• Latest
addb07c6-6086-4dc9-adf0-89149da48f97

Fardu Ain: Benteng Ideologi di Tengah Arus Disrupsi Modernitas

April 9, 2026
Fardu Ain: Benteng Ideologi di Tengah Arus Disrupsi Modernitas - f1bdf4cf 9647 4450 9e5d 5fe8e2797b93 | Kajian | Potret Online

Perang Minyak Rebutan atau Sandiwara Transisi Energi?

April 8, 2026
Ilustrasi orang-orang dengan kepribadian berbeda yang terbagi antara logika dan emosi

MBTI: Tes Kepribadian Populer yang Belum Tentu Akurat

April 8, 2026
Ilustrasi seseorang merasa tertekan karena berusaha memenuhi harapan banyak orang sekaligus

People Pleaser: Saat Terlalu Baik Justru Menyakiti Diri Sendiri

April 8, 2026
IMG_0688

Barisan Orang-orang yang Tertipu

April 8, 2026
IMG_0686

Lara Ati Ing Zaman Edan : Mengapa Kita Semakin Susah Bahagia?

April 8, 2026
7444bf8c-d0bd-4369-bab2-d2108a21ec5d

Arqan Wira Rizqullah Winner Putera Pelajar Riau

April 8, 2026
K-pop fans immersed in digital devotion

Hubungan Parasosial Penggemar dengan Figur Publik: Fenomena K-Pop ENHYPEN

April 8, 2026
IMG_0683

Sisi Gelap Bermain Toponimi, Kala Pepatah Bertransformasi Menjadi Stereotip

April 8, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Kamis, April 9, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
addb07c6-6086-4dc9-adf0-89149da48f97

Fardu Ain: Benteng Ideologi di Tengah Arus Disrupsi Modernitas

Redaksi by Redaksi
April 9, 2026
in Kajian, Agama Islam, Syariat Islam
Reading Time: 3 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al Yusufiy, Lc.

Di era disrupsi informasi dan dominasi materialisme saat ini, orientasi pendidikan kita sering kali mengalami penyempitan yang mengkhawatirkan. Ilmu pengetahuan cenderung diukur hanya dari kemampuannya menghasilkan nilai ekonomi atau jabatan.

Dalam riuh rendah mengejar kompetensi teknis tersebut, ilmu yang bersifat Fardu Ain, pengetahuan wajib bagi setiap individu Muslim, justru kerap terpinggirkan ke sudut sunyi.

Baca Juga:
  • Memahami Logika Hadis Mursal: Antara Ketegasan Sanad dan Kekuatan Kolektif.
  • Filosofi Zakat Perdagangan: Menimbang Nilai di Balik Dinamika Pasar
  • Menimbang Yunani di Timbangan Ulama: Dialektika Al-Ghazali dan Al-Jili

Padahal, Rasulullah SAW telah menegaskan dalam sabdanya bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban mutlak bagi setiap Muslim tanpa kecuali. Namun, pendidikan hari ini lebih sering menjadi pilihan untuk “bertahan hidup” (mencari materi) daripada sebuah imperatif untuk “menghidupkan hati” (mencari rida Allah).

Krisis Ideologi dan Jerat Hawa Nafsu.

Fenomena pergeseran orientasi ini sejatinya merupakan krisis ideologis yang mendalam. Imam al-Mawardi dalam kitab klasik Adab al-Dunya wa al-Din sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa hawa nafsu adalah penghalang utama kebaikan dan musuh bebuyutan bagi akal sehat. Bahkan, Ibnu Abbas menyitir sebuah metafora yang tajam: “Hawa nafsu adalah tuhan yang disembah selain Allah.”

Dalam konteks kekinian, dominasi materialisme telah menjelma menjadi bentuk “tuhan baru” yang menggeser posisi wahyu sebagai kompas kebenaran. Tanpa navigasi spiritual, manusia modern rentan terjebak dalam invasi pemikiran (ghazwul fikri) seperti sekularisme yang mencoba memisahkan agama dari ruang publik, atau pluralisme yang mengaburkan batas-batas kebenaran prinsipil.

Rekonstruksi Epistemologi Fardu Ain.

