Oleh: Novita Sari Yahya
Ketika ada yang mempertanyakan prestasi pribadi saya, saya selalu mengembalikan pertanyaan itu pada hal yang paling mendasar: prestasi yang mana? Pertanyaan ini bukan bentuk penghindaran, melainkan upaya untuk meluruskan cara pandang. Sebab, sejak awal saya menyadari bahwa ukuran prestasi tidak tunggal. Ia bergantung pada sudut pandang, nilai yang dianut, serta jalan hidup yang dipilih.
Jika prestasi dimaknai sebagai jabatan, kekuasaan, atau capaian materi, maka saya harus jujur mengatakan bahwa saya tidak menempatkan diri dalam jalur tersebut. Saya tidak sedang berlomba menjadi pejabat, tidak pula menakar hidup dari posisi struktural dalam pemerintahan. Jalan yang saya pilih adalah jalan yang sunyi, tetapi sarat makna yaitu aktivisme.
Aktivisme bukan sekadar gerakan protes atau kritik terhadap kebijakan. Ia adalah kerja panjang yang sering kali tidak terlihat, tidak populer, dan bahkan kerap disalahpahami. Aktivisme adalah tentang keberpihakan.Tentang memilih untuk berdiri bersama masyarakat, khususnya mereka yang selama ini terpinggirkan oleh sistem.
Jika hari ini masyarakat Indonesia dapat mengakses layanan kesehatan yang lebih terjangkau melalui BPJS, maka itu bukanlah hasil kerja satu pihak semata. Di balik kebijakan tersebut, ada perjalanan panjang gerakan masyarakat sipil, advokasi kebijakan, diskusi akademik, hingga tekanan moral yang terus dilakukan oleh para aktivis. Mereka mungkin tidak tampil di panggung utama, tetapi suara mereka turut membentuk arah kebijakan.
Demikian pula ketika muncul berbagai perdebatan mengenai program makan bergizi gratis. Saya perlu menegaskan bahwa sejak awal, kami tidak berada pada arus gagasan tersebut. Sejak tahun 2018, kami justru mendorong pendekatan yang berbeda: nutrisi berbasis kearifan lokal dengan penguatan peran perempuan sebagai penggerak utama. Kami percaya bahwa ketahanan pangan dan pemenuhan gizi tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan sentralistik. Tapi harus tumbuh dari komunitas, dari dapur-dapur keluarga, dari pengetahuan lokal yang telah teruji oleh waktu.
Pendekatan ini mungkin tidak secepat program nasional berskala besar, tetapi ia lebih berkelanjutan. Membangun kesadaran, bukan ketergantungan. menguatkan masyarakat, bukan sekadar memberi bantuan.
Hal yang sama juga terjadi dalam polemik mengenai koperasi Merah Putih. Dalam berbagai forum, kami telah mengusulkan model yang menurut kami lebih sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia, yaitu penguatan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) sebagai basis filantropi ekonomi. Model ini tidak hanya berbicara tentang simpan pinjam, tetapi juga tentang solidaritas sosial, distribusi keadilan ekonomi, dan integrasi dengan teknologi digital.
Bagi kami, koperasi bukan sekadar badan usaha formal. Ia harus memiliki fondasi sosial yang kuat. Tanpa itu, koperasi hanya akan menjadi institusi administratif yang kehilangan ruhnya. Sementara BMT, dengan pendekatan komunitas dan nilai-nilai filantropi, memiliki potensi untuk tumbuh lebih organik dan berkelanjutan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara kerja aktivisme dan logika kekuasaan. Aktivisme tidak selalu menghasilkan sesuatu yang instan. Ia tidak selalu bisa diukur dengan angka-angka kuantitatif dalam waktu singkat. Namun, dampaknya nyata. Kerja aktivisme hadir dalam perubahan cara berpikir masyarakat, dalam kebijakan yang lebih adil, dan dalam ruang-ruang kecil kehidupan yang menjadi lebih manusiawi.
Kami bekerja dalam sunyi, tetapi bukan berarti tanpa hasil. Justru dalam kesunyian itulah, kerja-kerja substansial sering kali dilakukan. Tanpa sorotan kamera, tanpa publikasi berlebihan, tetapi dengan komitmen yang tidak berubah.
Kami bukan pejabat yang hidup dari pajak rakyat. Kami juga bukan bagian dari kepentingan politik tertentu. Kami berdiri di atas keyakinan bahwa perjuangan harus berpihak pada rakyat. Bukan pada kekuasaan, bukan pada popularitas, dan bukan pada kepentingan jangka pendek.
