Oleh Wira Satya Maris
Mahasiswi Prodi Psikologi, Universitas Syiah Kuala ( USK) Darussalam, Banda Aceh
Media sosial saat ini tidak asing lagi di kehidupan mahasiswa. Melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, kita bisa sangat mudah untuk mengeksplorasi apa yang dilakukan dan pencapaian orang lain atau bahkan gaya hidup mereka selama ini.Â
Sayangnya, tanpa kita sadari hal ini kerap kali membuat kita merasa diri kita kurang atau bisa disebut dalam konteks social comparison. Artikel ini akan menyajikan bagaimana social comparison di media sosial dapat memengaruhi tingkat self-esteem dari mahasiswa sesuai dengan hasil-hasil penelitian yang ada. Hal ini dilakukan karena ternyata melalui penelitian diketahui bahwa self-esteem dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kondisi psikis seseorang.
Berdasarkan pendapat dari Leon Festinger (1954) bahwa manusia secara alami memiliki kebutuhan untuk menilai dirinya sendiri dan manusia akan melakukan upaya perbandingan terhadap dirinya sendiri untuk menilainya, manusia pada umumnya melakukan perbandingan tersebut untuk mendapatkan penilaian akan dirinya dalam bentuk upward comparison dan downward comparison.Â
Upward comparison biasanya dalam arti positif dapat memotivasi seseorang, sedang downward comparison dalam kondisi negatif bisa menurunkan motivasi dan membuat merasa  tidak percaya diri.
Selain dari penjelasan leknik di atas, dalam penjelasan lain dikemukakan bahwa self-esteem adalah bagaimana penilaian diri terhadap diri kita sendiri. Dijelaskan oleh Morris Rosenberg (1965) bahwa self-esteem berperan dalam pembentukan rasa percaya diri individu.Â
Orang yang memiliki tingkat self-esteem yang rendah akan cenderung untuk merasa minder dan kurang percaya diri.
Berdasarkan hasil penelitian yang ada diketahui bahwa penggunaan media sosial cenderung membuat seseorang melakukan social comparison.Â
Ethan A. Vogel et al. (2014) mencari hubungan antara tingkat intensitas penggunaan media sosial dengan tendency toward social comparison dan ditemukan bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial, semakin besar juga orang tersebut cenderung melakukan social comparison.
Fenomena ini akan cenderung yakni upward comparison, dimaknai dari arah aspirasi. Jadi orang yang akan melihat ke atas melakukan perbandingan cenderung dengan orang yang memiliki prestasi terlihat lebih baik ataupun lebih menarik.
Dan masalah ini semakin menjadi memburuk karena media sosial hanya menampilkan tampilan terbaik dari kehidupan orang lain sehingga membuat proses social comparison tidak profesional dan membuat seseorang merasa tidak percaya diri.Â
Namun penelitian dari arti di atas ternyata tidak cukup untuk diperhitungkan sedangkan Penelitian dari Philippe Verduyn et al. (2017) bahkan menyimpulkan bahwa media sosial mampu memengaruhi keberkahan kesejahteraan individu dan dalam satu studi terbaru dari (Faelens et al., 2021), menemukan bahwa penggunaan media sosial ini terkait juga dengan kondisi mental termasuk self-esteem.Â
Kendati demikian, social comparison tidak pada saatnya menimbulkan dampak negatif. Pada keadaan tertentu, melihat keberhasilan orang lain justru bisa menjadi motivasi untuk maju.
Dengan demikian, efeknya memang tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Dari kerangka-kerangka di atas dapat disimpulkan bahwa social comparison merupakan hal yang sangat lazim dilakukan di kalangan mahasiswa, terlebih pada penggunaannya media sosial. Jika berlebihan, apalagi dalam bentuk upward comparison dapat menurunkan self-esteem. Namun jika disikapi dengan tepat justru dapat memberikan motivasi.
Daftar Pustaka
• Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes.Â
• Rosenberg, M. (1965). Society and the adolescent self-image.Â
• Vogel, E. A., et al. (2014). Social comparison, social media, and self-esteem.Â
• Appel, H., et al. (2016). The interplay between social comparison and social media.Â
• Verduyn, P., et al. (2017). Social media and well-being.



























Diskusi