POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

KDM, Sosok Pemimpin yang Didamba?

Siti HajarOleh Siti Hajar
May 31, 2025
KDM, Sosok Pemimpin yang Didamba?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Siti Hajar

Dalam dunia yang terus bergerak cepat, ketika kehidupan disesaki oleh notifikasi dan propaganda visual, tiba-tiba nama Dedi Mulyadi muncul sebagai anomali. Ia tidak dibentuk oleh algoritma, tidak dipoles oleh tim branding, dan tidak diangkat lewat pameran gelar birokrasi.

Ia muncul dari lorong sempit kampung, dari pasar becek, dari rumah-rumah reot yang lama ditinggal negara. Dan yang paling mencengangkan: rakyat menyambutnya bukan sebagai pejabat, tapi sebagai keluarga. “KDM itu mah, bapak aing.”

Kalimat ini bukan sekadar ekspresi kekaguman, melainkan jeritan dari ruang batin yang selama ini sunyi. Ketika negara gagal menjadi rumah, rakyat mencari figur. Ketika sistem gagal memberi kehangatan, rakyat mencari pelukan. Dan KDM datang, tidak dengan peta jalan pembangunan, melainkan dengan bahasa yang dipahami rakyat. Beliau benar-benar hadir secara utuh, fisik dan juga hatinya.

Ia tidak bicara dari podium. Ia duduk di warung kopi, menegur anak-anak yang mabuk lem dengan cara yang membuat mereka merasa masih punya harapan. Di tengah kekacauan moral yang ditandai oleh anak-anak yang membunuh orang tuanya demi gawai, ketika angka statistik narkoba dan kecanduan gim hanya jadi laporan tahunan, KDM menolak menjadi penonton. Ia bertindak. Dan di sinilah kontroversi mulai menyala.

Pendidikan Barak Militer

Salah satu langkah paling berani—dan paling dibenci, sekaligus dicintai—adalah kebijakannya membawa anak-anak bermasalah ke barak militer. Bagi sebagian orang, itu pelanggaran hak. Bagi yang lain, itu penyelamatan darurat. Tetapi untuk memahami ini, kita harus keluar dari bingkai kota yang nyaman. Di banyak kampung, di banyak lorong sempit perumahan buruh, anak-anak tidak punya hari esok. Mereka sudah kecanduan sejak usia SD. Mereka terlibat tawuran, perampokan, bahkan percobaan pembunuhan. Mereka bukan sekadar nakal—mereka hilang arah.

Dan KDM tahu, sistem formal tak akan bergerak secepat itu. Maka ia melangkah. Membawa mereka bukan ke penjara, tetapi ke tempat di mana mereka bisa kembali mengenal tubuhnya, pikirannya, dan harga dirinya. 

Apakah metodenya ideal? Tidak. Apakah tepat? Sangat mungkin. Karena ketika api sudah membakar rumah, kita tidak bicara merek pemadam. Kita butuh air. Bagaimana segera mungkin apanya harus padam.

Kementerian yang seharusnya paling peduli, justru lebih sibuk mengkritik prosedur ketimbang mengulurkan tangan. Kata mereka: “Itu bukan SOP.” Tapi SOP apa yang selama ini mampu menyelamatkan anak-anak jalanan dari jurang kehilangan identitas? Kritik boleh ada, tapi hasil tak bisa dihapus.

Naluri Kemanusiaan dari Sosok KDM

Langkah KDM bukan sekadar gaya. Ia adalah bentuk kelahiran ulang dari kepemimpinan yang bergerak atas dasar naluri. Ketika sistem terlalu lambat, terlalu rumit, dan terlalu kaku untuk mengerti bahwa kelaparan tidak bisa menunggu anggaran, maka yang lahir adalah keputusan yang mungkin melanggar pakem, tapi menyelamatkan nyawa.

Ia tidak menunggu. Ia tidak mengisi formulir permintaan bantuan sosial. Ia datang. Membawa beras. Duduk. Mendengar. Berbicara dalam bahasa yang membuat orang-orang merasa mereka masih penting. Dan di situ, lahirlah kepercayaan.

Figur Ayah yang Lama Hilang dari Rumah Tangga

KDM sering sekali menyebutkan, hilangnya figure sang ayah. Figur yang senantiasa dibutuhkan anak pada fase pertumbuhan mereka. Bukan hanya secara fisik, tapi secara batin. Banyak laki-laki di rumah hari ini hanya menjadi pemberi uang, bukan pemberi arah. Mereka absen dalam percakapan, dalam pelukan, dalam konflik, dan dalam kasih sayang.