Ketika ada yang berharap saya akan menjadi politisi atau menduduki jabatan dalam pemerintahan, saya memahami harapan tersebut. Namun, sejak awal saya telah menjelaskan bahwa pilihan hidup saya berbeda. Bukan karena saya menolak politik, tetapi karena saya memilih berkontribusi dari ruang yang lain. Ruang yang mungkin tidak terlihat, tetapi tetap penting.
Pilihan ini tidak lahir dari ruang kosong. Diibentuk oleh sejarah keluarga, oleh nilai-nilai yang diwariskan, dan oleh kesadaran akan tanggung jawab moral terhadap bangsa.
Saya lahir dari keluarga yang memiliki jejak panjang dalam perjuangan Indonesia. Kakek buyut saya, Jahja Datoek Kajo, adalah anggota Volksraad selama dua periode. Ia dikenal sebagai sosok yang lantang menentang kebijakan kolonial Belanda. Kemampuannya dalam berbahasa menjadikannya figur yang disegani, bahkan di forum yang didominasi oleh kekuasaan kolonial.
Perjuangan itu tidak berhenti pada satu generasi. Putranya, Brigjen Daan Jahja, menjadi bagian penting dalam sejarah militer Indonesia. Ia tercatat sebagai Gubernur Militer Jakarta Raya pertama, sebuah posisi strategis pada masa awal kemerdekaan. Jejaknya masih dapat dilihat dalam dokumentasi resmi negara, sebagai bagian dari sejarah yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa.
Daan Jahja juga memiliki keterkaitan dengan semangat perjuangan Divisi Siliwangi. Dari menghadapi agresi militer hingga peristiwa Long March Siliwangi, semua itu menjadi bagian dari narasi besar perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia juga berada dalam lingkaran pergerakan yang melibatkan tokoh-tokoh muda pada masa itu, yang memiliki visi tentang Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Dalam keluarga kami juga terdapat Kolonel Maritim Achirul Jahja, yang dikenal sebagai pemimpin daerah dengan visi yang kuat. Sementara itu, kakek saya, dr. Sagaf Yahya, berperan dalam dunia politik dan pemerintahan sebagai pendiri Partai Parindra dan Residen pertama Jambi. Perannya tidak hanya administratif, tetapi juga sebagai penggerak semangat kemerdekaan di daerah.
Ayah saya, dr. Enir Eni Sagaf Yahya, melanjutkan tradisi tersebut dalam bentuk yang berbeda. Ia adalah bagian dari generasi awal Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, terlibat dalam dinamika politik melalui Tentara Mahasiswa PRRI, serta pernah menjadi ajudan Mohammad Natsir. Dari beliau, saya belajar bahwa pengabdian bisa mengambil banyak bentuk.
Dengan latar belakang seperti itu, saya tidak pernah melihat perjuangan sebagai sesuatu yang instan. Tapi proses panjang yang melibatkan banyak generasi. Bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi tentang siapa yang paling konsisten.
Karena itu, menjadi tidak tepat jika kerja-kerja yang kami lakukan disamakan dengan mereka yang baru muncul dan masih mencari bentuk. Setiap orang tentu memiliki prosesnya masing-masing, tetapi sejarah tidak bisa diabaikan. Sejarah perjuangan keluarga adalah fondasi yang membentuk cara kita melihat dunia dan menentukan pilihan.
Saya tidak sedang membandingkan, apalagi merendahkan. Saya hanya mengajak untuk melihat dengan jujur bahwa ada perbedaan antara perjuangan yang lahir dari kesinambungan sejarah dan perjuangan yang masih berada pada tahap pencarian.
Pada akhirnya, saya kembali pada pertanyaan awal: prestasi yang mana? Jika prestasi diukur dari jabatan, maka saya mungkin tidak memiliki banyak hal untuk ditunjukkan. Namun, jika prestasi dimaknai sebagai kontribusi terhadap perubahan sosial, sebagai bagian dari gerakan yang memperjuangkan keadilan, maka saya berdiri di sana, bersama banyak orang yang mungkin tidak dikenal, tetapi memiliki komitmen yang sama.
Perjuangan ini bukan tentang saya sebagai individu. Tentang kami sebagai bagian dari gerakan yang lebih besar. Gerakan yang percaya bahwa Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang berada di kursi kekuasaan, tetapi juga oleh mereka yang bekerja di luar sorotan.
Dan selama keyakinan itu masih ada, saya tidak merasa perlu mencari pengakuan. Sebab, bagi saya, makna perjuangan tidak terletak pada apa yang terlihat, tetapi pada apa yang dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.





















Diskusi