Dengarkan Artikel
Oleh Paulus Laratmase
Dalam lanskap sosial-politik Indonesia modern, beberapa nama telah menjadi simbol pergeseran paradigma dan perkembangan institusi demokrasi. Salah satu sosok yang paling menonjol dalam lintasan tersebut adalah Denny JanuarAli, atau yang lebih dikenal sebagai Denny JA. Ia dikenal sebagai seorang analis politik yang tajam, pegiat literasi yang aktif, dan pendiri lembaga survei ternama yang telah mengubah wajah demokrasi Indonesia melalui pendekatan berbasis data.
Kiprahnya menjembatani ruang akademik, aktivisme politik, hingga kini menyentuh ranah strategis dalam korporasi negara sebagai Komisaris Utama dan Komisaris Independen PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sejak10 Juli 2025.
Bagi saya pribadi, perkenalan dengan Denny JA tidak hanya melalui media atau buku-bukunya, tetapi melalui perjumpaan langsung dalam dua kesempatan khusus di Jakarta, yang diprakarsai oleh para sahabat beliau seperti Dr. Budhy Munawar Rachman, Elza Peldi Taher, dan Amelia Fitriani.
Dalam pertemuan itu, saya menyaksikan dari dekat sosok intelektual yang rendah hati, terbuka, dan memiliki kepedulian mendalam terhadap nasib bangsa, termasuk masyarakat dari pinggiran seperti kami di Papua. Ia hadir sebagai figur nasional, sebagai pribadi yang menyambut siapa pun dengan kesetaraan, tanpa sekat latar belakang.
Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika Denny JA menjadi orang pertama yang mengirimkan ucapan selamat dalam bentuk video berdurasi tiga menit di hari ulang tahun media yang saya pimpin, Suara Anak Negeri News.com. Ucapan itu menjadi simbol penghargaan, cerminan relasi batin seorang intelektual dengan rakyat kecil yang suaranya kerap tersisih.
Oleh karena itu, tulisan ini saya hadirkan sebagai sebuah penghormatan dari kampung di Papua, kepa daseorang pemikir nasional yang telah menunjukkan bahwa kepedulian sejati tidak mengenal batas geografi maupun sekat-sekat sosial.
Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika Denny JA menjadi orang pertama yang mengirimkan ucapan selamatdalam bentuk video berdurasi tiga menit di hari ulang tahun media yang saya pimpin, Suara Anak Negeri News.com. Sebuah ucapan sekaligus apresiasi, simbol penghargaan dan cerminan relasi batin seorang intelektual dengan rakyat kecil yang suaranya kerap tersisih.
Lebih dari itu, pada ulang tahun ke-2 Suara Anak Negeri News.com yang jatuh pada 1 Juni 2025, melalui media milik Denny JA, yaitu Orbit, Pemimpin Redaksi Crista Riyanto turut menyampaikan ucapan selamat dan dukungannya. Bagi kami di Papua, perhatian seperti ini bukan hal kecil, ini adalah tanda bahwa suara dari pinggiran benar-benar didengar. Maka, tulisan ini saya hadirkan sebagai bentuk penghormatan dari kampung, kepada seorang pemikir nasional yang telah menunjukkan bahwa kepedulian sejati tak mengenal batas geografi, status sosial, maupun sekat-sekat kuasa.
Latar Belakang dan Pendidikan
Denny JA lahir pada 4 Januari 1963 di Palembang. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia (UI), kemudian melanjutkan ke jenjang Master of Arts (MA) di Ohio University, AS, dan menyelesaikan program doktoral di Ohio State University, menjadikannya salah satu dari sedikit intelektual Indonesia yang menggabungkan kedalaman akademik dengan keterlibatan langsung dalam proses politik dan sosial masyarakat.
Di bidang pendidikan, ia aktif menulis dan mengajar, serta terlibat dalam berbagai diskursus publik melalui artikel, buku, dan forum-forum diskusi kebangsaan. Ia tidak hanya membaca teori, tetapi juga mengujinya dalam realitas Indonesia yang terus berubah.
