perlu bersuara. Dunia mendengar sunyinya. Dan di tengah riuh tepuk tangan, Naya berdiri dengan mata berbinar. Ia tahu, sunyi Raffa kini telah berubah menjadi nyanyian.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Juni Ahyar

Juni Ahyar

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Profesor Dayan Dawood Lentera Ilmu di Universitas Syiah Kuala

Profesor Dayan Dawood Lentera Ilmu di Universitas Syiah Kuala

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00