Tantangan Literasi Mahasiswa di Indonesia

Solusi Meningkatkan Kebiasaan Membaca dan Menulis Kritis
Warm afternoon reading ritual
Meja belajar dengan tumpukan buku, kopi hangat, dan alat tulis – simbol pentingnya kebiasaan membaca dan menulis untuk mahasiswa di Indonesia

Oleh Don Zakiyamani

Pendidikan mahasiswa hari ini menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari kurangnya kebiasaan membaca hingga minimnya kemampuan menulis kritis, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas pengambilan keputusan di masa depan.

Suatu malam penulis kedatangan tamu istimewa yang baru saja melakukan kegiatan organisasinya di Pulau Jawa. Banyak hal yang kami diskusikan terkait dunia pendidikan. Perjalanan diskusi menemukan masalah yang cukup kompleks di kalangan mahasiswa.

Bang Imran, Ketua Umum IGI Provinsi Aceh, banyak berkisah tentang kebiasaan membaca dan menulis di kalangan mahasiswa. Realitas ini memerlukan perhatian serius karena berdampak pada kualitas pendidikan dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

‘Satu buku sebelum mati.’

Tesis tentang korelasi kebiasaan membaca dan kemajuan peradaban banyak dibahas di media, jurnal, dan buku. Banyak mahasiswa masih mengutamakan copy-paste saat menyelesaikan karya ilmiah, sehingga kemampuan analisis dan menulis mereka kurang berkembang.

Tip: Mulailah menulis ringkasan atau resensi dari setiap buku yang dibaca. Hal ini membantu membiasakan diri menganalisis isi bacaan dan meningkatkan kemampuan menulis kritis.

Perguruan tinggi jarang memperkenalkan kebiasaan membaca di awal semester. Akibatnya, mahasiswa menghadapi skripsi seolah berada dalam “zona perang”. Dosen jarang mengajak mahasiswa mencintai buku, menulis hasil bacaan, atau menganalisis fenomena.

Insight: Perpustakaan bukan sekadar tempat meminjam buku, tapi juga ruang inspirasi. Sering mengunjungi perpustakaan membantu mahasiswa menemukan ide baru dan memperluas wawasan. Baca artikel terkait.

Fakta ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca dan menulis belum menyentuh seluruh kalangan terpelajar. Usaha membangun kualitas pendidikan perlu didukung oleh institusi pendidikan, media, dan masyarakat. Perpustakaan di sekolah dan perguruan tinggi harus menjadi destinasi utama, dan kenaikan pangkat akademik sebaiknya dibuktikan dengan tulisan berkualitas.

Meskipun terdengar idealis, perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, keluarga, teman, dan kelompok sekitar. Akses internet memudahkan membaca dan menulis. Aktivitas menulis di media sosial sehari-hari membuktikan bahwa kita adalah makhluk membaca dan menulis. Semakin banyak membaca, semakin santun bahasa kita, dan semakin sadar akan hal-hal yang belum diketahui.

Tip: Cobalah membuat target membaca minimal satu buku per bulan dan menuliskan kesimpulan atau insight dari buku tersebut. Kebiasaan kecil ini dapat menumbuhkan budaya literasi secara konsisten.

Jangan menunggu orang lain untuk memulai; jadilah pelopor literasi di lingkunganmu. Setiap halaman yang dibaca dan setiap kata yang ditulis adalah langkah kecil yang dapat mengubah masa depan bangsa.

Catatan: Artikel ini pertama kali tayang pada 11 Oktober 2016 di potretonline.com dan kini dipublikasikan kembali. Meskipun ditulis beberapa tahun lalu, isu pendidikan dan literasi yang dibahas tetap relevan hingga saat ini, karena tantangan mahasiswa dan budaya membaca masih menjadi perhatian penting.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Don Zakiyamani
Penikmat kopi tanpa gula

Komentar

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.