• Latest

Linda Zainal: Tsunami, Bangkrut dan Berbisnis Sebatang Kara

November 15, 2016
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Linda Zainal: Tsunami, Bangkrut dan Berbisnis Sebatang Kara

Redaksiby Redaksi
November 15, 2016
Reading Time: 3 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Adi W
Menghabiskan hari-harinya dengan berbisnis, Linda Zainal bukan perempuan biasa, dia pernah terpuruk saat tsunami menggada Aceh 8 tahun lalu. Kedua orang tua dan adik-adiknya meninggal, dia sebatang kara menghidupkan bisnis, yang pernah diajarkan ayahnya.
Kini, saban hari Linda Zainal (34 tahun) menghabiskan waktu mengelola tiga tokonya, yang menjual aksesoris handphone. Usaha itu dirintisnya sendiri, setelah bisnisnya dulu yang dibantu sang Ayah, diamuk tsunami. “Saya beruntung, dulu diajarkan berbisnis oleh almarhum orangtua,” ujarnya akhir Desember 2012.
Tiga tokonya bernama Bellinda Galery; satu di Peunayong dan dua di Peuniti, Kota Banda Aceh punya omset ratusan juta rupiah. Dia juga telah mampu menghidupkan belasan karyawannya. Bahkan kini, Linda berencana terus mengembangkan usaha ke arah lain, seperti bisnis restoran dan warung kopi modern.
Hidupnya kini sukses, selain usaha, Linda punya dua rumah dan saat ini sedang menyiapkan lagi sebuah rumah persis di tanah orangtuanya dulu, kawasan Taman Siswa, Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh. Rumah itulah yang nantinya akan ditempati bersama anak dan suaminya. “Karena dulu aku tinggal di tanah itu, maka aku bangun kembali rumah di tempat aku dibesarkan.”
“Orangtuaku telah mengajarkan aku hidup dan berbisnis, aku gak mau mengecewakan mereka dengan hanya bersedih pascatsunami. Aku mau mereka tenang di alam sana,” katanya dengan mata yang berkaca.
Ilmu berdagang diakui datang dari orang tuanya yang pengusaha, sebelum tsunami datang. Sukses ayahnya, Haji Zainal, membuat masa remajanya senang dan bahagia, tak ada kebutuhannya yang kurang. Bahkan saat mulai kuliah di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh tahun 1996, dia sudah mengendarai mobil, padahal sebagian besar rekan kampusnya masih naik angkot.
Dulu, orangtuanya punya beberapa toko, dan Linda kerap membantu mereka. Saat kuliahnya mau selesai, dia dibantu orangtua membuka gerai penjualan handphone dan aksesorisnya. “Waktu itu sudah bisa mandiri,” ujar ibu empat anak ini.
Dua minggu jelang tsunami Aceh, Linda Zainal berangkat ke tanah suci. Saat berada di sanalah tsunami datang menghumbalang Aceh. “Saya sedang di Madinah saat mendengar kabar tsunami. Saya belum tahu bagaimana tsunami dan keberadaan orangtua kala itu.”
Hampir sebulan pascatsunami, Linda pulang bersama para jamaah haji Aceh lainnya. di situlah dia melihat kondisi Aceh yang hancur. Orangtuanya dan adik-adiknya telah tiada, toko dan rumah pun tak tersisa sama sekali. Tinggallah dia sebatang kara.
Linda trauma dan terus bersedih. Beruntung dia tak ikut tinggal di pengungsian, karena beberapa kawan dekat menampungnya. “Hampir tiap hari saya menangis.”
Semangat kemudian tumbuh setelah kawan-kawannya mendukung. Dia juga ingat pesan orangtua agar dapat mandiri dalam hidup. Beberapa rekan bisnisnya di Jakarta menghubunginya pula memberi semangat dan mendukung membuka kembali gerai handphone dan aksesoris.
Tiga bulan kemudian, dengan sisa uang di tabungan yang terbatas dan kepercayaan para supplier, Linda berangkat ke Jakarta dan mulai belanja kebutuhan usaha. Dia membuka kembali toko Bellinda Galery. “Perlahan saya membangun usaha dan terus berkembang, memang masih sedih, tapi itu juga menjadi semangat bagi saya,” ujarnya.
Dua tahun setelah tsunami, Linda berumah tangga dengan Henvrimasyah. Suaminya itulah yang terus mengobati kesedihannya dan trauma yang belum sepenuhnya pulih. “Saya masih trauma lihat laut dan baru tahun kemarin (2011) saya berani ke laut dengan semangat dari suami, itupun hanya di Ulee Lheu (Kecamatan Meuraxa),” kata Linda.
Linda juga mengakui, baru tahun lalu juga dia mulai pulih dari kesedihan mengingat orangtua setiap ulang tahun peringatan tsunami. “Sebenarnya aku berat juga diwawancara, tak kuat mengingat kejadian lalu. Tapi terus didukung suami hingga aku siap.”
Setelah delapan tahun, Linda dapat kembali membangun hidupnya setelah tinggal sendiri, dengan semangat petuah dan ilmu dari orangtuanya yang telah tiada. ***

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Menggali Informasi dan Literatur Tokoh dan Perwira Asal Manggeng di Masa Lalu

Maret 7, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

INDISCHE PARTIJ

Maret 6, 2026
Sandaran yang Patah

Mengajarkan Anak Berpuasa

Maret 1, 2026

Discussion about this post

Next Post

Budaya Sensor Mandiri Tingkatkan Kualitas Perfilman Indonesia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com