Judul tulisan di atas, membuat setiap orang ikut bertanya. Paling kurang mengapa harus ditanyakan hal itu terhadap sekolah? Apakah ada keraguan bahwa sekolah tidak bisa atau mampu mengajarkan kejujuran kepada peserta didik? Apakah sekolah bukan tempat belajar kejujuran bagi peserta didik? Tentu masih ada pertanyaan- pertanyaan lain yang mengemuka. Bagaimana dengan sikap anda?
Anda pun Setuju bahwa judul tulisan itu seakan menggambarkan rasa tidak percaya atau keraguan terhadap sekolah dalam mengajarkan sikap jujur ke dalam diri peserta didik. Rasa tidak percaya, sekolah bisa mengajarkan dan mendidik anak-anak bisa belajar kejujuran di sekolah yang sesungguhnya, sekolah adalah tempat membangun watak dan perilaku anak atau peserta didik untuk memiliki sikap dan perilaku yang baik-Baik serta berlaku jujur. Karena sekolah bukan hanya tempat atau lembaga yang transfer ilmu, tetapi juga karakter atau perilaku yang mulia.
ADVERTISEMENT
Maka, tidak salah bila ada yang berpersepsi terbaliik. Ya, paling tidak secara implisit, bahkan eksplisit semakin ada keraguan bahwa sekolah bukan lagi sebagai tempat bagi peserta didik belajar dan melatih hidup dengan jujur. Artinya kredibilitas sekolah membangun dan memperbaiki ranah afektif sudah diragukan, kalau tidak bisa dikatakan melorot.
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulaiaktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yangkebutuhan hidup sehari-hari.
Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”
Aktif terlibat dalammembangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak.
Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh