Oleh : Fery Ferdian
Isah Abu Qilabah ini merupakan salah satu kisah sahabat yang mengharukan. Dari kisah ini kita bisa belajar bagaimana mensyukuri apa pun yang kita miliki dan tetap bersabar dengan apa yang menimpa kita.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqat, kisah ini diriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad, ia mengatakan:
“Suatu hari, aku pernah berada di daerah perbatasan, wilayah Arish di negeri Mesir. Aku melihat sebuah kemah kecil, yang dari kemahnya menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang yang sangat miskin. Lalu aku pun mendatangi kemah yang berada di padang pasir tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya.”
Kemudian aku melihat seorang laki-laki. Namun bukan laki-laki biasa. Kondisi laki-laki ini sedang berbaring dengan tangan dan kakinya bunting, telinganya sulit mendengar, matanya buta, dan tidak ada yang tersisa selain lisannya yang berbicara.
“Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Dan Engkau sangat muliakan aku dari ciptaan-Mu yang lain.”
Kemudian aku pun menemuinya, dan berkata kepadanya:
“Wahai saudaraku, nikmat Allah mana yang engkau syukuri?”
“Wahai saudara, diamlah. Demi Allah, seandainya Allah datangkan lautan, niscaya laut tersebut akan menenggelamkanku atau gunung api yang pasti aku akan terbakar atau dijatuhkan langit kepadaku yang pasti akan meremukkanku. Aku tidak akan mengatakan apapun kecuali rasa syukur.”
“Bersyukur atas apa?”
“Tidakkah engkau melihat Dia telah menganugerahkan aku lisan yang senantiasa berdzikir dan bersyukur. Di samping itu, aku juga memiliki anak yang waktu sholat ia selalu menuntunku untuk ke masjid dan ia pula yang menyuapiku. Namun sejak tiga hari ini dia tidak pulang kemari. Bisakah engkau tolong carikan dia?”
Aku pun menyanggupinya dan pergi untuk mencari anaknya. Setelah beberapa saat mencari, aku mendapati jenazah yang sedang dikelilingi oleh singa. Ternyata anaknya laki-laki itu sudah dimakan oleh singa.
Aku pun bingung bagaimana caraku untuk mengatakannya kepada laki-laki pemilik kemah itu. Aku pun kembali dan berkata kepadanya:
“Wahai saudaraku, sudahkah engkau mendengar kisah tentang Nabi Ayub?”
“Iya, aku tahu kisahnya.”
“Sesungguhnya Allah telah memberinya cobaan dalam urusan hartanya. Bagaimana keadaannya dalam menghadapi musibah itu?”
“Ia menghadapinya dengan sabar.”
“Allah telah menguji Ayub dengan kefakiran. Bagaimana keadaanya?”
“Ia bersabar.”
“Ia pun diuji dengan tewasnya semua anak-anaknya, bagaimana keadaannya?”
“Ia tetap bersabar.”
“Ia juga diuji dengan penyakit di badannya, bagaimana keadaannya?”
“Ia tetap bersabar. Sekarang katakan padaku di mana anakku?”
“Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau.”
“Alhamdulillah, yang Dia tidak meninggalkan keturunan bagiku yang bermaksiat kepada Allah sehingga ia diazab di neraka.”
Kemudian ia menarik napas panjang lalu meninggal dunia. Abdullah bin Muhammad menutupi jenazah dengan jubahnya, dan beberapa saat kemudian datang empat orang laki-laki yang menolong memandikan, mengkafani, menyholatkan, dan memakamkan beliau.
“Subhanallah, wajah yang senantiasa bersujud kepada Allah. Mata yang selalu menunduk atas apa yang diharamkan Allah. Tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur.”
Hikmah: Kisah Abu Qilabah mengajarkan kita untuk selalu bersabar, mensyukuri nikmat Allah, dan menjaga ketakwaan hingga akhir hayat.
Wallahu a’lam.
























Komentar