Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
Assalamualaikum, sahabat pembaca.
Izinkan saya berbagi sedikit cerita, bukan untuk menggurui, bukan pula untuk menunjuk arah, tapi hanya sebagai teman berbincang di sore hari yang tenang. Kisah ini bukan tentang kejayaan, tapi tentang pencarian. Tentang menjadi “bos kecil” dalam dunia yang besar, bukan kerana kuasa, tapi kerana kemerdekaan jiwa.
Dahulu, saya juga seperti kebanyakan orang. Mengejar ilmu, menuntut ijazah, hingga sampai ke tanah asing yang jauh dari kampung halaman—Australia. Tiga tahun di sana saya habiskan bukan hanya untuk kuliah, tapi juga untuk mematangkan jiwa. Saya membawa anak, membawa harapan, dan membawa pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terpendam: apa sebenarnya yang ingin saya capai dalam hidup ini?
Ketika pulang ke tanah air, hidup tidak serta-merta membawa saya ke ruang-ruang akademik yang nyaman. Sebaliknya, saya memilih membuka warung kecil. Saya memasak, melayani pelanggan, mengurus karyawan. Sederhana, tapi penuh pelajaran. Saya belajar bahwa tidak semua ilmu harus bermula dari kelas. Kadang, dapur dan pasar adalah sekolah terbaik untuk memahami makna ketulusan, kerja keras, dan syukur.
Namun, dalam kesibukan itu, hati saya tetap memanggil saya untuk kembali menulis. Menulis bukan sekadar menyalin kata, tapi meraba makna, mencari arah. Saya menulis kerana di situlah saya merasa benar-benar hidup. Walaupun tidak ramai yang membaca, saya tetap menulis. Walaupun tidak selalu dibayar, saya tetap menulis. Mungkin ini panggilan hati, atau mungkin juga titipan dari Tuhan.
Kini, saya bukan siapa-siapa. Bukan tokoh, bukan selebriti, bukan CEO. Tapi saya adalah “bos kecil” untuk diri saya sendiri. Saya tidak bergantung pada jabatan, tidak terpaut pada pujian. Saya hanya ingin hidup bermakna. Menjadi penulis, bagi saya, adalah jalan untuk menyapa dunia dalam diam. Saya ingin menjadi suara kecil yang jujur di tengah kebisingan zaman.
📚 Artikel Terkait
Sering saya bertanya pada diri sendiri, mengapa saya memilih jalan ini? Mengapa tidak kembali ke universiti, atau bekerja di institusi yang menjanjikan gaji tetap? Jawabannya selalu sama: kerana saya ingin hidup dengan kemerdekaan. Bukan hanya bebas dari tekanan ekonomi, tapi bebas untuk berfikir, menilai, dan mengkritik—termasuk mengkritik diri sendiri.
Dalam setiap tulisan, saya berusaha berdialog dengan para pembaca. Bukan untuk mengajari, tapi untuk mengajak berfikir. Kita hidup di zaman yang penuh dengan citra dan pencitraan. Banyak yang ingin tampil sempurna, tapi lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang jujur. Maka tulisan saya hadir untuk menyejukkan. Bukan untuk membakar semangat secara kosong, tapi untuk menyalakan pelita di hati yang sedang mencari.
Saya percaya, menjadi seseorang bukan selalu tentang jadi pusat perhatian. Kadang, menjadi seseorang berarti menjadi lilin di pojok ruangan yang diam-diam memberi cahaya. Saya ingin menjadi lilin itu. Dan jika tulisan saya dapat menghangatkan satu hati saja, itu sudah cukup.
Kepada anda yang membaca ini, saya ingin menyampaikan satu pesan: tidak mengapa jika anda tidak terkenal. Tidak mengapa jika usaha anda kecil. Tidak mengapa jika hidup anda sederhana. Yang penting, anda tetap jujur. Tetap bersyukur. Tetap berusaha dengan iman dan doa. Kerana hidup ini bukan tentang siapa yang menang, tetapi siapa yang istiqamah.
Dan kalaupun kita tidak sempat melihat hasil dari kerja kita di dunia, semoga ia tetap menjadi amal yang bersemi di akhirat.
Maka, saya akan terus menulis. Dalam sepi, dalam terang, dalam sedar bahawa dunia ini luas tapi jiwa saya cukup kuat untuk terus melangkah. Terima kasih kerana sudi mendengar suara kecil ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





