• Latest

Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah

April 30, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah

Redaksiby Redaksi
April 30, 2025
Reading Time: 2 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Ririe Aiko

“Kemiskinan tak selalu lahir dari kemalasan, melainkan dari sistem yang memilih untuk menutup mata.”

Di sudut jalan kota Bandung, saya bertemu seorang kakek tua penjual balon. Ia berdiri tenang, membawa belasan balon warna-warni yang bergoyang pelan ditiup angin sore. Yang menarik perhatian saya bukan hanya sosok rentanya, tapi tulisan di balon yang ia jual: Harga Seikhlasnya.

Kalimat itu sederhana, tapi memuat beban kehidupan yang tak terkatakan. Ada kepasrahan, ada harapan, ada doa yang dibisikkan dalam diam oleh seseorang yang sudah terlalu lama berjalan di jalan hidup yang berat.

Saya membeli beberapa balon, lalu kami berbincang. Kakek itu bercerita dengan suara yang tak lagi lantang, namun penuh keteguhan. Istrinya meninggal dunia karena sakit yang tak pernah tertangani. Biaya berobat tak mampu mereka jangkau, dan akhirnya ia hanya bisa mendampingi sang istri hingga nafas terakhir tanpa rumah sakit dan tanpa pengobatan layak.

Anaknya dua. Satu merantau jauh ke luar pulau, hidup seadanya. Satu lagi telah tiada, juga karena sakit yang tak terobati. Kini, kakek itu sendiri, berdagang balon demi bisa makan hari ini. Keluarganya yang lain tak bisa banyak membantu—bukan karena mereka tak peduli, tapi karena mereka pun berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup.

Saya terdiam. Di hadapan saya bukan sekadar seorang penjual balon, tapi potret nyata dari wajah kemiskinan yang sering kita lihat namun enggan kita selami. Di usia yang seharusnya dinikmati di teras rumah sambil menyesap teh hangat, ia masih harus berjalan menembus debu kota, menggantungkan hidup pada balon-balon kecil di tangan.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026

Dan ia bukan satu-satunya. Jika kita mau membuka mata lebih lebar, kita akan temukan ribuan—bahkan jutaan—kakek dan nenek lain di penjuru negeri ini yang masih berjibaku mencari nafkah. Bukan karena tak mau beristirahat, tapi karena tak punya pilihan. Mereka bukan menjadi miskin karena tak mau berjuang, melainkan karena sistem menjerat mereka dalam ketidakmerataan yang tak kunjung usai.

Kita hidup di negara yang katanya kaya sumber daya, namun kenyataannya terlalu banyak warganya yang hidup dalam kekurangan. Pendidikan tinggi tidak lagi jaminan kesuksesan, dan kesehatan pun menjadi kemewahan yang sulit dijangkau. Sementara itu, di sisi lain, para elite pejabat menikmati masa tua mereka dengan segala fasilitas, duduk nyaman di kursi empuk, hidup dalam kemewahan yang nyaris tak tersentuh realita rakyatnya.

Lalu, jika kesenjangan sosial sudah sedemikian menganga, siapa yang layak disalahkan? Lagi-lagi, mereka yang hidup dalam kekurangan diminta bersabar. Lagi-lagi, orang susah harus menelan pahitnya hidup seolah itu takdir yang tak bisa digugat.

Kadang, dunia memang tidak ramah pada mereka yang terpinggirkan. Mereka yang terjerat dalam lingkaran kemiskinan kerap kali tak punya jalan keluar, seolah hidupnya hanya berputar dalam labirin yang tak berujung.

ADVERTISEMENT

Namun kita masih memiliki pilihan. Kita bisa terus menjadi bagian dari dunia yang tak peduli, atau mulai menciptakan ruang kecil dalam diri untuk peduli. Sebab, kadang hal paling manusiawi yang bisa kita lakukan adalah duduk sejenak dan berusaha menjadi pendengar yang baik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 369x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 336x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Barong Bola

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com