Maka anak-anak pun tumbuh tanpa pijakan. Mereka tidak mengenal suara tegas yang lembut. Tidak mengenal tangan kuat yang tidak memukul. Dan ketika KDM datang—dengan gaya khas Sunda-nya yang bersahabat, dengan ketegasan yang tidak menakutkan—anak-anak itu melihat, mungkin untuk pertama kali dalam hidup mereka, bahwa ada cara menjadi laki-laki yang tidak keras tapi juga tidak lemah.

Rakyat Butuh Tindakan Kerja Nyata Bukan Retorika

Kang Dedi Mulyadi tidak pernah menunggu arahan pusat. Ia tidak membanggakan struktur formal. Dia tidak banyak retorika, perencanaan kegiatan, berapa anggaran yang dibutuhkan. Tidak ada anggaran, tidak jalan. Walau itu terkesan maju sendiri, tapi beliau belajar dari pengalaman, sebuah program akan berjalan setelah rapat berkali-kali, usulkan pendanaan, menunggu cari. Hingga dua tahun ke depan belum tentu sebuah masalah akan terselesaikan. 

Budaya Korporat

Budaya korporat dalam pemerintahan sering menjadikan pelayanan publik sebagai angka-angka kinerja. Yang dihitung bukan lagi senyum masyarakat, tapi output administrasi, serapan anggaran, dan angka statistik dalam presentasi. Pelayanan publik berubah menjadi customer service, di mana rakyat bukan warga negara yang harus dilindungi, tapi klien yang harus “dilayani sesuai SOP”.

📚 Artikel Terkait

Pembangunan Pijay Dinilai Lamban

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)

Pesta Demokrasi Tak Boleh Abaikan Kelompok Rentan

Di Bawah Terik Matahari dan Angin Laut

Dalam dunia seperti ini, tak ada ruang untuk spontanitas, empati, atau tindakan darurat tanpa izin. Maka ketika KDM datang, tanpa memikirkan tender, tanpa menunggu APBD, dan tanpa membawa tim dokumentasi, ia menciptakan budaya tandingan: budaya hadir. Ia menunjukkan bahwa terkadang satu pelukan lebih bernilai dari seribu lembar laporan capaian tahunan. 

Budaya Birokrat

Birokrasi sejatinya dirancang untuk keteraturan, tapi dalam praktik, ia justru menciptakan kekakuan. Dalam sistem ini, rakyat harus melalui lima meja dan tiga stempel hanya untuk mendapatkan bantuan. Empati bukanlah prosedur. Kasih sayang tidak tertera dalam Peraturan Menteri.

KDM meruntuhkan tembok birokrasi ini. Ia tidak datang sebagai”pejabat”, tapi sebagai “bapak kampung”. Ia menolak disebut”yang terhormat”, karena tahu kehormatan bukan datang dari kursi, melainkan dari kerendahan hati untuk duduk bersama rakyat. Dalam dunia birokrasi, pemimpin menunggu laporan. Dalam dunia KDM, pemimpin adalah laporan itu sendiri—yang hidup, berjalan, dan mendengar langsung.

Budaya Protokoler

Protokoler adalah tata urut. Tapi ia kerap menjelma menjadi tembok penghalang. Seorang ibu miskin tak bisa menyampaikan keluhannya karena tidak tahu cara audiensi. Seorang anak yang kelaparan tak bisa menangis di depan pejabat karena tidak punya janji bertemu. Sistem protokoler melatih pemimpin untuk tampil, bukan untuk merasa. Mengajarkan senyum, bukan tangis.

KDM menghancurkan panggung itu. Ia datang ke rumah-rumah warga tanpa seremoni. Ia tidak membawa pengawal ketat. Ia membuka pagar rumah tanpa menunggu aba-aba. 

Protokoler memisahkan, KDM menyatukan.

Dan justru karena itu, rakyat percaya padanya. Mereka tak butuh lagi izin untuk bicara. Tak perlu lagi “surat resmi”. Yang mereka temui bukan pejabat, tapi seorang manusia yang peduli. Dan dalam sistem yang terlalu sering menegaskan “Tidak sesuai prosedur”, rakyat menemukan tempat bernapas.

