POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengenal Ariyanto Bakri, Dewa Hukum Terperosok di Sel Tikus

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
April 22, 2025
Mengenal Ariyanto Bakri, Dewa Hukum Terperosok di Sel Tikus
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Sebelumnya, kita sudah berkenalan dengan Marcella Santoso. Sekarang dengan Ariyanto Bakry, tandem dan bestienya. Sambil seruput kopi di Kafe Satu Watt Jalan Martadinata Pontianak, yok kita sisir rambut si pengacara berlumuran dosa ini.

Kalau hukum itu panggung, maka Ariyanto Bakri adalah pemeran utama, sutradara, sekaligus pemilik panggungnya. Ia berjalan di lorong hukum bukan sebagai pengacara biasa, tapi sebagai titisan Themis yang diberi blazer Armani, dasi Hermes, dan Ferrari merah menyala yang kalau diparkir bisa bikin hakim lupa tugas negara. Sebelum ditangkap, ia adalah simbol kesuksesan, kejayaan, dan kemewahan yang seolah bersabda, “Keadilan itu penting, tapi jangan lupa branding.”

Dikenal sebagai pendiri Ariyanto Arnaldo Law Firm, ia tak sekadar mencetak kemenangan di meja hijau, tapi juga di feed Instagram. Foto-foto dirinya berpose di depan Porsche, berpidato di konferensi internasional, hingga bersantai di kapal pribadi sambil membaca berkas perkara (atau pura-pura membaca), menjadikannya semacam pengacara Avengers versi Indonesia, minus moralitas. Gaya hidupnya bukan kaleng-kaleng. Ferrari Spider, Nissan GT-R, Mercedes Benz, dua kapal pribadi, dan uang tunai dalam tiga mata uang dunia. Kalau saja Kejaksaan Agung buka lelang, hasil sitaan dari rumah Ariyanto bisa membiayai subsidi BBM se-Kalibar selama setahun penuh.

Dia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Pancasila, dan konon katanya, skripsinya sempat dibaca dosen sambil berlinang air mata, karena terlalu brilian atau terlalu banyak catut pasal, kita tak pernah tahu. Ia ahli dalam menangani bisnis skala raksasa, dengan klien sekelas Wilmar Group, Musim Mas Group, dan Permata Hijau Group, tiga perusahaan yang, entah bagaimana ceritanya, kemudian jadi objek perkara korupsi minyak goreng senilai Rp17,7 triliun. Ya, betul. Angka itu bukan hasil ketikan salah. Triliun, Bung. Bukan miliaran. Kalau dikumpulkan dalam bentuk receh seratusan, bisa bikin Gunung Salak terlihat seperti bukit teh celup.

📚 Artikel Terkait

Selembar Mukena di Ujung Malam

Memilih Pendidikan, Memilih Masa Depan

APA ARTI PUISI

Diabetes Usia Dini dan Masa Depan Anak Negeri

Lalu, di sinilah klimaksnya, bersama Marcella Santoso, partner in crime, partner in legal strategy, dan partner in downfall, Ariyanto diduga menyusun skema suap senilai Rp60 miliar kepada Muhammad Arif Nuryanta, eks Wakil Ketua PN Jakarta Selatan, dengan bantuan panitera Wahyu Gunawan. Duit itu bukan sekadar “uang rokok” atau “uang terima kasih”. Itu uang pengendali semesta peradilan, dikirim dalam beberapa tahap, disalurkan untuk memastikan majelis hakim membaca berkas perkara dengan “perasaan cinta kasih dan toleransi tingkat tinggi”, yang berujung pada vonis bebas untuk korporasi yang seharusnya bertanggung jawab.

Lebih epiknya, menurut penyidik, mereka berdua tidak cuma menyuap, mereka juga aktif merancang strategi besar untuk membelokkan proses hukum. Ini bukan sekadar pelanggaran etika. Ini high-level jurisprudential heist, plot yang layak dijadikan season baru “Money Heist: Indonesia Edition”, dengan setting ruang sidang dan soundtrack suara mesin hitung uang.

Kini Ariyanto, sang maestro legalitas, berada dalam jeruji. Ironisnya, sosok yang dulu menentukan nasib orang dengan satu ketukan tangan di meja kini harus menunggu giliran untuk pakai kamar mandi umum. Ia tak lagi menenteng tas Louis Vuitton, tapi kresek isi sabun batangan dan sikat gigi penjara. Ia tak lagi memikirkan strategi hukum multinasional, melainkan strategi bertahan hidup di sel sempit, sambil sesekali menatap dinding dan mungkin bertanya dalam hati, “Apakah ini pengadilan takdir?”

Ariyanto Bakri bukan sekadar jatuh. Ia runtuh dari puncak Olympus, dengan blazer sobek, harga diri remuk, dan nama baik yang kini lebih kotor dari lap pel lantai rutan. Tapi begitulah kisah para dewa hukum palsu, mereka terbang terlalu tinggi dengan sayap kertas, dan akhirnya, hujan hukum pun menyapu mereka jatuh ke bumi.

Terima kasih, Ariyanto, telah mengingatkan kita bahwa di balik toga pengacara yang gagah, bisa tersembunyi mentalitas calo parkir berjas. Engkau kini bukan hanya tersangka. Engkau legenda. Dalam buku hitam hukum Indonesia, namamu akan abadi. Dicetak tebal. Dengan catatan kaki, “Pengacara sultan, akhir cerita setara sinetron malam Jumat.”

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Tjut Nyak Dhien Api’ Perlawanan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00