Oleh Fileski Walidha Tanjung
Joglo Taman Obor, Kota Madiun, pada Jumat siang 10 April 2026 terasa lebih hidup dari biasanya. Waktu menunjukkan sekitar pukul 13.00 WIB ketika suara pembawa acara, Natasha, membuka rangkaian peristiwa yang kelak saya sadari bukan sekadar seremoni kebudayaan, melainkan sebuah eksperimen sosial tentang bagaimana manusia merayakan perbedaan tanpa harus kehilangan arah bersama. Perlahan saya merasa menjadi bagian dari sebuah teks besar yang sedang ditulis oleh banyak tangan—teks yang bernama kebersamaan.
Performance art oleh Rara Respatiana dan Riani Handayani membuka ruang yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh bahasa. Tubuh mereka menjadi medium, gerak menjadi kalimat, dan keheningan menjadi tanda baca yang paling jujur. Dalam momen itu, saya teringat pada pemikiran Friedrich Nietzsche yang pernah mengatakan, “Kita memiliki seni agar tidak mati karena kebenaran.” Kutipan itu terasa menemukan konteksnya di hadapan saya. Seni bukan sekadar pelarian dari realitas, tetapi cara lain untuk menanggungnya, bahkan menafsirkannya ulang.
Sambutan Dwi Kartika Rahayu sebagai ketua panitia dan kurator membawa dimensi lain. Ia tidak hanya berbicara tentang pameran, tetapi tentang harapan yang dilipat dalam setiap goresan anak-anak yang melukis. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa harmoni bukanlah keseragaman, melainkan keseimbangan dinamis yang lahir dari keberagaman. Saya menangkap satu hal penting di sini: bahwa harmoni sejati selalu mengandung potensi konflik yang dikelola, bukan dihapuskan. Dalam dunia yang sering mengidealkan keseragaman sebagai stabilitas, gagasan ini terasa seperti kritik halus terhadap kecenderungan kita untuk menyederhanakan kompleksitas.
Pidato Titus Tri Wibowo memperluas cakrawala itu. Ia menempatkan peristiwa ini dalam lanskap yang lebih besar, bahwa Madiun—yang sering dianggap bukan pusat arus utama seni rupa—mampu menghadirkan peristiwa yang sejajar dengan kota-kota budaya seperti Yogyakarta dan Surakarta. Pernyataannya menyiratkan kritik terhadap sentralisasi budaya yang selama ini kita terima sebagai sesuatu yang wajar. Apakah pusat selalu lebih bermakna daripada pinggiran? Atau justru pinggiranlah yang diam-diam menyimpan kemungkinan-kemungkinan baru?
Prosesi pemecahan kendi pada pukul 14.00 WIB menjadi simbol yang menarik untuk direnungkan. Kendi, sebagai wadah, dipecahkan untuk menandai pembukaan. Ada paradoks di sana: sesuatu yang utuh harus dihancurkan agar sesuatu yang baru bisa dimulai. Saya teringat pada Hannah Arendt yang mengatakan, “Setiap tindakan adalah sebuah permulaan.” Dalam konteks ini, pemecahan kendi bukan sekadar ritual seremonial, tetapi metafora tentang keberanian untuk memulai dengan merelakan yang lama.
Tur pameran yang dipandu kurator membuka pengalaman lain. Lukisan-lukisan karya anak-anak seperti Gangga, Huiga, hingga Al Barra, bukan hanya objek visual, tetapi narasi tentang dunia yang mereka bayangkan. Saya melihat warna-warna yang tidak tunduk pada aturan, bentuk-bentuk yang menolak presisi, dan komposisi yang justru menemukan keindahannya dalam ketidaksempurnaan. Di sana saya menemukan sebuah pelajaran yang sering dilupakan oleh orang dewasa: bahwa kreativitas lahir bukan dari keteraturan yang kaku, tetapi dari kebebasan yang bertanggung jawab.
Tema besar acara ini, “Harmoni dengan Seni” dalam rangka pemecahan rekor MURI menghias telur terbanyak dengan tema moderasi beragama, menghadirkan lapisan makna yang lebih dalam. Telur, sebagai simbol kehidupan, menjadi medium untuk mengekspresikan gagasan tentang keberagaman. Dari anak pra-TK hingga mahasiswa, bahkan ibu-ibu rumah tangga, semua terlibat dalam satu aktivitas yang sama. Ini bukan sekadar partisipasi massal, tetapi representasi dari sebuah imajinasi kolektif: bahwa perbedaan dapat dirayakan tanpa harus dipertentangkan.
Namun, di tengah euforia ini, saya merasa perlu mengajukan satu pertanyaan kritis. Apakah harmoni yang kita rayakan ini benar-benar lahir dari kesadaran, atau hanya sebuah momen sesaat yang digerakkan oleh acara? Dalam banyak kasus, kebersamaan sering kali berhenti pada level simbolik. Kita berkumpul, berfoto, dan merayakan, tetapi setelah itu kembali ke sekat-sekat lama yang tak terlihat. Di sinilah seni diuji: apakah ia mampu melampaui peristiwa dan menjadi kesadaran yang menetap?
Saya akan kembali ke tempat ini pada Sabtu malam, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pemantik dalam diskusi bertajuk “Falsafah Telur.” Saya membayangkan diskusi itu bukan sekadar forum intelektual, tetapi ruang untuk menggugat kembali makna dari simbol yang kita gunakan. Telur bukan hanya tentang kehidupan, tetapi juga tentang kemungkinan pecah. Dan mungkin, justru dalam retakan itulah, kita menemukan ruang untuk memahami satu sama lain.
Pada akhirnya, hari ini mengajarkan saya bahwa harmoni bukanlah kondisi yang selesai, melainkan proses yang terus berlangsung. Ia tidak hadir dalam kesunyian konflik, tetapi dalam keberanian untuk menghadapinya dengan cara yang lebih manusiawi. Seni, dalam konteks ini, bukan hanya cermin, tetapi juga alat untuk membentuk realitas.
Maka pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang seberapa indah karya yang kita hasilkan, tetapi seberapa dalam kita bersedia terhubung satu sama lain melalui karya itu. Apakah kita benar-benar siap hidup dalam keberagaman, atau kita hanya menikmati gagasannya sebagai estetika? Dan ketika acara ini selesai, ketika lampu dipadamkan dan lukisan-lukisan kembali menjadi objek diam, apakah harmoni itu akan tetap hidup dalam cara kita memandang sesama. (*)

























Diskusi