Geger Pecinan 1740 Mengubah Wajah Nusantara Selamanya

Sepotong Tahu Pong dan Ingatan yang Tenggelam
Kota Batavia abad ke-18 dengan kanal, bangunan kolonial, dan suasana senja yang muram di sekitar Kali Besar.
Ilustrasi Kota Batavia abad ke-18 di sekitar Kali Besar, dengan suasana muram yang merefleksikan ketegangan sosial dan sejarah akulturasi di masa kolonial.

Oleh Yani Andoko

Coba perhatikan tahu pong yang mengapung di mangkuk lontong cap go meh yang Anda santap saat Imlek. Atau dengarkan logat khas “lu-gua” dari teman Betawi Anda. Pernahkah Anda berpikir bahwa di balik rasa gurih dan tawa itu, ada sungai berwarna merah dan ribuan nyawa yang melayang?

Pada 9 Oktober 1740, Kali Besar di Batavia bukan mengalirkan air, melainkan darah. Peristiwa yang dikenal sebagai Geger Pecinan atau Pembantaian Angke ini bukan sekadar catatan kaki sejarah. Ia adalah patahan peradaban yang mengguncang fondasi kolonial sekaligus melahirkan Indonesia yang majemuk seperti sekarang.

Mari kita menyelam ke dalam gelapnya masa lalu—bukan untuk tenggelam, tetapi untuk menemukan mutiara.

Batavia yang Sakit: Ketika Kota Pelabuhan Menjadi Jerat

Untuk memahami ledakan kekejaman itu, kita harus kembali ke tahun 1730-an. Batavia adalah kota dengan slogan indah: “Koningin van het Oosten” (Ratu dari Timur). Namun di balik tembok tingginya, kota itu sesak dan busuk. Demam malaria merajalela karena kanal-kanal yang tergenang. Dan yang paling mencolok: jumlah penduduk Tionghoa membeludak.

Mengapa? Karena VOC sangat membutuhkan tenaga kerja Tionghoa untuk membuka lahan, mengerjakan pabrik gula, dan menjadi tukang kayu, pandai besi, serta pedagang. Mereka adalah tulang punggung ekonomi Batavia.

Namun ketika harga gula anjlok di Eropa pada 1730-an, VOC mulai mencari kambing hitam. Mereka mengeluarkan kebijakan kejam: setiap orang Tionghoa yang dianggap “ilegal” (banyak imigran baru tanpa surat) harus ditangkap dan dibuang ke Sri Lanka.

Bayangkan Anda seorang buruh gula di pinggiran Batavia.

Sepanjang hari Anda bekerja di panasnya tebu, tetapi upah dipotong pajak. Suatu malam, tentara VOC mengetuk pintu dan meminta surat izin. Anda tidak punya. Esoknya, Anda digelandang ke kapal—atau lebih buruk, “dibersihkan”.

Pada Mei 1740, ketegangan memuncak. Puluhan pabrik gula dibakar oleh para buruh Tionghoa yang putus asa. VOC panik. Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier melihat ini sebagai kesempatan emas untuk “menyelesaikan masalah Tionghoa selamanya”. Ia memerintahkan pendistribusian senjata kepada preman kota dan memberi kode: “Bunuh siapa saja yang bernapas dan berwajah Tionghoa.”

Neraka 9–22 Oktober: Detik-Detik Kali Besar Merah

Saat matahari terbit pada 9 Oktober 1740, Batavia berubah menjadi arena jagal. Tidak ada peringatan. Tidak ada pengadilan. Rumah-rumah di Pecinan dibakar serempak. Bayi dilempar ke dalam api. Perempuan diperkosa sebelum ditikam. Bahkan orang Tionghoa yang sudah puluhan tahun tinggal di Batavia dan memeluk agama Kristen pun tidak luput.

Seorang saksi mata menulis: “Mereka mengejar siapa saja yang memakai baju biru khas Tionghoa. Mayat-mayat bergelimpangan di jalan. Anak-anak menangis di samping ibunya yang sudah tak bernyawa. Sungai menjadi merah. Burung-burung gagak datang dari mana-mana.”

Dalam tiga hari pertama, sekitar 6.000 orang tewas di dalam tembok Batavia. Di luar tembok—di daerah perkebunan dan pabrik gula—jumlahnya dua kali lipat. Total korban diperkirakan 10.000 hingga 30.000 jiwa. Bayangkan: satu dari sepuluh orang lenyap dalam sekejap.

Pelaku pembunuhan bukan hanya serdadu VOC, tetapi juga warga pribumi yang dijanjikan upah per kepala. Ini strategi divide et impera yang sempurna. Namun sejarah selalu licin: beberapa pribumi justru menyembunyikan tetangga Tionghoa mereka di lumbung padi atau ruang bawah tanah. Dari situlah benih persaudaraan lintas etnis tumbuh.

