Pernah ga sih buka media sosial atau bertemu orang terus tanya-tanya “ Eh MBTI kamu apa? Aku INTJ BTW, anak thinking yang logis banget”. Sementara F dikatakan baperan. Kita tentu tidak asing dengan tes kepribadian populer atau MBTI yang terkenal di media sosial. MBTI sering bermuculan di Google, Tik-Tok, Instagram dan media populer lainnya. Banyak orang menyebut hasil tes mereka karena dianggap relate dan sesuai menggambarkan kepribadian mereka. Tak jarang, orang juga bangga menyebut mereka adalah sosok thinking yang logis, pintar dan tidak baperan.
Sebenarnya akuratkah tes MBTI itu?. Myers-Briggs Type Indicator atau kita kenal MBTI adalah salah satu tes kuesioner yang membagi kepribadian manusia menjadi 16 tipe berdasarkan empat dikotomi sifat, seperti:
Cara mendapatkan energi Introvert (Nyaman sendiri) atau Ekstrovert (Sosial) disingkat dengan I/E.
Cara memproses informasi, melalui Sensing (Fakta pancaindra) atau Intuation (Imajinasi, pola, teori) disingkat S/N.
Mengambil keputusan dengan Thinking (Logika) atau Feeling (Perasaan empati) T/F.
Cara menghadapi kehidupan Judging (Terstruktur) atau Perceiving (Fleksibel spontan).
Beberapa penelitian menujukkan hasil MBTI tidak konsisten [1], kategori MBTI juga memuat pengelompokkan sederhana daripada tes kepribadian yang lebih modern seperti Big Five [2].
Big Five Personality lebih akurat dan ilmiah dibandingkan MBTI karena Big Five Personality memuat skor pengukuran luas, tidak melabeli, menjelaskan perilaku lebih detail.
Thinking vs Feeling: Salah Paham Umum
Salah satu pembagian yang disalahpahami adalah “Thinking (T)” dan “Feeling (F)”. Banyak orang menganggap mereka bertipe “Thinking” berarti lebih logis. Padahal keputusan manusia hampir selalu melibatkan perpaduan logika dan emosi [3]. Bahkan emosi sering mendominasi keputusan [4].
Dampak Negatif Pelabelan MBTI
Dalam pelabelan MBTI ada pengelompokan berdasarkan 16 Personality seperti INTJ, INFP, ENTP, dan lainnya. Sekilas terlihat menarik, tetapi memiliki dampak:
- Merasa lebih unggul
- Membatasi diri
- Memberi label orang lain
- Pembenaran perilaku
Solusi
Tes kepribadian membantu mengenali diri, tetapi tidak untuk melabel orang lain. Gunakan sebagai refleksi, bukan identitas mutlak.
Memahami diri bukan tentang label, tetapi tentang berkembang.



























Diskusi