• Latest
de951bcc-af3b-4c2a-9eec-3c23625890a5

Update Kondisi Kota Tel Aviv Usai Dibombardir Iran

April 7, 2026
Update Kondisi Kota Tel Aviv Usai Dibombardir Iran - 9a1aca64 fa02 470f bddc fd5df62ca09a | Israel | Potret Online

Apa Yang Terjadi Denganmu  Setelah Ramadhan Berakhir?

April 7, 2026
IMG_0662

Ruang Digital dan Perebutan Demokrasi

April 7, 2026
e08e89c0-dfa9-447a-887f-f0826157341c

Antara Konten dan Tulisan: Cara Sederhana “Healing” di Era Digital

April 7, 2026
Update Kondisi Kota Tel Aviv Usai Dibombardir Iran - cf9783f3 f060 4def 9401 8d275b9bc1ab | Israel | Potret Online

Ketika Bahan Bakar Fosil Habis, Bukan Akhir Segalanya

April 7, 2026
Update Kondisi Kota Tel Aviv Usai Dibombardir Iran - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Israel | Potret Online

Standar Ganda dalam Empati Global: Membaca Konflik Gaza–Israel Secara Kritis dan Konsisten

April 6, 2026
IMG_0659

Keseimbangan yang Tercabut

April 6, 2026
ilustrasi kelelahan psikologis mahasiswa akibat tekanan akademik

Kelelahan Psikologis Terselubung pada Mahasiswa

April 6, 2026
IMG_0656

Sekolah Cafe

April 6, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Selasa, April 7, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
de951bcc-af3b-4c2a-9eec-3c23625890a5

Update Kondisi Kota Tel Aviv Usai Dibombardir Iran

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 7, 2026
in Israel, # Revolusi Iran, #Perang, Iran
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani 

Saya udah membahas kondisi Qatar dan UEA di tulisan sebelumnya. Ada follower minta, “Bang, bahas juga dong kondisi kota Tel Aviv.” Baik, demi follower yang selalu kepo, saya tampilkan potret terkini ibu kota Israel itu yang dibombardir Iran siang dan malam. Simak sambil seruput Koptagul, wak!

Di malam yang harusnya damai di Tel Aviv, sirene meraung bukan lagi sekadar peringatan, tapi seperti ratapan panjang yang tak pernah selesai. Kota yang dulu hidupnya seperti pesta tak pernah bubar, kini berubah jadi panggung tragedi yang diputar ulang tanpa jeda. Langit bukan lagi tempat bintang berkelip, tapi jalur lintasan rudal yang datang seperti tak punya rasa kasihan.

Baca Juga:
  • Perkembangan Terkini Qatar dan UEA Terkena Imbas Perang
  • Runtuhnya Dominasi Barat, Datangnya Keadilan? Ujian Rasionalitas Umat Muslim dalam Menyambut Tatanan Global Baru Versi Timur
  • Perang Iran -Israel dan Rapuhnya Pasar Minyak Global

Rudal balistik dari Iran sejak akhir Februari hingga awal April 2026 jatuh berulang kali, seperti tak pernah kehabisan amarah. Di Ramat Gan, puing berserakan seperti kenangan yang pecah berkeping. Di Petah Tikva, rumah-rumah bukan lagi tempat pulang, tapi saksi bisu kehancuran. Di Bnei Brak, air meluap dari pipa yang pecah, bukan sekadar banjir, tapi seperti kota itu menangis, air matanya menggenang di jalanan.

Ironisnya menusuk sampai ke tulang. Infrastruktur yang dibangun dengan kebanggaan kini tumbang tanpa upacara. Di Rosh HaAyin, listrik mati-hidup seperti harapan yang tak stabil. Gangguan menjalar ke pusat kota, membuat malam makin gelap, bukan karena lampu mati saja, tapi karena rasa aman ikut padam.

Bandara Ben Gurion yang dulu jadi gerbang dunia, kini seperti pintu yang setengah tertutup. Penumpang dibatasi, penerbangan dibatalkan, tiket melonjak seperti harga keputusasaan. Bahkan, pesawat pribadi pun tak luput dari serpihan rudal, langit yang dulu bebas kini berubah jadi ruang yang penuh ancaman.

Warga? Jangan ditanya. Mereka berlari ke bunker bukan lagi karena panik sesaat, tapi karena itu sudah jadi rutinitas. Malam bukan untuk istirahat, tapi untuk bertahan. Ledakan demi ledakan tak selalu mematikan, tapi cukup untuk meremukkan batin. Luka ringan di tubuh mungkin sembuh, tapi luka di kepala, itu menetap, diam, tapi menghantui.

