Negeri yang Melupakan Guru

file_000000002df47208a071c131700501d7
Ilustrasi: Negeri yang Melupakan Guru
ADVERTISEMENT

Oleh Ahmad Rizali
Berdomisili di Depok

Di ruang-ruang kelas, kita membangun masa depan. Tapi diam-diam, kita juga sedang meruntuhkannya—pelan, sistematis, dan nyaris tanpa sadar.


M embaca Cersil Pentalogi Naga Bumi karya Seno Gumira menghadirkan satu kesadaran yang nyaris terlupakan: betapa berharganya seorang guru. Di Tiongkok kuno, seorang murid tidak serta-merta diterima. Ia diuji kesungguhan, kesabaran, dan kerendahan hatinya. Saat diterima, relasi itu bukan sekadar akademik—guru adalah pengganti orangtua.

Menjadi cendekia di masa itu pun bukan perkara mudah. Ujian berlapis dari tingkat lokal hingga nasional menguji filosofi, sastra, dan daya tahan mental. Mereka yang lulus bukan sekadar pintar, tetapi teruji oleh waktu dan kegigihan.

Guru bukan sekadar profesi. Ia adalah fondasi yang menentukan kualitas sebuah peradaban.

Kisah Kaisar Jepang yang mencari sisa guru setelah kehancuran negerinya mungkin dramatis. Namun substansinya nyata: peradaban bertahan bukan karena kekuatan militer, melainkan karena kualitas gurunya.

Sriwijaya pada abad ke-7 pernah menjadi simpul pengetahuan dunia, terhubung dengan Nalanda sebagai pusat pembelajaran global.


Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, diskursus pendidikan Indonesia tumbuh sangat hidup. Saya mengenal alm. Mochtar Buchori, alumnus Harvard, bersama tokoh seperti HAR Tilaar dan Conny Semiawan.

Saya mendirikan komunitas, berdiskusi di milis, berguru kepada Pater Drost, dan terlibat dalam gerakan pendidikan seperti Klub Guru Indonesia dan Indonesia Mengajar.

Selama guru Indonesia tidak dibenahi secara serius dan menyeluruh, mimpi bonus demografi hanya akan menjadi ilusi.

Inkonsistensi dalam mengurus guru memperdalam krisis pendidikan kita.


Amerika Serikat pernah terjebak dalam sistem pendidikan berbasis ujian melalui No Child Left Behind. Dampaknya, pendidikan menyempit menjadi sekadar persiapan tes.

Namun mereka mampu bangkit karena fondasi pendidikan guru yang kuat.

Ketika pendidikan direduksi menjadi angka, yang hilang bukan hanya kreativitas—tetapi juga makna belajar.

Finlandia menunjukkan jalan berbeda. Reformasi dimulai dari guru dengan kepercayaan penuh terhadap profesionalisme mereka.

Tiongkok pun mulai meninggalkan sistem ujian-sentris menuju pendekatan berbasis potensi individu.


Indonesia sebenarnya memiliki fondasi kuat melalui Ki Hajar Dewantara. Namun implementasinya belum konsisten.

Pendidikan abad ke-21 menuntut kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif—yang hanya bisa dibangun dari literasi, numerasi, dan sains.

Masalah terbesar pendidikan kita bukan di atas, tetapi di fondasi yang kita abaikan.

Di lapangan, anak-anak masih mengalami trauma matematika sejak dini. Guru antar jenjang saling menyalahkan, sementara guru SD minim dukungan.

Sangat tidak adil jika seluruh beban ini ditimpakan kepada mereka tanpa pelatihan memadai.

Fakta sederhana menunjukkan: hanya sebagian kecil siswa mampu menyelesaikan soal pecahan dasar.

Bahkan di SMA, guru harus mengulang kembali konsep dasar sebelum masuk materi lanjutan.


Jika fondasi rapuh, maka setinggi apa pun bangunan pendidikan kita, ia hanya menunggu waktu untuk runtuh.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ahmad Rizali
Kontributor

Komentar

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.