Oleh: Nurul Hikmah
Dalam beberapa tahun terakhir, pola pendekatan Amerika Serikat terhadap konflik global—khususnya ketegangan antara Iran dan Amerika—menunjukkan kecenderungan yang menarik. Alih-alih hanya mengandalkan sekutu tradisional di Barat, Amerika justru semakin sering menggandeng negara-negara Asia sebagai pihak penengah. Indonesia, Pakistan, hingga China silih berganti masuk dalam lingkaran diplomasi ini.
Pertanyaannya, mengapa Asia?
Jika dilihat sekilas, negara-negara ini bukanlah kekuatan utama yang secara mutlak mendominasi dunia. Namun jika ditarik ke perspektif sejarah, posisi mereka justru jauh lebih signifikan daripada yang terlihat saat ini.
Asia—khususnya kawasan yang melibatkan Indonesia, Pakistan, dan China—pernah menjadi pusat peradaban dunia. Jalur perdagangan kuno seperti Jalur Sutera menghubungkan Timur dan Barat, menjadikan wilayah-wilayah ini sebagai simpul utama pertukaran barang, budaya, hingga ideologi.
Selat Malaka, misalnya, sejak abad ke-14 telah menjadi salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Begitu pula wilayah Asia Selatan dan Asia Timur yang menjadi denyut nadi pergerakan ekonomi global pada masanya.
Seiring berkembangnya teknologi pelayaran dan ekspansi bangsa Eropa, pusat gravitasi dunia perlahan bergeser. Jalur darat mulai ditinggalkan, jalur laut menjadi dominan, dan peradaban-peradaban besar di sepanjang Jalur Sutera tersamarkan oleh munculnya kekuatan baru di Eropa dan kawasan Teluk.
Namun ada realitas yang sering diabaikan: kekuatan kawasan Teluk berdiri di atas fondasi yang secara struktural rapuh. Ketergantungan ekstrem terhadap desalinasi air membuat sebagian besar energi, biaya, dan infrastruktur mereka terserap hanya untuk mempertahankan kebutuhan paling dasar—air.
Ini bukan sekadar isu teknis, tetapi beban permanen yang terus menggerus efisiensi ekonomi. Dalam kondisi seperti itu, klaim penguasaan jalur perdagangan global menjadi ilusi mahal: terlihat dominan, tetapi dengan dividen strategis yang relatif kecil.
Lebih jauh lagi, proyek-proyek besar yang dibangun dalam kerangka kerja sama Arab–Barat, termasuk dominasi energi yang dipelopori oleh Saudi Aramco, tampak seperti upaya mempertahankan sistem yang sebenarnya sudah kehilangan pijakan. Ini bukan fondasi yang kokoh, melainkan seperti membangun di atas “benang basah”—besar, mahal, tetapi tidak pernah benar-benar stabil.
Dalam konteks itu, muncul dugaan yang lebih tajam: jalur-jalur perdagangan alternatif—terutama jalur darat Asia—bukan sekadar ditinggalkan oleh sejarah, melainkan pernah “dipinggirkan” secara sistematis untuk menopang dominasi jalur energi dan laut yang menguntungkan blok tertentu.
Namun realitas global hari ini tidak lagi bisa ditopang oleh struktur yang rapuh tersebut. Ketika biaya mempertahankan sistem ini semakin tinggi dan tekanan geopolitik meningkat, jalur-jalur lama itu tidak punya pilihan selain hidup kembali—bukan karena romantisme sejarah, tetapi karena kebutuhan strategis yang tak bisa lagi dihindari.
Meski demikian, jejak kejayaan itu tidak pernah hilang. Ia hidup dalam budaya, tradisi, arsitektur, hingga kuliner masyarakat. Kota-kota yang dahulu menjadi persinggahan penting tetap bertahan sebagai “kota yang tak pernah mati,” menyimpan memori kolektif tentang masa ketika dunia berpusat di sana.
Kini, ketika dunia kembali dihadapkan pada ketidakstabilan—konflik geopolitik, krisis energi, hingga gangguan rantai pasok global—pertanyaan lama kembali muncul: ke mana dunia harus mencari alternatif?
Jawabannya mulai terlihat sejak lebih dari satu dekade lalu. Pada tahun 2013, Xi Jinping memperkenalkan gagasan besar yang kemudian dikenal sebagai Belt and Road Initiative. Inisiatif ini bertujuan menghubungkan kembali Asia, Eropa, dan Afrika melalui jaringan infrastruktur darat dan laut—menghidupkan kembali semangat Jalur Sutera dalam bentuk modern.
Memasuki sekitar tahun 2018, proyek ini mengalami percepatan signifikan. Pembangunan rel kereta lintas negara, jalan raya, pelabuhan, serta konektivitas logistik diperluas ke berbagai kawasan. Fokusnya tidak hanya pada efisiensi ekonomi, tetapi juga pada pembentukan jaringan global baru yang lebih terintegrasi.
Salah satu simbol nyata dari perubahan ini adalah jalur kereta yang menghubungkan kota Xi’an—yang dikenal sebagai titik awal Jalur Sutera kuno—menuju Asia Tengah hingga Eropa, bahkan mencapai Istanbul sebagai gerbang antara Timur dan Barat.
Transformasi ini tidak hanya terlihat dari sisi infrastruktur. China juga melakukan revitalisasi kota-kota bersejarah, memugar bangunan lama tanpa menghilangkan identitasnya, serta mendorong produksi narasi budaya melalui film dokumenter dan media lain yang kembali mengangkat kejayaan Jalur Sutera. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2023 hingga 2025, upaya ini terlihat semakin intens dan terarah.
Di sisi lain, dunia mulai menyadari bahwa ketergantungan pada jalur laut memiliki risiko besar—mulai dari konflik geopolitik hingga gangguan distribusi global. Dalam kondisi tertentu, jalur darat dapat menjadi alternatif strategis yang lebih stabil untuk menjaga konektivitas antarnegara. Lalu, bagaimana dengan langkah Amerika dan kebijakan tokoh seperti Donald Trump?
Melibatkan negara-negara Asia sebagai mediator mungkin bukan sekadar strategi diplomasi biasa. Bisa jadi, ini merupakan bentuk adaptasi terhadap pergeseran kekuatan global yang perlahan kembali mengarah ke Asia.
Negara-negara yang dulunya berada di jalur perdagangan utama kini kembali memiliki posisi strategis dalam menentukan arah konektivitas dunia.
China mungkin berbenah untuk kepentingannya sendiri—memperkuat ekonomi dan memperluas pengaruh. Namun di saat yang sama, langkah tersebut juga membuka kembali jalur perdagangan yang selama ini terfragmentasi.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih besar: apakah ini sekadar kebangkitan alami dari pola sejarah, atau bagian dari desain geopolitik yang lebih terencana?
Yang jelas, dunia tampaknya sedang bergerak kembali ke titik yang pernah menjadi pusatnya. Dan jika pola ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin jalur yang dulu dianggap kuno justru akan kembali menjadi tulang punggung konektivitas global di masa depan.