Pelopor Survei Politik Indonesia
Nama Denny JA mulai dikenal luas saat ia mendirikan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada awal 2000-an. LSI menjadi lembaga pertama yang mengenalkan pendekatan ilmiah dalam survei opini publik menjelang pemilu, serta strategi pemenangan berbasis riset yang kala itu masih dianggap asing.
Melalui LSI, Denny JA mengubah cara elite politik memahami dan menjalankan kampanye. Ia memperkenalkan metode survei kuantitatif sebagai alat bantu utama dalam strategi komunikasi politik. Ini menjadi terobosan besar dalam sejarah demokrasi Indonesia pasca reformasi, ketika masyarakat mulai menyadari pentingnya data dan opini publik dalam menentukan kebijakan dan kepemimpinan nasional.
Di balik layar berbagai pemilihan umum dan pilkada, Denny JA dikenal luas sebagai otak strategi pemenangan para kandidat. Kiprahnya tak hanya tercatat dalam Pemilu Presiden 2024 dan 2030, tetapi juga dalam sejumlah pilkada penting di berbagai daerah. Salah satu pengalaman yang sangat personal bagi saya adalah keterlibatan Denny JA dalam Pilkada Kabupaten Waropen, Provinsi Papua, di mana hasil survei yang ia lakukan menjadi kunci kemenangan mutlak bagi pasangan Drs. F.X. Mote dan Yoel Boari dalam kontestasi 27 November 2024. Kemenangan itu sempat dianggap mustahil oleh banyak pihak, tetapi pendekatan riset yang presisi berhasil mengubah arah sejarah lokal. Dari pengalaman ini, saya menyaksikan sendiri bagaimana Denny JA tidak hanya membaca peta politik, tetapi juga turut membentuk apa yang kini disebut banyak pengamat sebagai “Era Survei Politik Indonesia.”
📚 Artikel Terkait
Dari Analis ke Aktor Strategis
Tidak puas hanya sebagai pengamat, Denny JA kerap menyeberang menjadi aktor strategis di balik berbagai kebijakan dan keputusan politik. Ia menjadi penasihat politik bagi tokoh-tokoh besar dan aktif memberi masukan kepada pemerintahan dalam berbagai isu strategis.
Kehadirannya dalam ranah politik tak hanya teknokratis, tetapi juga ideologis. Ia dikenal membawa narasi pluralisme, toleransi, dan inklusivitas dalam berbagai tulisan dan intervensi politik. Hal ini terlihat dalam dukungannya terhadap minoritas, penolakan terhadap intoleransi, dan kampanye publik tentang demokrasi dan hak-hak sipil. Denny JA menjadi salah satu tokoh publik yang berhasil menggabungkan intelektualisme dengan praktik politik, menjadikan dirinya unik di antara akademisi dan konsultan politik lainnya.
Literasi dan Sastra
Selain dikenal sebagai konsultan politik dan analis survei, Denny JA juga seorang penulis dan pelopor sastra Indonesia modern, terutama dalam format puisi esai. Ia menulis dan mempopulerkan genre ini sebagai perpaduan antara puisi, data, dan narasi sosial.
Karyanya “Atas Nama Cinta” dan “Tuhan dalam Secangkir Kopi” adalah contoh dari keberhasilannya menyampaikan isu sosial dari toleransi hingga diskriminasi melalui medium sastra. Denny JA juga mendirikan Perpustakaan Digital Gratis yang menyediakan ribuan buku dan artikel secara daring, sebagai upaya memajukan literasi bangsa. Ia menjadi satu dari sedikit figur yang menggabungkan dunia survei politik dan dunia puisi, menjadikannya tokoh multidimensi dalam kebudayaan kontemporer Indonesia.
