(Bagian Pertama)
Oleh : Teuku Masrizar
Botol tumbler isi satu liter telah kosong tak tersisa. Setelah sarapan tadi pagi saya telah minum air putih secukupnya, sekarang isi tumbler habis semua. Haus akibat kelelahan kerja? Tenti tidak, tapi Karena suhu ruangan sangat panas.
Sepertinya suhu panas akibat cuaca yang terik belum mampu dinetralkan AC 2 Pk di ruangan saya. Seakan AC sudah kehilangan daya dinginnya, akibat disedot suhu hingga tidak berdaya merubah suhu panas menjadi dingin. Saya coba buka daun pintu agar ruangan terbuka, tapi justru hawa ruangan semakin panas.
Memasuki April tahun ini agaknya pergerakan suhu semakin naik, berubah tidak seperti biasa. Suhu seakan bertambah setiap harinya. Hari ini suhu 29 ⁰c tapi terasa 37⁰c. Saya belum sempat bertanya pada petugas BMKG apa gerangan yang sedang terjadi.
Sudahlah, saya ingin suasana lain. keluar kantor mungkin keadaannya lebih adem. Lalu saya menuju Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Pala Indah yang letaknya di pinggir teluk kota Tapaktuan. Terlihat pohon Ketapang yang berjejer daunnya mulai menguning kemerahan, sebagian ada yang gugur di bawah batangnya. Mungkin saja ini akibat suhu panas.
Berbeda dengan kamar kerja, di sini anginnya lebih kencang karena letaknya pinggir laut, namun suhunya tetap panas. Andai tak ramai mungkin saya akan menceburkan diri dalam laut untuk melawan hawa panas ini.
Saya pesan segelas es teh hijau di kantin yang tidak jauh tempat duduk saya. Mungkin menjadi menjasi bagian dari adaptasi terhadap keadaan ini. Setelah dua tegukan, sepertinya belum ada perubahan, hanya bagian kerongkongan yang sejuk tapi butiran keringat semakin banyak disekujur tubuh sampai membasahi baju.
Bangku sebelah duduk Safdar, yang selalu menjadi penghuni tetap RTH, dia adalah wartawan juga sebagai ketua Forjias salah satu asosiasi wartawan di kabupaten Aceh Selatan. Terlihat dia gerah, dua kancing baju dilepaskannya. Sepertinya dia tidak seperti biasa. Tidak seperti hari sebelumnya. Terlihat dia sedikit terganggu konsentrasi akibat cuaca panas sehingga tidak fokus dalam menulis berita hari ini.
Saya coba bergeser lebih dekat dengan kursi dia. Dia terkejut sambil terkekeh karena ketidaktahuannya, tiba-riba saya sudah didekat dia.
Saya memang sering diskusi dengan Safdar. Orangnya luas dan luwes sehingga enak diajak diskusi. Belum lagi saya mulai, dia langsung nyelutuk “siang ini panas sekali bang”, saya hanya diam. “Gejala apa ni bang? Tanya dia. Saya agak khawatir menjawab takut terlalu panjang jawaban nanti. “Mungkin ini yang disebut oleh para ahli, perubahan iklim” jawab saya.
Saya tidak melanjutkan, sepertinya dia mulai terpancing, “ah….. masa iklim berubah, kan suhu saja yang naik”
. Saya hanya diam. “Bagaimana ini bang, saya benar-benar kepanasan hari ini, lanjutnya. Saya sengaja membuat penasaran dengan tidak menjawabnya.
Saya kembali meneguk es teh hijau yang tersisa seteguk lagi. Saya hanya diam sembari merasakan dinginnya es mengalir melewati kerongkongan sampai ke lambung. Sebentar kemudian Safdar pamitan ” bang, saya pulang mau mandi” katanya .
Sepertinya dia tidak sedang emosi tqpi sudah tidak tahan dengan kondisi panas dan teriknya matahari membuat badan gerah dan seperti terbakar. ” saya juga pulang” kata saya.
Sepertinya adaptasi menghadapi perubahan Iklim dengan naiknya suhu dipermukaan bumi dan cuaca ekstrim cara sederhananya adalah mandi dan berdiam diri diruangan penuh AC. Apa benar demikian cara adaptasi terhadap perubahan iklim? ###



























Diskusi