Oleh : Teuku Masrizar
Pagi Minggu 16 Syawal 1447 H, jelang pukul 11 siang, kami kedatangan tamu sangat istimewa bagi kami keluarga. Saya terkejut sekaligus terkesima atas kedatangan beliau, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saya dan istri segera menyambut beliau dengan penuh rasa gembira.
Didampingi Tgk. Haloh yang selalu sedia mendampingi beliau turun dari Fortuner hitam yang sering beliau gunakan.
Bisa jadi ini tidak kebetulan dan ternyata benar, beliau memang ingin bersiilaturrahmi ke kediaman kami. Saat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, kami menelpon beliau menyampaikan selamat Idul fitri, mohon maaf lahir batin serta rencana akan bertandang ke kediaman beliau dusun Bineh Gunong Gampong Krueng Batu “Guha” Kluet Utara. Jaraknya lebih kurang 40 KM dari kediaman kami di Lhok Keutapang Tapaktuan. Namun karena satu dan lain hal penyebab belum berkesempatan untuk bersilaturahmi ke kediaman beliau.
Sudah tradisi, selalu saja beliau diskusi soal-soal terkini, kondisi ekonomi dan politik negeri yang sedang terjadi, soal krisis Iran versus America dan juga soal lain yang terbaru lainnya.
Setelah menyajikan minuman dan makanan ringan, waktu telah menunjukkan pukul 12.00 siang, istri telah menpersiapkan santap siang dengan lauk seadanya. Saya katakan bahwa ikan kita lebih enak dari ikan pantai timur-utara Aceh karena kulitnya lembut, dagingnya enak tidak alot karena proses adaptasi arus air laut yang kuat, kata saya agar beliau bersedia untuk makan.
Ikan karang merah segar, sayur kangkung dan sambal kareng goreng jadi menu utama siang ini. Sepertinya cukup enak disantap siang yang lembab ini.
Terlihat beliau berselera, namun beliau harus membatasi porsi makan sesuai anjuran dokter untuk menjaga kondisi pascaopersi beberapa bulan silam.
Selepas makan siang kami melanjutkan diskusi, biasanya saya akan memantik beliau untuk cerita panjang lebar, baik tentang ilmu agama atau sejarah dan kebudayaan. Beliau memang sangat ahli bidang ini. Mampu menjelaskan detail sampai dengan penggalan-penggalan tahun kejadian. Pengetahuan dan ilmu beliau yang tinggi, luas dan moderat karena budaya beliau yang suka membaca.
Saya sangat bahagia dapat menimba ilmu dari beliau. Sementara istri nampak sibuk di dapur, mempersiapkan makanan penutup. Dia membawakan jeruk dan buah potong. Pepaya ini dipetik dari kebun sendiri kata istriku.
Tgk H. T. Armia Ahmad sering dipanggil “Abon Guha” merupakan salah satu ulama Aceh asal Aceh Selatan. Dalam 15 tahun terakhir dipercaya sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Selatan. Beliau dikenal luas masyarakat karena kealimannya, kesederhanaan dan kezuhudannya.
Saya lebih tiga tahun menjadi “Khadam” beliau sebagai Sekretaris MPU Kabupaten Aceh Selatan. Bagi saya beliau bukan hanya ulama dan panutan umat, tapi lebih dari itu beliau sebagai teman diskusi, guru sekaligus ayah bagi saya.
Sebagai orang yang tidak pernah mondok di pasantren saya mendapatkan banyak ilmu, pengetahuan dan hikmah dekat dengan Abon.
Kini Abon memasuki usia 83 tahun, sudah sepuh dan tak muda lagi. Kondisi fisiknya relatif terus menurun, namun ingatan beliau setia dan sangat kuat. Saat ini Abon masih kuat memimpin rapat, mengajar dan memberikan tausyiah dalam majelis-majelis. Semoga Abon selalu sehat dan dalam lindungan Allah. Engkau adalah pewaris para Nabi. ###























Komentar