POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Budaya membaca

Perspektif Budaya Membaca dan Menulis di Indonesia

Redaksi by Redaksi
Juli 16, 2025
in Budaya membaca, Literasi, Membaca
0
Perspektif Budaya Membaca dan Menulis di Indonesia - 2025 06 12 08 56 50 | Budaya membaca | Potret Online


Oleh: Kang Thohir

Membaca dan menulis memberikan impact informasi dari masa lampau dan masa kini, karena membaca membuat berfikir jernih dan mempunyai asa dalam perspektifnya. Inspiratif daya tarik sendiri, meski terkadang di ruang sunyi. Kita bisa bertukar fikiran melalui buku dengan membaca, terkadang tak ada perdebatan melalui lisan hanya sekadar sebuah tulisan yang dituangkan. Pontensi dalam membaca adalah memberikan naluri dan imajinasi masing-masing, dan pembendaharaan kosa kata dalam diksi untuk menulis sebuah karya tulisan.

Persepsi kita bahwa membaca buku hal-hal yang membuang-buang waktu tanpa guru, bisa jadi sesat. Pemikiran itu kerapkali terjadi, mungkin karena sebuah haluan dan asumsi, atau mungkin kemalasan.

Baca Juga
  • Perspektif Budaya Membaca dan Menulis di Indonesia - 745EBD46 086D 47B7 8334 902CE4600CA9 | Budaya membaca | Potret Online
    Pendidikan
    Guru yang Memukau
    02 Apr 2023
  • Perspektif Budaya Membaca dan Menulis di Indonesia - IMG_8941 scaled 1 | Budaya membaca | Potret Online
    Artikel
    İnikah Generasi Plagiator?
    15 Apr 2024


Sebenarnya membaca adalah sebuah pancingan untuk mengubah diri dan pemikiran. Informasi-informasi yang ada di dalam buku memang terkadang terlihat ragu atau hanya sebuah tulisan, oleh sebab itulah mungkin mereka enggan membaca, atau kemungkinan tak ada waktu untuk membacanya. Akan tetapi, pengetahuan yang paling lengkap adalah dengan membaca buku untuk menambah pengetahuan dan juga wawasan dalam menanggapi persoalan kehidupan dan problematik. Kita harus memilih bacaan yang layak atau baik untuk dibaca dan terpercaya sebagai telaahan/muthola’ah, untuk mengarungi samudra informasi ilmu pengetahuan.

Intuisi kita terkadang boleh berbeda menyingkapi keriuhan ini. Bahwa motif kita membaca adalah untuk menganalisis tulisan tersebut atau mungkin untuk sekadar pembelajaran guna menggali ilmu dan pengalaman saat membaca.

Baca Juga
  • Perspektif Budaya Membaca dan Menulis di Indonesia - 6bdcc861 4f07 4778 97e7 1922da609e65 | Budaya membaca | Potret Online
    Aceh
    Krisis Identitas Generasi Muda Aceh di Era Digital
    11 Des 2024
  • Perspektif Budaya Membaca dan Menulis di Indonesia - IMG_7842 | Budaya membaca | Potret Online
    Beasiswa
    Carilah Beasiswa Untuk Pendidikan Yang Lebih Baik
    07 Jan 2024


Budaya membaca di Indonesia memang sangat minim dan jarang, makanya sebagai pegiat literasi harus memberikan inspirasi dan motivasi untuk giat membaca buku dan membangun cinta literasi kepada khalayak umum, baik itu saudara, teman, masyarakat atau keluarga, agar literasi membaca akan terus berkembang maju.

Membaca bukan soal orang terpelajar atau orang berpendidikan saja atau orang akademisi, tetapi orang biasa atau rakyat biasa pun juga harus bisa giat membaca dan menulis, supaya menjadi masyarakat yang lebih maju terhadap budaya literasi dan membaca, dan juga akan menjadi semakin cerdas agar tak bisa dibodohi.

Baca Juga
  • Perspektif Budaya Membaca dan Menulis di Indonesia - b26136d8 4f94 4636 aeb2 914e420cdd1b | Budaya membaca | Potret Online
    Aceh
    DIGITALISASI KEARIFAN LOKAL, KENAPA TIDAK?
    07 Okt 2024
  • Warm afternoon reading ritual
    Artikel
    Tantangan Literasi Mahasiswa di Indonesia
    06 Apr 2026

Kita harus mu’ayyan (fokus) pada minat baca kita sampai mana, apakah kita akan semakin tumbuh dan berkembang layaknya bunga mawar yang memberikan keharuman yang semerbak untuk sekitarnya? Maka dari itu, membaca dapat memberikan kemanfaatan untuk kehidupan sampai memberikan informasi ilmu lewat gagasan atau tulisan.

Akan tetapi, kita harus diimbangi dengan yang namanya interaksi dan sosialisasi untuk memberikan edukasi kepada orang lain, setelah membaca atau menelaah dengan baik.

Akal kita memang terkadang terbatas untuk bisa memahami sebuah tulisan buku, sehingga ilmunya tak nyampe, toh kita masih bisa berusaha untuk memahaminya melalui tahapan dan terus bertahap, sehingga bisa mencapai puncak pemahaman yang leluasa/menguasainya, dengan bacaan yang ringan-ringan saja dulu.

Kita harus konsisten pada bacaan, yang kita baca halaman demi halaman, supaya untuk menyaring ilmu dengan penghayatan dan hafalan. Mempelajari dan menghayati itu adalah kuncinya, agar ilmu yang didapatkan terserap ke dalam otak dan sanubari.

Membaca itu seperti menjaring ikan, apabila dengan yakin dan bersungguh-sungguh maka akan didapatkan, syukur-syukur dapat hasil tangkapan banyak dan memuaskan. Membaca perlu memenej waktu, seperti waktu malam hari atau sore hari. Intinya tidak ada kesibukan lain dan urusan atau waktu senggang, sempatkanlah membaca buku walau sebentar atau sedikit, itu lebih baik dan berfaedah.
Ada maqolah ulama mengatakan,

“Hidup tanpa membaca adalah hampa.” Atau
“Tiada hari tanpa membaca.”

Salam budaya dan salam literasi anak bangsa.

Brebes, 13 Juli 2025

Previous Post

“Balon Durhaka” Sampai SK PPPK Ditahan Bupati

Next Post

Pepaya, Pisang, dan Jambu Air: Pelajaran dari Yogyakarta

Next Post
Perspektif Budaya Membaca dan Menulis di Indonesia - 2025 07 15 15 30 16 | Budaya membaca | Potret Online

Pepaya, Pisang, dan Jambu Air: Pelajaran dari Yogyakarta

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah