Oleh: Sadri Ondang Jaya, S.Pd
Guru SMA Negeri 1, Gosong Telaga-Singkil
Ada kekuatiran yang menyeruak ketika menyaksikan pelajar menjadi ‘preman’ dan terlibat tawuran antar sesama. Kegalauan muncul saat menjumpai banyak remaja bergaya punk dan kebarat-baratan, bahkan ada yang terjerumus ke aliran sesat. Menurut survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Menkominfo, dari 12 kota besar, sekitar 90-95% remaja menonton konten pornografi, 60-65% pernah melakukan seks pranikah, dan 25-30% terlibat aborsi. Penyalagunaan narkoba menunjukkan dari 3,2 juta pengguna, sekitar 75-78% adalah remaja. Penderita HIV/AIDS pun meningkat tiap tahun, mayoritas di kalangan remaja.
Ada kegundah-gulanahan membuncah saat menyaksikan para remaja di sekolah berperilaku antisosial: datang terlambat, mematahkan bangku, menjebol papan tulis, membuang sampah sembarangan, usil pada teman, bersorak-sorak atau berisik, mencoret dinding, bangku, dan meja, hingga perilaku kasar lain seperti menonton video porno lewat HP.
Mengapa kuatir, gelisah, dan gundah-gulana? Karena perilaku generasi muda mulai tercerabut dari budaya dan tatanan kebenaran. Padahal, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.
Orangtua, masyarakat, dan guru harus segera mengajarkan budaya dan karakter bangsa di lembaga pendidikan sebagai langkah preventif untuk membina perilaku prososial dan mencegah perilaku antisosial.
Pendidikan Karakter
Budaya dan karakter bangsa yang diajarkan di sekolah memiliki beberapa tujuan menurut para ahli pendidikan:
- Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif siswa sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai budaya dan karakter bangsa.
- Mengembangkan kebiasaan dan perilaku siswa yang terpuji, sejalan dengan nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius.
- Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.
- Mengembangkan kemampuan siswa menjadi mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan.
- Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta rasa kebangsaan yang tinggi.
Pendidikan karakter yang diintegrasikan pada kurikulum akan menghasilkan perilaku prososial yang konkret, terarah, dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Perilaku prososial meliputi religius, jujur, toleran, disiplin, pekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, cinta tanah air, peduli lingkungan dan sosial, bersahabat, dan bertanggung jawab.
Tanggung Jawab Guru
Guru sebagai stakeholder di sekolah bertanggung jawab agar perilaku antisosial tidak berkelanjutan. Guru harus memberikan pengetahuan, menanamkan nilai-nilai sejak dini, serta memberi teladan konkret perilaku prososial.
Salah satu cara efektif adalah menanamkan nilai standar dari pendidikan budaya karakter bangsa melalui kegiatan edukatif di sekolah, teladan guru, dan contoh perilaku positif.
Guru yang hanya mengajar tanpa mendidik atau bersikap permisif akan merongrong pembangunan sosial dan memperlihatkan perilaku antisosial yang menimbulkan efek negatif pada siswa.
Profesionalisme Guru
Malcolm Allard, pakar pendidikan, menyatakan profesionalisme guru harus dibarengi akhlak, sikap, dan kepribadian yang matang. Jansen Sinamo dalam bukunya “8 Etos Keguruan” menekankan guru yang berkarakter akan menumbuhkan generasi yang berkarakter. Delapan etos tersebut adalah:
- Mengajar adalah rahmat: ikhlas dan bersyukur.
- Keguruan adalah amanah: penuh tanggung jawab.
- Keguruan adalah panggilan: tuntas dan berintegritas.
- Keguruan adalah aktualisasi: serius dan semangat.
- Keguruan adalah ibadah: penuh dedikasi.
- Keguruan adalah seni: cerdas dan kreatif.
- Keguruan adalah kehormatan: mengajar dengan keunggulan.
- Keguruan adalah pelayan: rendah hati dan terbaik dalam mengajar.
Sehebat apapun program pendidikan budaya dan karakter bangsa, hasilnya tergantung pada karakter guru. Guru yang tidak berkarakter akan menghasilkan siswa yang juga tidak berkarakter. Akhirnya, perilaku antisosial akan terus muncul.
Catatan Redaksi: Artikel ini dipublikasikan ulang dari potretonline.com (02/11/2016) karena isu perilaku antisosial remaja dan pendidikan karakter masih sangat relevan hingga saat ini. Pembaca diharapkan memperoleh perspektif baru sekaligus pengingat pentingnya peran guru dan sekolah dalam menanamkan nilai budaya dan karakter bangsa.

























Komentar