Dengarkan Artikel
Menakar Ancaman Nyata, Menyusun Strategi Nasional
Oleh: Hanif Arsyad
Di sebuah SMP negeri di Bekasi, seorang guru sejarah meminta siswa menjelaskan latar belakang Sumpah Pemuda. Alih-alih menjawab, salah satu siswa mengangkat ponsel dan berkata, “Coba tanya ChatGPT aja, Pak!” Fenomena ini bukan insiden semata, tetapi gejala mendalam dari “brain rot”, yaitu penurunan fungsi berpikir akibat konsumsi konten digital instan yang berlebihan.
Istilah ini mungkin berasal dari tren global, namun Indonesia kini tengah berada dalam episentrum masalah. Survei Katadata Insight Center (2024) menyebutkan bahwa 85% remaja Indonesia mengakses TikTok dan YouTube lebih dari 3 jam per hari, namun hanya 12% yang memiliki pemahaman tentang validitas konten digital. Fenomena ini diperparah dengan melemahnya kemampuan literasi baca nasional, yang menurut PISA 2022, menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 81 negara.
Kondisi Nyata: Pendidikan Indonesia di Bawah Bayang-Bayang Algoritma
1. Prestasi Akademik Tergerus
Laporan Kemendikbudristek tahun 2024 menunjukkan penurunan skor literasi siswa SMP di 17 provinsi, bahkan setelah diterapkannya Kurikulum Merdeka. Guru di Aceh dan Kalimantan Barat melaporkan kesulitan siswa memahami teks esai dan menyusun argumen tertulis, padahal mereka sangat aktif membuat konten video pendek.
2. Kesehatan Mental Pelajar Menurun
Data Kementerian Kesehatan tahun 2023 mengungkapkan, 15,5% remaja mengalami kecemasan dan depresi ringan hingga berat, banyak di antaranya dipicu konten media sosial dan tekanan sosial digital. Ironisnya, tren self-diagnosis ala TikTok—seperti mengklaim diri ADHD atau bipolar tanpa diagnosis medis—menjamur di kalangan pelajar kota besar.
3. Krisis Komunikasi Tatap Muka
Guru di Yogyakarta dan Makassar menyebutkan anak-anak cenderung kaku berkomunikasi, lebih nyaman mengekspresikan diri lewat stiker, meme, atau emoji ketimbang diskusi langsung. Padahal, keterampilan interpersonal adalah kompetensi utama yang harus dimiliki zaman sekarang.
Di beberapa negara maju, mereka sudah mulai aware dan antisipasi dampak dari brain rot ini. Sebagai contoh di New York City, mereka sudah menerapkan Digital Detox di Sekolah Umum dengan kebijakan “Away for the Day” mewajibkan siswa menyimpan gawai di loker sepanjang jam pelajaran. Hasilnya, peningkatan partisipasi diskusi kelas hingga 31%, serta penurunan masalah perilaku digital.
Sementara di Prancis: Pelarangan Gawai di Sekolah Dasar dan Menengah, Prancis memberlakukan pelarangan ponsel total di sekolah sejak 2018. Tujuannya bukan sekadar disiplin, tetapi menyadarkan anak tentang pentingnya konsentrasi dan interaksi sosial. Studi Kementerian Pendidikan Prancis menyatakan kebijakan ini berdampak pada peningkatan nilai dan ketahanan sosial anak.
📚 Artikel Terkait
Finlandia juga menerapkan Pembelajaran Reflektif dan Slow Tech, Finlandia menekankan digital well-being dan menerapkan prinsip “less is more” dalam pendidikan digital. Anak-anak diajarkan bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi kapan harus berhenti menggunakannya. Ini menghasilkan keseimbangan antara teknologi dan nalar kritis.
Dari beberapa kasus di sekolah dan contoh contoh langkah antisipatif di negara maju, sudah saatnya stake holder pendidikan harus take action sebelum terlambat jatuh ke dalam jurang brain rot terdalam.
1. Pemerintah dan Kementerian Pendidikan
• Integrasi Kurikulum Literasi Digital Kritis
Modul literasi digital di Indonesia masih normatif. Perlu revisi agar menyentuh aspek critical media literacy—bagaimana algoritma bekerja, bagaimana mengenali misinformasi, dan bagaimana memilah konten.
• Revisi Aturan Gawai di Sekolah
Saat ini, kebijakan penggunaan ponsel bergantung pada kepala sekolah masing-masing. Pemerintah perlu menerbitkan panduan nasional terkait batasan dan model digital detox terukur.
2. Sekolah sebagai Benteng Nalar
• Pelatihan Guru untuk Pedagogi Digital
Guru harus dibekali kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi tanpa tunduk pada teknologi. Misalnya, memanfaatkan konten edukatif YouTube dalam diskusi kritis, bukan sekadar hiburan.
• Ruang Reflektif dan Interaksi Tatap Muka
Sekolah perlu memperbanyak sesi tanpa layar: debat, studi kasus, teater sekolah, dan jurnal reflektif. Ini terbukti menguatkan memori dan karakter.
3. Keluarga sebagai Garda Terdepan
• Literasi Digital Orang Tua
Pemerintah daerah dan sekolah perlu membuat workshop parenting digital secara reguler. Banyak orang tua belumpaham cara mengatur screen time atau menggunakanparental control.
• Ruang Waktu Bebas Teknologi di Rumah
Terapkan jam bebas gawai: waktu makan, belajar bersama, dan menjelang tidur. Dorong aktivitas alternatif seperti membaca buku fisik, menulis jurnal, atau bermain tradisional.
Sebagai Refleksi bersama dalam melawan Kolonialisme Algoritma
Ancaman brain rot bukan sekadar masalah remaja main TikTok atau pelajar tak fokus belajar. Ini adalah pertarungan epistemik, ketika otak generasi muda dipenuhi kebisingan instan dan kehilangan kemampuan berpikir sistematis. Jika bangsa ini tidak bergerak cepat, kita tidak hanya kehilangan generasi pembelajar, tapi juga kehilangan arah sebagai bangsa yang merdeka secara nalar.
Seperti kata Dr. Wahdatun Nisa (UINSI):
“Kebangkitan nasional kini bukan lagi soal senjata, tapi tentang siapa yang menguasai narasi dan memanusiakan algoritma.”
Teknologi bukan musuh, tapi jika dibiarkan tanpa arah, ia bisa mengubur kecerdasan kita dalam lautan konten dangkal.
Saatnya Indonesia tidak hanya menjadi konsumen digital, tapi pencipta masa depan digital yang berakar pada nalar, karakter, dan budaya.
Opini ini adalah bagian dari kampanye “Bangkitkan Nalar Digital Anak Bangsa”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






