Parenting Berbasis Fitrah: Solusi Mengatasi Kenakalan Remaja di Era Globalisasi

Banyak remaja dianggap bermasalah, padahal akar persoalannya sering tersembunyi dalam pola asuh yang tidak pernah benar-benar selesai di rumah.
file_00000000c070720884960b41368b4c14
Tekanan, konflik, dan tuntutan orang tua sering kali menjadi akar dari kenakalan remaja yang tampak di permukaan.

Oleh Marantika Fajar Wati
Berdomisili di Jawa Barat

Di Indonesia hari ini, menjadi orang tua bukan lagi sekadar urusan domestik. Ia telah berubah menjadi persoalan sosial yang lebih luas—menyangkut masa depan generasi, kualitas manusia, dan arah peradaban.

Angkanya tidak kecil. Sekitar 88 juta anak hidup di Indonesia pada 2025. Namun di balik angka besar itu, tersembunyi persoalan yang jauh lebih serius: kualitas pengasuhan yang belum merata. Data nasional menunjukkan 1 dari 2 anak usia remaja pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya. Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah potret kegagalan kolektif.

Ironisnya, diskursus publik tentang parenting sering berhenti pada permukaan—tips, metode, dan tren. Sementara akar masalahnya jarang disentuh: orang tua yang belum selesai dengan dirinya sendiri.

Ketika orang tua tidak memahami dirinya, yang lahir bukan pendidikan—melainkan kontrol.

Globalisasi dan Ilusi Kemajuan

Globalisasi sering dipersepsikan sebagai kemajuan. Akses informasi terbuka, teknologi semakin canggih, dan peluang semakin luas. Namun bagi anak, situasinya tidak sesederhana itu.

Ruang tumbuh mereka kini dipenuhi distraksi: gawai, media sosial, dan arus informasi tanpa filter. Anak belajar banyak hal lebih cepat, tetapi tanpa fondasi yang kuat, mereka juga kehilangan arah lebih cepat.

Dalam situasi ini, banyak orang tua mengambil jalan pintas: membatasi tanpa memahami, melarang tanpa menjelaskan, atau justru membiarkan tanpa pendampingan.

Empat Fitrah yang Terabaikan

Secara konseptual, setiap anak lahir dengan empat fitrah: keimanan, belajar, bakat, dan seksualitas. Namun dalam praktiknya, keempatnya sering tidak tumbuh seimbang.

Fitrah keimanan direduksi menjadi hafalan. Fitrah belajar berubah menjadi tekanan akademik. Fitrah bakat terpinggirkan oleh standar kesuksesan tunggal. Sementara fitrah seksualitas kerap diabaikan hingga anak mencarinya sendiri di ruang yang salah.

Akibatnya, anak tumbuh bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai hasil kompromi antara tekanan keluarga dan tuntutan sosial.

Banyak anak tidak gagal. Mereka hanya tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.

Fase Kritis yang Salah Ditangani

Pada usia 0–6 tahun, ketika otak berkembang paling pesat, sebagian orang tua justru menyerahkan anak pada layar. Interaksi yang seharusnya membangun kedekatan emosional tergantikan oleh distraksi digital.

Memasuki usia 7–10 tahun, anak mulai membangun rasa ingin tahu. Namun sistem pendidikan dan pola asuh yang seragam sering kali justru mematikan eksplorasi.

Puncaknya terjadi pada usia 10–14 tahun—fase pencarian identitas. Di sinilah banyak anak kehilangan arah. Tanpa pendampingan yang tepat, mereka mencari jawaban di luar rumah: dari teman sebaya, internet, atau lingkungan yang tidak selalu aman.

Data menunjukkan jutaan remaja Indonesia berada dalam fase rentan ini setiap tahun. Namun respons yang diberikan seringkali reaktif, bukan preventif.

Orang Tua dan Budaya Intervensi

Salah satu masalah paling mendasar adalah kecenderungan orang tua untuk mengintervensi kehidupan anak secara berlebihan. Pilihan sekolah, jurusan, bahkan jalan hidup sering ditentukan sepihak.

Di balik itu, ada asumsi yang jarang dipertanyakan: bahwa orang tua selalu tahu yang terbaik. Padahal, realitasnya tidak selalu demikian.

ADVERTISEMENT

Intervensi yang berlebihan tidak hanya menghambat kemandirian, tetapi juga merusak kepercayaan diri anak. Mereka tumbuh dalam bayang-bayang ekspektasi, bukan kesadaran diri.

Anak yang terus diarahkan tanpa didengar, pada akhirnya akan berjalan tanpa arah.

Kenakalan Remaja: Gejala, Bukan Akar Masalah

Fenomena kenakalan remaja sering dipandang sebagai masalah moral. Tawuran, penyalahgunaan narkoba, hingga perilaku menyimpang lainnya dianggap sebagai kegagalan individu.

Padahal, itu lebih tepat disebut sebagai gejala. Akar masalahnya jauh lebih dalam: fitrah yang tidak pernah dipenuhi sejak kecil.

Anak yang tidak mendapatkan validasi emosional akan mencari pengakuan. Anak yang tidak diarahkan bakatnya akan kehilangan makna. Anak yang tidak memahami identitasnya akan mencari jati diri di tempat yang salah.

Menuju Parenting yang Lebih Sadar

Solusinya bukan menambah aturan, tetapi meningkatkan kesadaran. Orang tua perlu bertransformasi dari pengontrol menjadi pendamping.

Fitrah keimanan perlu dihidupkan melalui keteladanan. Fitrah belajar perlu diarahkan, bukan ditekan. Fitrah bakat perlu ditemukan, bukan dipaksakan. Dan fitrah seksualitas perlu dibimbing, bukan dihindari.

Pada akhirnya, kualitas anak tidak lahir dari metode yang sempurna, tetapi dari kehadiran orang tua yang utuh. Di tengah dunia yang semakin bising, anak tidak membutuhkan orang tua yang paling benar—mereka membutuhkan orang tua yang benar-benar hadir.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Marantika Fajar Wati
Kontributor

Komentar

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.