Nuan bayangkan! Orang-orang yang dulu santai di kafe, menyeruput kopi dengan tawa kecil, kini minum sambil menghitung detik menuju shelter. Hidup malam berubah jadi wisata ke bunker. Di media sosial, keluhan mengalir deras. Video ledakan, mobil terbakar, air meluap, dan satu kalimat yang terus berulang, “Kami masih di sini, tapi entah sampai kapan.”

Ada yang marah pada pemerintah. Ada yang turun ke jalan menolak perang. Ada yang diam, karena lelah. “Rutinitas baru kami, sirene, ledakan, dan harapan palsu.” Mereka tahu itu pahit, tapi tetap diucapkan, mungkin supaya tidak sepenuhnya hancur.

Ekonomi? Jangan harap berdiri tegak. Biaya perang membengkak tiap minggu seperti luka yang tak dijahit. Tenaga kerja tersedot ke militer, sekolah tutup, orang-orang absen bukan karena malas, tapi karena takut. Pariwisata lumpuh, kartu kredit sepi, sektor teknologi yang dulu jadi kebanggaan ikut goyah. “Startup Nation” perlahan terdengar seperti ironi, lebih dekat ke “Shutdown Nation,” wak.

Yang paling sunyi adalah luka di kepala manusia. Stres jadi teman tidur. Cemas jadi napas harian. Kurang tidur, sulit fokus, trauma menumpuk seperti debu yang tak pernah disapu. Anak-anak tumbuh bukan dengan mimpi, tapi dengan suara sirene. Orang dewasa berpura-pura kuat, padahal retaknya sudah sampai ke dalam.

Tentang eksodus besar? Belum jadi gelombang besar, tapi retaknya sudah terasa. Profesional mulai pergi pelan-pelan. Dokter, pekerja teknologi, mereka yang bisa memilih, mulai memilih pergi. Yang tinggal? Bertahan, bukan karena kuat, tapi karena tak punya pilihan lain.

Saat kita melihat semua ini, sulit untuk tidak mengingat Gaza Strip. Luka yang sama, hanya lokasi berbeda. Ledakan yang sama, hanya arah berbeda. Tangisan yang sama, hanya bahasa berbeda.

Tragedi ini tak lagi punya wajah tunggal. Ia menyebar, menempel pada siapa saja yang hidup di dalamnya. Dua sisi yang sama-sama berdarah, sama-sama kehilangan, sama-sama lelah.

Begitulah wak. Dunia yang katanya maju ini, masih saja gagal menjaga hal paling sederhana, rasa aman untuk pulang ke rumah. Selama lingkaran ini terus berputar, yang tersisa hanya satu, manusia yang pelan-pelan hancur, tanpa pernah benar-benar tahu, untuk apa semua ini.

Foto Ai hanya ilustrasi

Baca Juga

149325e4-773e-48dc-8fba-3df68e46d0c8

Perkembangan Terkini Qatar dan UEA Terkena Imbas Perang

April 5, 2026
6eeb5594-d7a8-483c-adaf-a6783306152a

Gambaran Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timteng Usai Diserang Iran

April 3, 2026
560bc641-222d-47d5-9c36-39283e591af5

Derita Anak Palestina pun Menjadi Lagu

April 3, 2026

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

ADVERTISEMENT

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM

SummarizeShare234Tweet146
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Related Posts

Update Kondisi Kota Tel Aviv Usai Dibombardir Iran - 9a1aca64 fa02 470f bddc fd5df62ca09a | Israel | Potret Online
Artikel

Apa Yang Terjadi Denganmu  Setelah Ramadhan Berakhir?

April 7, 2026
IMG_0662
literasi digital

Ruang Digital dan Perebutan Demokrasi

April 7, 2026
e08e89c0-dfa9-447a-887f-f0826157341c
Artikel

Antara Konten dan Tulisan: Cara Sederhana “Healing” di Era Digital

April 7, 2026
Update Kondisi Kota Tel Aviv Usai Dibombardir Iran - cf9783f3 f060 4def 9401 8d275b9bc1ab | Israel | Potret Online
Artikel

Ketika Bahan Bakar Fosil Habis, Bukan Akhir Segalanya

April 7, 2026
Silakan login untuk berkomentar
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com