POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Generasi Emas 2045 dan Pondasi Pendidikan Kita Masih Retak

RedaksiOleh Redaksi
July 18, 2025
Generasi Emas 2045 dan Pondasi Pendidikan Kita Masih Retak
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd.

Akademisi dan Pemerhati Pendidikan dan Bahasa Universitas Malikussaleh

Narasi Generasi Emas 2045 begitu sering kita dengar. Pemerintah, pakar, bahkan dunia pendidikan kita berulang kali menegaskan bahwa Indonesia akan menikmati bonus demografi, di mana mayoritas penduduknya berada pada usia produktif. Untuk menyongsong momentum ini, berbagai jargon modern diluncurkan: digitalisasi sekolah, kelas coding, pembelajaran berbasis teknologi, hingga integrasi Artificial Intelligence (AI) ke ruang kelas. Seolah-olah, kita siap melangkah dengan penuh percaya diri ke masa depan.

Namun, pertanyaan mendasar pun mengusik pikiran: apakah kita benar-benar siap? Di balik sorot lampu digitalisasi, ada kenyataan pahit yang jarang dibicarakan. Masih banyak anak SMP hingga SMA di Indonesia yang belum mampu membaca dengan lancar, apalagi memahami bacaan dengan baik. Kemampuan berhitung sederhana pun masih menjadi tantangan di sejumlah daerah. 

Jika kita jujur menatap cermin, apakah kita sudah benar-benar menyiapkan pondasi pendidikan yang kokoh untuk menyambut tahun 2045?

Pondasi yang Retak Pendidikan ibarat sebuah rumah. Fondasi yang kokoh akan membuat bangunan berdiri tegak, tak mudah runtuh oleh badai zaman. Tetapi, bagaimana mungkin kita berbicara tentang membangun rumah mewah dengan hiasan teknologi canggih, jika pondasinya sendiri retak? 

Pemerintah kerap memamerkan kemajuan, seakan kualitas pendidikan Indonesia sudah merata. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan kesenjangan yang menganga: banyak anak di daerah pedesaan dan pelosok masih berjuang untuk lulus dari “revolusi abjad dan angka.”

📚 Artikel Terkait

Suara Sejumlah Purnawirawan TNI Jelas dan Tegas Mengikutsertakan Jerit Pilu Hati Rakyat

DINAMIKA PERUBAHAN IKLIM DI NEGARA KHATULISTIWA

Cahaya Zamrud yang Mulai Pudar: Merekonstruksi Makna Zamrud Khatulistiwa

Kritik Pandangan Sendiri

Jika kesenjangan dasar ini terus diabaikan, narasi Generasi Emas 2045 hanya akan menjadi mitos. Kita tidak bisa berharap pada pohon yang berbuah manis, jika akarnya saja belum tertanam dengan baik.

Kilau teknologi yang membutakan tak ada yang salah dengan kemajuan teknologi. Digitalisasi dan AI bisa menjadi alat yang luar biasa untuk mempercepat pembelajaran. Tetapi, masalah muncul ketika kita terlalu terpesona oleh kilau teknologi, hingga lupa bahwa pendidikan bukan sekadar adu cepat dalam mengadopsi inovasi. 

Pendidikan adalah tentang keadilan akses dan kualitas, tentang memastikan semua anak — dari kota besar hingga desa terpencil — punya kesempatan belajar yang sama.

Membuka kelas coding di sekolah unggulan di Jakarta tidak otomatis memperbaiki kemampuan membaca anak-anak di pelosok Papua atau daerah perbatasan. Kemajuan teknologi hanya berarti jika ia berjalan berdampingan dengan pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan: guru yang berkualitas, infrastruktur yang layak, serta kurikulum yang membumi.

Keadilan Pendidikan: Mulai dari yang Tertinggal Keadilan pendidikan tidak dimulai dari siapa yang tercepat, tetapi dari siapa yang paling tertinggal. Selama kita tidak serius membenahi dasar-dasar pendidikan, generasi yang kita banggakan tidak akan pernah siap menghadapi masa depan. Apa artinya berbicara tentang AI, robotika, atau sekolah pintar, jika banyak anak kita masih tidak mampu memahami arti kalimat sederhana?

Kita butuh kejujuran untuk mengakui posisi kita hari ini. Pendidikan bukan panggung kontes elitis, tetapi hak semua anak bangsa untuk belajar, berpikir kritis, dan berjalan di jalan hidup yang mereka pilih. Membangun pendidikan berarti memastikan setiap anak Indonesia mampu membaca, berhitung, dan berpikir jernih sebagai langkah awal menuju kemajuan.

Ajakan untuk Sadar Generasi Emas 2045 hanya akan menjadi kenyataan jika kita berani menata ulang prioritas. Bukan dengan menolak kemajuan, tetapi dengan memastikan kemajuan itu berpijak pada fondasi yang kuat. Jika akar pendidikan kita rapuh, jangan pernah bermimpi pohon ini akan berbuah emas. Sebab, emas bukan lahir dari janji manis, melainkan dari kerja keras, kesadaran, dan keberanian untuk memperbaiki dari akar.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Selamatkan Pendidikan - Ulasan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00