Aktif dalam Dunia Filantropi dan Sosial
Denny JA juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan filantropi. Ia mendirikan Indonesia Tanpa Diskriminasi, gerakan yang fokus pada kampanye kesetaraan dan hak-hakminoritas. Dalam gerakan ini, ia menolak segala bentuk intoleransi atas dasar agama, suku, gender, dan pilihan hidup.Ia juga memberikan beasiswa, menyokong penulis-penulis muda, dan mendukung produksi karya seni yang membawa pesan keadilan sosial. Baginya, kemajuan bangsa bukan hanya ditentukan oleh politik dan ekonomi, tetapi juga kebebasan berpikir dan kekuatan budaya.
Penunjukan sebagai Komisaris Utama PHE: SebuahBabak Baru
Pada 10 Juli 2025, Denny JA resmi ditunjuk sebagai Komisaris Utama dan Komisaris Independen PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding upstream dari PT Pertamina (Persero). Penunjukan ini diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan menjadi perhatian luas publik.
Masuknya Denny JA ke jajaran komisaris Pertamina Hulu Energi menandai perluasan kiprahnya dari ranah politik dan literasi ke sektor energi strategis nasional. Tugas yang memerlukan integritas, kapasitas manajerial, dan kemampuan memahami sektor energi global yang kompleks.
Sebagai Komisaris Utama, Denny diharapkan menjadi jembatan antara perusahaan, pemegang saham, pemerintah, dan masyarakat. Ia memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa praktik tata kelola perusahaan (GCG) dijalankan, transparansi ditegakkan, serta inovasi dan keberlanjutan menjadi prinsip utama.
Dalam penunjukan ini, Denny JA tidak sendiri. Ia bergabung dengan sejumlah tokoh nasional lainnya yang juga ditunjuk sebagai komisaris PHE, seperti: Muhammad Qodari, pendiri Indo Barometer dan Wakil Kepala Staf Kepresidenan, Stella Christie, Wamen Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Andika Pandu Puragabaya, politisi Gerindra mantan anggotaDPR RI,
Nanang Untung dan Wahyu Setyawan, profesional di sektor kebijakan, Iggi Haruman Achsien, Komisaris Independen. Konstelasi ini memperlihatkan bagaimana aktor-aktor strategis dari dunia politik dan akademik kini dipercaya memegang peran penting di sektor energi nasional, menjawab tuntutan era transisi energi, krisis iklim, dan transformasidigitalisasi industri.
Harapan, dan Tantangan
Denny JA sendiri memiliki rekam jejak yang dapat diuji. Ia bukan figur sembarangan. Dengan pengalaman sebagai pengelola lembaga riset, pegiat masyarakat sipil, dan tokoh pluralis, ia memiliki modal untuk membawa transparansi dan arah strategis baru bagi PHE. Tantangan besar menantinya: bagaimana memastikan bahwa sektor energi Indonesia yang selama ini sarat persoalan, bisa menjadi lebih akuntabel, efisien, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Denny JA telah menciptakan warisan yang luas: dari sistem survei politik yang modern, gerakan literasi dan sastra esai, advokasi hak minoritas, hingga kini posisi strategis di perusahaan negara. Ia menunjukkan bahwa seorang intelektual publik bisa menjadi arsitek perubahan, baik melalui opini, kebijakan, maupun pengaruh dalam manajemen korporasi.
Penutup
Denny JA adalah representasi dari generasi pemikir Indonesia yang tidak hanya menulis dari menara gading, tetapi ikut terjun ke gelanggang pertarungan ide dan kebijakan. Ia telah membuktikan bahwa intelektualisme tidak harus steril dar ipolitik; bahwa literasi bisa bersanding dengan strategi; dan bahwa jabatan bisa bermakna jika digunakan untuk perubahan yang substansial.
Dalam dunia yang kian kompleks, Indonesia membutuhkan lebih banyak tokoh yang seperti Denny JA: berani berpikir, berani berbeda, dan berani terlibat. Kini, sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, Denny JA akan menghadapi babak baru: babak tentang energi, keberlanjutan, kedaulatan ekonomi, dan integritas tata kelola. Dan publik menantikankeberpihakan pada kaum termarginal.
*(Paulus Laratmase adalah Pimpinan Umum Media suaraanaknegerinews.com, Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia, tinggal di Biak Papua.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






