• Latest
IMG_0740

Berubahkah Iklim?

April 11, 2026

Ayah Sop dan Abon Buni: Jihad Politik Ulama dari Dayah hingga Akar Rumput.

April 11, 2026
addb07c6-6086-4dc9-adf0-89149da48f97

Cahaya Gramatika: Menata Nahwu dalam Arsitektur Peradaban Islam

April 11, 2026
Diskriminasi tidak selalu terlihat jelas—ia kerap hadir dalam sikap kecil yang dianggap wajar dalam pergaulan.

Dari Pikiran ke Tindakan: Rantai Prasangka dan Diskriminasi di Sekitar Kita

April 11, 2026
Berubahkah Iklim? - f1bdf4cf 9647 4450 9e5d 5fe8e2797b93 | Perubahan İklim | Potret Online

Kembalinya Jalur Sutera: Strategi Tersembunyi di Balik Manuver Global

April 11, 2026
Mahasiswa duduk sendiri di lingkungan kampus dengan ekspresi cemas sementara mahasiswa lain berlalu di belakangnya

Bukan Sekadar Malu: Kecemasan Sosial yang Menggerus Percaya Diri Mahasiswa

April 11, 2026
db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172

Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

April 11, 2026
2fc46e4c-99ca-4bd5-8807-7ae4e054e3db

Rekor MURI, Pameran Lukisan, Menghias Telur, dan Makna Kemanusiaan dalam Keberagaman

April 11, 2026

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

April 11, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
IMG_0740

Berubahkah Iklim?

Teuku Masrizar by Teuku Masrizar
April 11, 2026
in Perubahan İklim, Hutan, Hutan Nanggroe, kerusakan hutan, Lingkungan, Penebangan hutan, Tapaktuan
Reading Time: 3 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

(Bagian Kedua)

Oleh : Teuku Masrizar 

Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Sejak pagi saya sudah berkutat dengan pekerjaan kantor. Badan mulai terasa lelah, pikiran pun agak penat—tanda klasik butuh kafein. Saya pun keluar kantor, berniat mencari secangkir kopi.

Baca Juga:
  • Berubahkah Iklim?
  • Hifz al-Biah: Solusi Islami untuk Mengatasi Perubahan Iklim di Aceh
  • Kita pun Bisa Mencegah Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Langit yang tadi cerah tiba-tiba berubah. Awan hitam menggantung, seolah memberi tanda,  hujan akan segera turun.

Saya menyalakan Innova dinas keluaran 1998, mobil yang hampir empat tahun setia menemani pekerjaan. Saya pacu sedikit lebih cepat, berharap sampai tujuan sebelum hujan benar-benar jatuh.

Tujuannya sederhana,  RTH Taman Pala Indah. Selain kopinya yang terkenal “nendang”, tempat itu juga menjadi salah satu titik yang perlu saya pantau.

Namun alam bergerak lebih cepat dari rencana saya.

Baru sekitar tujuh menit di jalan, hujan turun deras. Saya segera memarkir mobil di tempat yang teduh dan mencari kursi kosong. Tak lama, pelayan datang dan saya memesan segelas arabika pahit, teman terbaik di tengah hujan.

Suasana siang itu lebih ramai dari biasanya. Banyak orang singgah, sebagian memang ingin menikmati kopi, tapi tak sedikit yang hanya berteduh. Motor dan mobil parkir sembarangan, sedikit mengganggu arus jalan.

Di tengah suasana itu, telinga saya menangkap percakapan dua ibu di dekat meja.

“Dari tadi panas, tiba-tiba hujan. Bikin susah aja,” gerutu salah satu dari mereka sambil mengelap wajah dengan tisu.

Temannya hanya tersenyum.

“Kok diam? Sarinya habis ya?” candanya.

Temannya menjawab ringan, “Makanya, jangan pakai make up tebal-tebal. Hujan dikit langsung luntur. Bawa sapu tangan dong, bukan tisu terus.”

Percakapan sederhana, tapi cukup menggelitik. Saya tersenyum sambil menyeruput kopi. Kafein mulai bekerja, dan pikiran saya ikut mengembara.

