POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

“Walid nak Dewi, Boleh?”

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
April 18, 2025
“Walid nak Dewi, Boleh?”
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Ungkapan itu sedang viral, wak. Diambil dari serial film Bidaah, produksi negeri jiran. Ntah kenapa film itu menjadi terkenal? Mungkin ada kesamaan dengan fenomena di negeri kita. Mungkin? Yok, kita kupas tentu dengan kopi liberika.

Ketika logika sudah pensiun dini dan nafsu naik pangkat jadi ustaz, lahirlah tokoh ikonik bernama Walid Muhammad dari serial Bidaah, drama Malaysia yang baru-baru ini viral di TikTok. Ia bukan sekadar tokoh fiksi. Ia adalah simbol. Simbol bagaimana agama bisa dibengkokkan seperti sendok warung prasmanan, asal kuat niat, semua bisa dilenturkan.

Dalam serial tersebut, Walid adalah pemimpin sekte bernama Jihad Ummah, kelompok keagamaan yang katanya membawa umat menuju Tuhan, tapi di tengah jalan malah singgah ke kamar Dewi. Dengan jubah putih dan kata-kata manis seperti sirup di bulan puasa, Walid merayu para pengikut perempuan lewat konsep “pernikahan batin.” Bukan batin karena sakral, tapi batin karena korban harus menahan sakit, malu, dan air mata.

Lalu, muncul adegan viral, “Saya nak Dewi, boleh?”

Kalimat ini dilontarkan Walid saat ingin menjadikan Dewi, salah satu pengikutnya, sebagai istri spiritual. Sebuah kalimat yang lembut di telinga, tapi tajam di hati. Bukan sekadar rayuan, tapi manipulasi. Bukan cuma gombal, tapi penyalahgunaan kuasa. Ironisnya, alih-alih mengundang kemarahan, kalimat ini jadi bahan meme. Netizen tertawa, konten kreator berlomba-lomba bikin parodi, sementara pesan seriusnya tenggelam di laut lelucon.

Fenomena ini bukan sekadar tontonan. Ia cermin sosial yang memantulkan wajah para lelaki “suci-suci syariah” yang suka sekali bilang, “Menikah lagi itu sunnah.”

📚 Artikel Terkait

Merayakan Hal-Hal Kecil sebagai Bentuk Penghargaan Diri

Public Statement on the Destruction of the “Jeju Tree” in Banda Aceh

BERWIRAUSAHALAH, TUNJUKAN KREATIVITAS ANDA

LITERASI DAN SIKAP KITA

Padahal mereka menafsirkan sunnah hanya di bagian nikahnya, lupa bahwa Nabi juga menyapu rumah dan menjahit baju sendiri.

Mereka berdalih ingin “menyelamatkan janda-janda malang” padahal yang malang justru istri pertama, kedua, dan ketiga, yang hidupnya berubah jadi episode telenovela penuh air mata dan biaya hidup.
Mereka bangga bisa berlaku “adil,” padahal adil mereka hanya soal jatah malam, bukan jatah susu anak. Istri pertama dapat cemburu, istri kedua dapat harapan, istri ketiga dapat giliran lebaran, dan istri keempat, kalau masih sanggup, dapat tagihan.

Drama Bidaah sebenarnya membawa pesan penting, betapa bahayanya bila agama diselewengkan oleh pemuka karismatik yang haus kuasa dan syahwat. Di balik setiap “Saya nak Dewi, boleh?” tersimpan ribuan kisah nyata tentang perempuan yang dimanfaatkan atas nama Tuhan. Namun masyarakat lebih suka tertawa dari berpikir. Lebih sibuk menghafal quote viral dari mencerna makna.

Kalau ente hari ini mengetik pesan kepada istri pertama dengan gaya Walid, berharap dia menjawab dengan ikhlas dan air mata tertahan, cobalah bercermin. Tanyakan, apakah kamu sungguh ingin “membahagiakan” lebih banyak perempuan, atau sekadar memperbanyak korban dari kegagalanmu memahami cinta?

Karena cinta itu bukan menambah istri, tapi menambah tanggung jawab. Kalau kamu masih pakai kalimat “Saya nak Dewi, boleh?” sebagai pembuka, maka izinkan kami menjawab dengan santun, “Nak Dewi? Boleh. Tapi logika dan kewajibannya dulu ditunaikan, ya. Bukan ditukar dengan janji manis atas nama ilahi.”

Hadeh..! Ngopi lagi wak!

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share8SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00