Sosok yang Menumbuhkan Budaya Alternatif—Budaya Hadir

Di tengah budaya korporat yang mengkomersialisasi pelayanan, budaya birokrasi yang menjauhkan pemimpin dari suara rakyat, dan budaya protokoler yang lebih sibuk merapikan kursi daripada merapikan hati, hadir satu tokoh yang melawan dengan kehadiran. Bukan teori. Bukan formulir. Bukan MoU.

KDM membuktikan bahwa budaya bisa diubah bukan lewat seminar, tapi lewat keteladanan. Ia menumbuhkan budaya baru—budaya yang menempatkan manusia sebagai pusat, bukan sistem. Budaya yang percaya bahwa kehadiran tidak membutuhkan seragam, dan empati tidak perlu pangkat.

Dan inilah yang membuat rakyat berkata: “KDM itu mah, bapakaing.” Karena lebih dari sekadar pemimpin, ia adalah perwujudan dari harapan yang sempat dianggap mustahil: pemimpin yang manusiawi dalam dunia yang terlalu prosedural.

Beliau bertindak. Ketika ada nenek tua menangis karena rumahnya ambruk, KDM tak mengirim surat. Ia datang. Ketika anak-anak mencuri karena kelaparan, ia tidak membentuk tim khusus. Ia ajak mereka bicara, makan, lalu berikan kesempatan baru.

Beliau memberi uang dalam bentuk sumbangan, untuk makan dua tiga hari seterusnya memberi bantuan yang pesannya, “ Ini dijadikan modal usaha, ya!”

Di mata banyak pejabat, ini mencoreng prosedur. Tapi bagi rakyat, ini adalah satu-satunya hal yang membuat mereka merasa masih dianggap manusia.

Ada banyak koleganya- sesama Gubernur terang-terangan menolak apa yang dikerjakannya. Ada yang santun, tetap diam, tidak membantah walau tidak menyetujuinya. Ada yang terang-terangan menolak, menghina menyebut beliau “Gubernur konten” karena apa yang dikerjakannya menjadi postingan youtube-nya sekarang. 

Bagi KDM konten youtube malah dapat memangkas post pengeluaran untuk iklan kegiatan pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

KDM mengembalikan martabat rakyat bukan dengan membangunkan gedung, tapi dengan meruntuhkan jarak antara pemimpin dan yang dipimpin.

Mana yang lebih Bermakna, Hasil atau Prosedural

Pertanyaan yang sering diajukan kepada KDM adalah: apakah cara ini sesuai prosedur? Tapi rakyat tidak pernah menanyakan itu. Yang mereka tanya: apakah saya masih bisa makan? Apakah anak saya masih bisa sekolah? Apakah saya masih bisa bertahan hidup?

Dan pertanyaan itu dijawab oleh KDM dengan tindakan, bukan teori. Di tengah kegilaan negara yang sibuk mematuhi aturan, tapi lupa tujuan, ia hadir sebagai pemimpin yang tahu: dalam kondisi darurat, ketepatan lebih penting daripada kesempurnaan.

Ketika Sosok Mengalahkan Sistem

KDM mungkin bukan politisi sempurna. Tapi justru karena itu, ia menjadi pemimpin yang manusiawi. Ia tidak memakai baju mewah, tapi ia membuat rakyat merasa terhormat. Ia tidak membawa slogan, tapi ia membawa solusi. Ia bukan tokoh yang menjanjikan perubahan lima tahun, tapi ia menghadirkan perubahan dalam lima menit.

Ia bukan sekadar gubernur. Ia adalah simbol rindu rakyat pada kepemimpinan yang hadir, menyentuh, dan peduli.

Dan di zaman ketika rakyat sudah terlalu sering ditipu oleh jargon, terlalu sering diabaikan oleh sistem, kehadiran seperti Dedi Mulyadi bukan hanya dibutuhkan—tapi dirindukan.

Sebagian orang menyebutnya populis. Sebagian menyebutnya pencitraan. Tapi bagi seorang anak yang tak pernah punya figur ayah, bagi seorang ibu yang menahan lapar, bagi seorang remaja yang hampir putus sekolah, dan bagi nenek tua yang rumahnya roboh, Dedi Mulyadi hanya satu hal: Pemimpin yang jadi penyelamat di saat perut keroncongan. Sehat dan terus berjuangKDM. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puisi Al-Azim Effendi

Puisi-Puisi Al-Azim Effendi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00