Secara substansial, ilmu Fardu Ain bukan sekadar hafalan teks agama, melainkan perangkat utama dalam membangun hubungan Hablum Minallah (hubungan dengan Allah). Ia mencakup tiga spektrum fundamental yang harus menjadi “kurikulum utama” dalam setiap rumah tangga Muslim:

‌Ilmu Tauhid: Sebagai fondasi ideologi dan cara pandang terhadap realitas.
‌Ilmu Fikih: Sebagai standar operasional ibadah harian agar sah dan sesuai syariat.
‌Ilmu Tasawuf: Sebagai sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pembentukan akhlak mulia.

Ketiga pilar ini harus diikat dengan penanaman enam rukun iman yang kokoh sejak dini. Keimanan kepada Allah, Rasul, Malaikat, Kitab, Hari Kiamat, serta Qada dan Qadar bukan sekadar konsep teologis kering, melainkan fondasi berpikir yang akan menentukan bagaimana seorang Muslim bersikap di tengah badai informasi.

Keluar dari Dominasi Nafsu.

Mengapa fondasi ini menjadi harga mati? Imam al-Shatibi dalam kitab monumentalnya Al-Muwafaqat memberikan penjelasan yang sangat mencerahkan. Ia menyebutkan bahwa tujuan utama syariat adalah mengeluarkan manusia dari dominasi hawa nafsunya, agar ia bisa menjadi hamba Allah secara sadar dan merdeka.

Pernyataan ini menegaskan bahwa syariat tidak hadir untuk menyesuaikan diri dengan keinginan manusia. Sebaliknya, manusialah yang harus membimbing keinginannya agar selaras dengan tuntunan wahyu. Inilah esensi kemerdekaan sejati dalam Islam: tidak lagi menjadi budak tren atau opini publik, melainkan menjadi hamba Sang Pencipta.

Penutup: Harga Mati bagi Masa Depan.

Menanamkan pemahaman Fardu Ain di tengah invasi pemikiran modern adalah sebuah langkah penyelamatan generasi. Kita tentu menginginkan anak-anak kita cerdas secara intelektual dan mahir secara teknis, namun semua itu akan sia-sia jika mereka kehilangan arah spiritual dan identitas ideologisnya.

Baca Juga

5d956ca3-9c7f-40fe-9646-15e1e1e2a0dc

Memahami Logika Hadis Mursal: Antara Ketegasan Sanad dan Kekuatan Kolektif.

April 8, 2026
WhatsApp-Image-2022-02-07-at-23.01.55_11zon

Filosofi Zakat Perdagangan: Menimbang Nilai di Balik Dinamika Pasar

April 7, 2026
ad316ef9-75db-489f-af65-e87f3ed3768c

Menimbang Yunani di Timbangan Ulama: Dialektika Al-Ghazali dan Al-Jili

April 6, 2026

Memperbaiki iman dan memvalidasi ibadah adalah kewajiban pertama sebelum melangkah lebih jauh mengejar dunia. Tanpa benteng Fardu Ain yang kokoh, generasi kita mungkin akan menaklukkan dunia, namun mereka akan kehilangan diri mereka sendiri. Mari jadikan ilmu fardu ain sebagai prioritas, bukan sekadar pelengkap di masa tua, demi membangun peradaban yang tegak di atas cahaya kebenaran.

ADVERTISEMENT

Penulis adalah Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Babussaadah dan Ketua HUDA Aceh Selatan.

SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

Fardu Ain: Benteng Ideologi di Tengah Arus Disrupsi Modernitas - f1bdf4cf 9647 4450 9e5d 5fe8e2797b93 | Kajian | Potret Online
Artikel

Perang Minyak Rebutan atau Sandiwara Transisi Energi?

April 8, 2026
Ilustrasi orang-orang dengan kepribadian berbeda yang terbagi antara logika dan emosi
Psikologi

MBTI: Tes Kepribadian Populer yang Belum Tentu Akurat

April 8, 2026
Ilustrasi seseorang merasa tertekan karena berusaha memenuhi harapan banyak orang sekaligus
Psikologi

People Pleaser: Saat Terlalu Baik Justru Menyakiti Diri Sendiri

April 8, 2026
IMG_0688
Artikel

Barisan Orang-orang yang Tertipu

April 8, 2026
Silakan login untuk berkomentar
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com