• Latest

Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah

Februari 22, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah

Redaksiby Redaksi
Februari 22, 2025
Reading Time: 4 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Mila Muzakkar

(Sejumlah siswi SMA di Cianjur, Jawa Barat, diminta melakukan tes urine untuk cek kehamilan oleh pihak sekolah) (1)


Di kelas yang seharusnya menjadi ladang ilmu,
hari ini, sesuatu mati di sana.
kebebasan, harga diri, dan kepercayaan kami, hancur berserakan di lantai dingin,
diinjak-injak tanpa ampun.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 17, 2026

Seragam putih abu-abu ini ternoda,
bukan oleh tinta atau kecerobohan,
tapi oleh tangan-tangan mereka yang disebut pendidik.

Satu-persatu, kami dipanggil,
bukan sebagai murid, bukan sebagai pemimpi,
tapi sebagai angka dalam daftar tersangka, seperti buronan yang siap diperiksa.

Di bawah sengatan matahari,
kami berbaris dalam diam,
saling menggenggam tangan yang gemetar.

Mata kami saling bertanya, “Apa yang telah kami lakukan? Mengapa tubuh ini harus dicurigai?”

Di ambang pintu, seorang guru berdiri,
perempuan paruh baya dengan sorot mata dingin.
Sepatu haknya mengetuk lantai seperti palu hakim, seakan vonis sudah dijatuhkan bahkan sebelum kami tahu apa yang terjadi.

“Satu per satu masuk ke dalam,” katanya datar. “Jangan melawan. Ini demi kebaikan kalian.”

Amel, siswi berambut panjang itu, berdiri paling depan, menggigit bibirnya.
Tangannya gemetar, suaranya pecah, tapi keberaniannya tak runtuh: “Bu, kami mau diapakan? Kenapa hanya siswi perempuan yang dikumpulkan?

Guru itu menghela napas, seolah bosan dengan perlawanan. “Ini bukan hukuman, hanya pemeriksaan.”

Amel peserta pertama,
Sekujur tubuhnya dingin,
pipinya menjadi aliran sungai yang tak terbendung.

Seisi ruangan membeku,
angin pun tak berani berbisik.
Kami dibawa ke ruang kosong, dingin, tak berjiwa.
Dinding-dinding beton berdiri tegak, menjadi saksi bisu.

Tubuh kami diperiksa, disentuh tanpa izin, seolah kami hanya lembaran kertas yang bisa dibolak-balik sekenanya.

“Angkat bajumu sedikit,” kata seorang guru, dengan suara yang datar, seolah ini hal yang biasa.
Barisan tubuh-tubuh itu bak patung tak bernyawa,
yang tak punya hak, tak punya perasaan, semua dirampas semaunya.

Siska, seorang siswi berjilbab, terbakar hatinya,
pipinya memerah, bak api yang siap membakar hamparan hutan sawit Kalimantan.

Dengan tangan bergetar, ia memberanikan
diri melawan, “Bu, bukankah Ibu yang bilang, sekolah adalah tempat menimba Ilmu? Tempat kami menggantungkan cita-cita setinggi langit? Mengapa masalah kehamilan juga diurus di sekolah?

Amel, juga ikut meradang.
Ia menjadi singa yang siap menerkam mangsa. “Seandainya anak perempuan Ibu juga dites kehamilan, Ibu akan menerima sebagai kewajaran?”, ucapnya tegas.
Gurunya diam, matanya menghindar, bibirnya bergerak tanpa suara.

ADVERTISEMENT

Kami menelan air mata yang mendidih di dada.
Adegan ini lebih kejam dari mimpi buruk.

Di luar, semilir angin membawa suara-suara kecurigan. “Siapa saja yang sedang diperiksa?” “Siapa yang sudah tidak perawan?”
Suara-suara itu tak ubahnya petir di antara terik matahari.

Kami melangkah keluar dengan kepala tertunduk,
bukan karena bersalah,
tapi karena rasa malu yang mereka paksakan.

Amel menatap jendela, berbisik lirih, “Apakah para penguasa melihat ini? Mereka yang duduk di Senayan, mereka yang menyebut dirinya Menteri Pendidikan?


Malam-malam kami tak lagi sunyi.
Dalam mimpi, kami masih dipanggil, diperiksa, seperti bukan manusia seutuhnya.

Di sudut kamar, Amel berbisik pada bayangannya sendiri, “Mungkinkah esok akan lebih adil pada perempuan?

Di koridor sekolah, kenangan tergantung di dinding.
Tak ada yang berbicara,
tapi semua tahu, ada luka yang tak terlihat, yang selamanya menganga.

Saat mentari terbit,
dengan kepala tegak meski langkah berat, kami membawa luka ini, melangkahkan kaki ke gedung-gedung yang membisu itu.
Sebab katanya, di sanalah kami akan dididik menjadi pintar dan sukses.

Nyatanya, sekolah tak ubahnya penjara yang dihuni barisan polisi moral.
Mereka mengajarkan kami bahwa moral tak apa diinjak-injak di depan keramaian,
bahwa perkara hamil adalah urusan perempuan saja, yang terjadi dengan sendirinya, tanpa laki-laki di sana.

Amel menatap langit.
Di sana, ia melihat Ki Hajar Dewantara menangis.
Amel pun menelan ludahnya,
memegang dadanya yang sesak,
dan ikut mengurai air mata bersama Bapak pendidikan itu.

Depok, 21 Februari 2025

Catatan

Puisi Esai ini dibuat dengan bantuan AI
(1)
https://www.detik.com/jabar/berita/d-7747905/tes-kehamilan-siswi-sma-di-cianjur-dprd-jabar-bakal-panggil-kepala-sekolah.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Masih Menguntungkah Bisnis Warung Kopi di Kutaraja

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com