Lari ke Timur: Persekutuan Tak Terduga dan Perang Besar

Sekitar 3.000 orang Tionghoa selamat dan melarikan diri ke Karawang dan Bekasi. Dalam situasi genting, bantuan datang dari Kerajaan Mataram. Pangeran Mas Garendi memimpin aliansi pasukan Jawa–Tionghoa.

Maka terjadilah Perang Jawa 1741–1743. Pasukan gabungan ini merebut benteng VOC di Jepara, Kudus, hingga Rembang. Mereka menggunakan taktik gerilya yang membuat Belanda kewalahan. Namun aliansi ini akhirnya runtuh setelah VOC menyuap bangsawan Jawa.

Sunan Pakubuwono II yang awalnya mendukung perlawanan, berbalik menandatangani perjanjian dengan VOC. Mas Garendi diasingkan ke Sri Lanka, dan perlawanan padam.

Meski kalah, perang ini meninggalkan pesan besar: VOC sadar bahwa memperlakukan etnis Tionghoa dan pribumi sesuka hati punya konsekuensi besar. Mereka memperketat segregasi, tetapi juga semakin bergantung pada politik adu domba.

Luka yang Dijahit Jadi Songket: Kelahiran Budaya Peranakan

Setelah perang, orang Tionghoa diwajibkan tinggal di pecinan dengan jam malam dan berbagai aturan ketat. Namun di dalam keterkurungan itu, mereka beradaptasi. Mereka belajar dari tetangga Jawa, Sunda, Betawi, dan Melayu. Justru dari sini lahirlah budaya Peranakan yang begitu kaya.

Beberapa contoh akulturasi:

  1. Di Dapur:

    Lontong Cap Go Meh adalah saudara dari opor ayam dan ketupat. Kecap manis lahir dari fermentasi kedelai ala Tiongkok yang dipadukan gula jawa. Swikee memadukan bumbu Fujian dan sambal kecap Nusantara.
  2. Di Lidah dan Telinga:

    Kosakata Hokkien masuk ke bahasa Betawi dan Jawa: lu-gua, cepek, gocap, kiciak, bihun, mi, lumpia, dan lainnya.
  3. Di Busana:

    Kebaya peranakan menggabungkan motif batik Jawa dengan simbol keberuntungan Tiongkok. Batik peranakan memadukan teknik Jawa dengan ikon naga, burung hong, atau peony.
  4. Di Rumah dan Ritual:

    Rumah peranakan di Lasem atau Kudus memadukan pendapa Jawa dengan altar leluhur. Pernikahan peranakan sering menggabungkan siraman dengan sembahyang dewa langit.

Warisan yang Tak Pernah Usai: Dari Glodok hingga Kita

Coba berjalan-jalan di Glodok hari ini. Di sana ada toko emas, obat tradisional, dan klenteng tua. Namun di sudut gang, ada warung soto Betawi dan bakmi yang dihuni semua etnis. Diam-diam, itu adalah rekonsiliasi yang berjalan secara alami.

Atau datanglah ke Petak Sembilan saat Cap Go Meh. Kirab Tatung berjalan bersama barongsai. Ibu-ibu menjual kue keranjang dan onde-onde. Mereka yang dulu dipaksa tinggal di kampung tertutup, kini membuka pintu untuk semua.

Namun luka 1740 juga mengajarkan bahaya politik kambing hitam. Setiap kali ekonomi lesu, etnis minoritas sering dijadikan sasaran. Tragedi serupa berulang dalam skala berbeda—1965, 1998. Mengingat Geger Pecinan bukan untuk membenci, tetapi untuk waspada agar sejarah tidak terulang.

Kali Angke Mengalir di Nadi Kita

Sekitar 285 tahun berlalu. Kali Besar kini tenang, tetapi airnya tidak pernah benar-benar jernih. Di dasar sungai itu terkubur tulang-belulang sekaligus benih persaudaraan. Setiap kali kita menyantap lontong cap go meh, memakai kebaya, atau mengucapkan “gua-lu”, kita merayakan kemenangan kehidupan atas kematian.

Geger Pecinan adalah guru yang pahit. Namun ia juga menunjukkan betapa gigihnya manusia bangkit dan menciptakan keindahan dari puing-puing. Mengingat sejarah ini adalah kompas moral agar Kali Besar tidak pernah lagi berwarna merah.

Pada akhirnya, identitas Indonesia bukanlah Tionghoa, Jawa, Betawi, atau Belanda. Identitas kita adalah sintesis dari semua luka dan tawa yang terangkai menjadi satu bangsa. Selamat merayakan keberagaman—dengan segelas teh poci dan sepotong kue keranjang.

Batu, 22 Januari 2026
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Yani Andoko
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.