Oleh: Tabrani Yunis
Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia dilengkapi akal, pikiran, nafsu, akhlak, dan pengetahuan. Kesempurnaan ini menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah:30:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'” (QS Al-Baqarah:30)
Allah juga berfirman dalam QS. Al-Isra:70: “Dan sungguh Kami telah muliakan keturunan Adam, dan Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dari kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, manusia diberikan amanah untuk memimpin dan menjaga bumi, bukan sebagai penguasa yang menindas, melainkan sebagai pemimpin yang memakmurkan, memelihara, dan menjaga keseimbangan agar semua makhluk hidup dapat hidup selaras. Amanah ini sekaligus menjadi ujian: apakah manusia mampu bersyukur dan beribadah, serta menjalankan tanggung jawab sebagai khalifah dengan bijak.
Manusia dan Tantangan sebagai Khalifah
Idealnya, manusia bertindak sebagai manajer bumi yang bijaksana. Namun, sejarah menunjukkan banyak yang lalai dan serakah. Surah An-Nissa:28 mengingatkan: “Allah hendak memberikan keringanan kepada mu, karena manusia diciptakan bersifat lemah.” Selain lemah, manusia sering lalai, tamak, dan bermegah-megah (QS. Al-Takaatsur:1), yang mendorong kerusakan bumi.
Kerusakan ini terlihat dari eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran, penebangan hutan liar dan resmi, polusi sungai, udara, dan tanah, serta hilangnya keseimbangan ekosistem. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia bisa menjadi predator di bumi, mengejar kepentingan sesaat tanpa memperhatikan hak makhluk lain dan kelestarian lingkungan.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS Ar-Rum:41)
Hutan, sebagai sumber kehidupan, semakin rusak akibat penebangan liar dan monokultur sawit atau karet. Akibatnya, banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau semakin parah, habitat satwa terganggu, dan konflik manusia-satwa meningkat.
Akibat ulah manusia, bumi menghadapi krisis ekologi: pemanasan global, ketidaknormalan musim, hilangnya sumber daya, dan kerusakan lingkungan yang mengancam kehidupan generasi mendatang. Manusia harus kembali ke fitrah sebagai khalifah yang amanah, menjaga kelangsungan hidup bumi untuk generasi selanjutnya.
Kesadaran dan Tanggung Jawab
Setiap manusia, baik anak-anak maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan, memiliki kewajiban menjaga bumi. Dengan kesadaran ini, kita dapat mengurangi perilaku predator dan menjalankan amanah sebagai khalifah yang bijaksana, sehingga bumi tetap lestari dan kehidupan semua makhluk dapat terjamin.
Catatan Redaksi: Artikel ini dipublikasikan ulang dari potretonline.com (11/01/2016) karena isu tanggung jawab manusia terhadap bumi dan kelestarian lingkungan tetap relevan hingga saat ini. Pembaca diharapkan dapat mengambil pelajaran dan kesadaran untuk menjaga bumi dari kerusakan akibat ulah manusia.
























Diskusi