Mungkin ibu pertama belum benar-benar menyadari bahwa perubahan cuaca seperti ini kini makin sering terjadi. Pagi cerah, siang mendung, lalu hujan deras, dan tak lama kemudian kembali terang, seolah alam sedang “bingung” dengan ritmenya sendiri.

Fenomena ini bukan lagi hal langka.

Saya lalu merenung dari sudut pandang yang lebih luas. Bahkan hal kecil seperti make up dan tisu yang mereka bicarakan sebenarnya punya jejak panjang terhadap lingkungan. 

Produk-produk itu berasal dari proses industri, dari bahan baku alam, mesin produksi, hingga limbah yang dihasilkan.

Memang, satu orang memakai tisu atau kosmetik tidak langsung merusak bumi. Tapi bayangkan jika jutaan orang melakukannya setiap hari, dalam sistem produksi besar, dampaknya tentu tidak kecil.

Ngopi siang itu ternyata memberi “pelajaran tambahan”.Secara sederhana, perubahan iklim adalah perubahan pola alam dalam jangka panjang, suhu yang meningkat, hujan yang tak menentu, dan cuaca yang makin sulit diprediksi.

Ini bukan hanya hujan tiba-tiba atau panas yang lebih terik dari biasanya. Ini adalah perubahan besar yang perlahan menggeser keseimbangan alam. Dan yang perlu kita sadari, perubahan ini tidak lepas dari ulah manusia.

Mulai dari pembukaan hutan, aktivitas industri, hingga pola konsumsi kita sehari-hari yang kurang ramah lingkungan, semuanya berkontribusi.

Baca Juga

IMG_0713

Berubahkah Iklim?

April 10, 2026
IMG_4033

Tapaktuan Nan Elok

April 7, 2026
5f114ac8-f417-4582-9a30-a83560144a82

Abrasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Ancaman Lingkungan di Aceh

April 2, 2026

Dampaknya pun nyata. Aktivitas terganggu, penyakit bermunculan, tanaman terganggu pertumbuhannya, bahkan banyak spesies yang terancam punah.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang pemerintah atau industri besar. Ini juga tentang kita, tentang kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari.

Mulai dari hal sederhana, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, hingga kembali menghargai kearifan lokal dalam menjaga alam.

Karena menjaga lingkungan bukan hanya tren, tapi kebutuhan. Sebab ketika kita menjaga alam, sejatinya kita sedang menjaga masa depan kita sendiri.

Dan mungkin, dari secangkir kopi di siang yang hujan itu, saya mulai lebih paham, bahwa perubahan iklim bukan lagi wacana, tapi kenyataan yang sedang kita hadapi bersama.###

SummarizeShare235Tweet147
Teuku Masrizar

Teuku Masrizar

Teuku Masrizar Peminat Lingkungan, berdomisili di Tapaktuan, Aceh Selatan

Related Posts

Artikel

Ayah Sop dan Abon Buni: Jihad Politik Ulama dari Dayah hingga Akar Rumput.

April 11, 2026
addb07c6-6086-4dc9-adf0-89149da48f97
Kajian

Cahaya Gramatika: Menata Nahwu dalam Arsitektur Peradaban Islam

April 11, 2026
Diskriminasi tidak selalu terlihat jelas—ia kerap hadir dalam sikap kecil yang dianggap wajar dalam pergaulan.
Psikologi Sosial

Dari Pikiran ke Tindakan: Rantai Prasangka dan Diskriminasi di Sekitar Kita

April 11, 2026
Berubahkah Iklim? - f1bdf4cf 9647 4450 9e5d 5fe8e2797b93 | Perubahan İklim | Potret Online
#Geopolitik

Kembalinya Jalur Sutera: Strategi Tersembunyi di Balik Manuver Global

April 11, 2026
Next Post

Ayah Sop dan Abon Buni: Jihad Politik Ulama dari Dayah hingga Akar Rumput.

Silakan login untuk berkomentar
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com