HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

ANAK SEBAGAI KORBAN PEDOFIL

Redaksi by Redaksi
Juni 2, 2017
in Lomba Menulis
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh FIFYN SRIMULYA NINGRUM 
Mahasiswa Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Anak merupakan asset bangsa dan negara sebagai generasi penerus, cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan mendapatkan kebebasan. Akhir-akhir ini kejadian kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat. Data yang tercatat pada Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PA) menyebutkan, pada tahun 2013 jumlah kasus kekerasan pada anak meningkat 65% dibanding tahun 2012. Pada tahun 2013 tercatat 1620 kasus KtA, 490 atau sekitar 30% sebagai kasus kekerasan fisik dan 113 kasus kekerasan psikis atau sekitar 19%, serta kasus terbanyak adalah kasus kekerasan seksual yaitu sebanyak 817 kasus (51%). Pada tahun 2013 tercatat 181 kasus berujung pada tewasnya korban.Irosnisnya, pelaku justru merupakan orang terdekat yang seharusnya melindungi anak-anak. Tercatat sebanyak 24% pelaku berasal dari keluarga 56% dari lingkungan sosial, dan sebanyak 17% dari lingkungan sekolah. Ini menujukkan bahwa anak-anak sangat rentan terhadap kekerasan, utamanya terhadap kekerasan seksual. Berdasarkan tempat terjadinya, kekerasan seksual terjadi kebanyakan di rumah (48,7%), sekolah (4,6%), tempat umum (6,1%), tempat kerja (3,0%), dan tempat lainnya (37,6%).

Laporan kasus pedofilia yang masuk ke lembaga terus meningkat.Tahun 2011, ada 2.011 kasus kekerasan terhadap anak, 59% atau 1.480 di antaranya laporan pedofilia. Jumlah laporan kasus kekerasan seksual terhadap anak itu meningkat menjadi 1.628 kasus pada tahun 2012, dan 1.936 kasus pada tahun 2013. Sedangkan pada tahun 2014 hingga bulan April 2015 sudah 179 kasus pedofilia yang dilaporkan ke Komnas Perlindungan Anak Indonesia. Namun yang mengejutkan, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyatakan bahwa pedofilia di Indonesia tertinggi di Asia. Karena kasus yang semakin tinggi ini, pemerintah menyatakan bahwa pada tahun 2014 merupakan tahun darurat kekerasan seksual terhadap anak. Erlinda mengatakan, dari pantauan lembaganya, mayoritas korban kekerasan seksual adalah anak laki-laki dengan perbandingan persentase 60% anak laki-laki dan 40% anak perempuan. Adapun profil pelaku dihampir semua kasus sama yakni orang-orang terdekat anak.

Baca Juga

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Maret 13, 2026
Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026

📢 𝐔𝐏𝐃𝐀𝐓𝐄 𝐓𝐄𝐑𝐁𝐀𝐑𝐔 𝐋𝐎𝐌𝐁𝐀 𝐌𝐄𝐍𝐔𝐋𝐈𝐒 𝐄𝐒𝐀𝐈 𝐍𝐀𝐒𝐈𝐎𝐍𝐀𝐋 𝟐𝟎𝟐𝟓 📢𝐅𝐎𝐑𝐔𝐌 𝐊𝐑𝐄𝐀𝐓𝐎𝐑 𝐄𝐑𝐀 𝐀𝐈 (𝐊𝐄𝐀𝐈)

Oktober 31, 2025

Pedofilia sebagai gangguan atau kelainan jiwa pada seseorang untuk bertindak dengan menjadikan anak-anak sebagai instrumen atau sasaran dari tindakan yang umumnya berupa pelampiasan nafsu seksual. Psikologi mendefinisikan pedofilia sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa dengan usia 16 atau lebih tua, biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber umumnya usia 13 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi. Anak harus minimal lima tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja yaitu umur 16 tahun atau lebih tua, baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia.

Tindak pelecehan seksual ini sangat meresahkan karena yang menjadi korban adalah anak-anak. Pelecehan seksual ini menimbulkan trauma psikis yang tidak bisa disembuhkan dalam waktu singkat. Penderita pedofilia atau pedofilis, menjadikan anak-anak sebagai sasaran. Seorang pedofilis, umumnya melakukan tindakannya, hanya karena di motivasi keinginannya memuaskan fantasi seksualnya. Kriminolog Adrianus Meliala, membagi pedofilia dalam dua jenis; pertama, pedofilia hormonal, yang merupakan kelainan biologis dan bawaan seseorang sejak lahir. Kedua, pedofilia habitual, kelainan seksual yang terbentuk dari kondisi sosial penderitanya. Di masyarakat, kasus-kasus pedofilia banyak terjadi. Namun masih sedikit terungkap dan diketahui publik.

Menurut Adrianus Meliala, itu tidak semata terkait dengan peradaban masyarakat Indonesia sebagai orang timur, akan tetapi juga perilaku para pedofilis yang semakin canggih dan meninggalkan pendekatan kekerasan. Ini terbukti kalangan pedofilis menggunakan berbagai cara juga modus untuk “menjerat” Korbannya. beberapa di antaranya tahun 2001, Michael Rene Heller, warga negara Perancis, mencabuli tiga orang di Karang Asem dengan modus korban dijadikan anak angkat. tahun 2004, Tony William Stuart Brown, warga negara Australia, mencabuli dua remaja di Bali dengan modus memberikan uang dan makanan kepada korban. Kemudian pada tahun 2005, Max Le Clerco, warga negara Belanda, mencabuli satu orang di Banjar Kali asem dengan modus memberikan sepatu sepak bola. Tahun 2006, MH, warga negara Indonesia, mencabuli enam siswa SD di Bali dengan modus memberikan uang kepada korban dan mengancam korban yang menolak. Tahun 2010, Baekuni, warga negara Indonesia, mencabuli dan membunuh 14 orang di Jakarta dengan modus mengajak korban bermain, kemudian dibunuh, disodomi, dan dimutilasi. Serta pada tahun 2014, Tjandra Adi Gunawan, menyebarkan sepuluh ribu foto porno anak di bawah umur, lokasi di Surabaya, dengan modus menyamar sebagai dokter kesehatan reproduksi remaja kemudian meminta korban berfoto berpakaian lengkap hingga telanjang, bahkan korban diminta bermasturbasi dengan difoto. Serta Kasus Jakarta International School, dan Andri Sobari alias Emon, pria 24 tahun asal Kota Sukabumi ini diduga telah mencabuli 114 orang anak. Sehingga anak-anak banyak yang menjadi korban karena secara sosial dan kedudukannya anak-anak itu lemah, mudah diperdaya, ditipu, mudah dipaksa dan takut untuk melapor kepada orang tuanya kendati telah berkali-kali menjadi korban.

Note: Setiap naskah lomba yang dimuat pada portal www.potretonline.com sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Setiap artikel lomba tidak melalui proses editing.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 223x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 162x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 127x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 125x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Doa di Bulan Ramadan

Malam Lailatul Qadar

Maret 15, 2026
Agama

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Kualitas pendidikan

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Next Post

Kekerasan seksual pada Anak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com