Aku Beriman Maka Aku Melawan

Ketika Agama Tak Lagi Mengganggu Ketidakadilan
Cahaya dan gelap bukan takdir, tapi pilihan
Cahaya dan gelap bukan takdir, tapi pilihan
— AI
WA FB X
Kalau iman tidak membuatmu terusik oleh ketidakadilan, maka mungkin yang kamu miliki bukan iman—hanya kebiasaan yang diwariskan. Sebab iman, sejak awal, bukanlah tempat beristirahat dari dunia, melainkan titik di mana manusia mulai gelisah terhadap dunia yang zalim.

Kita terlalu sering menjadikan agama sebagai penenang, padahal ia seharusnya menjadi pengganggu yang sah. Kita menundukkan kepala dalam doa, tetapi mengangkat bahu saat kezaliman lewat di depan mata. Kita khusyuk di sajadah, namun lumpuh di jalanan sejarah.

Padahal Al-Qur’an tidak pernah memuji diam di hadapan ketidakadilan. Ia justru menegaskan bahwa keimanan selalu menuntut keberpihakan, bahkan ketika itu berarti melawan arus mayoritas, melawan kenyamanan, dan melawan diri sendiri.

Maka pertanyaannya sederhana, tapi mengganggu: jika iman tidak membuatmu melawan, lalu kepada siapa sebenarnya kamu sedang tunduk?

Bagi Ali Shariati, seorang muslim sejati bukan hanya melakukan ritual agama saja. Ia harus memiliki kepekaan sosial. Nilai tauhidnya patut dipertanyakan bila membiarkan penguasa zalim.

Secara sederhana, hubungan sosiologis itu menurutnya penting; karenanya, pembiaran atas kezaliman dapat dimaknai sebagai bentuk dukungan diam-diam terhadapnya.

Dalam semangat itu, iman tidak pernah netral. Ia selalu berpihak: entah pada keadilan, atau pada pembiaran. Tidak ada posisi aman di tengah kezaliman. Diam pun adalah sikap, dan dalam banyak kasus, diam justru menjadi bentuk persetujuan yang paling nyaman.

Dalam konteks Indonesia maupun Aceh, kita tidak boleh mentolerir lagi. Sudah terlalu lama pembiaran praktik zalim dipertontonkan. Selama ini, gerakan perubahan terlalu mudah goyah. Dalam kacamata tauhid, itu menjadi bukti empiris betapa lemahnya nilai-nilai kebesaran Ilahi kita pahami.

Al-Qur’an bahkan menegaskan bahwa keadilan adalah inti keberagamaan:

Baca Juga

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri…” (QS. An-Nisa: 135)
Maka diam terhadap ketidakadilan bukan sekadar kelemahan sosial, tetapi juga problem iman.

Jika ditarik lebih jauh secara eksistensial, posisi manusia sebagai khalifah tidak hanya berdampak pada sesama manusia, tetapi juga pada seluruh makhluk yang hidup di sekitarnya.

Bagi kodok, ayam, lembu, pohon, air, dan tanah, Anda adalah penguasa. Disadari atau tidak, mereka memperhatikan—barangkali sedikit “ghibah” tentang Anda. Sebagai khalifah, apakah Anda ikhlas diatur para koruptor? Apakah Anda rela dijadikan objek bagi kelestarian kekuasaan?

Namun problem ini tidak hanya bersifat struktural di luar sana; ia juga berakar dalam diri kita sendiri. Sementara kepada Yang Maha Kuasa malah sebaliknya. Kerap melawan perintah-Nya, setidaknya abai ketika dipanggil lima kali sehari. Mengucapkan nama-Nya pun hanya saat tertentu, sementara udara yang diberikan tidak berkurang sedikit pun.

Anda rela membayar pajak kepada koruptor, sementara zakat diabaikan. Anda begitu sopan berpakaian dan sangat tepat waktu jika dipanggil si bos. Namun, saat menjumpai Pencipta kita—termasuk “bos” Anda—jauh dari kata sopan. Bias iman memang melanda kita, seperti virus yang menular. Ritual agama begitu dahsyat, namun abai pada kaum tertindas, termasuk pada diri sendiri.

Al-Qur’an kembali menegaskan orientasi spiritual yang tidak boleh berhenti pada formalitas:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan sosial selalu dimulai dari kesadaran batin yang tidak kompromi terhadap kebusukan.

Sepanjang Ramadan, di masjid-masjid para penceramah hanya berbicara amar ma’ruf, sementara nahi mungkar diabaikan. Wajar bila kesadaran sosiologis kita rendah. Ciri Sunni hampir di semua negara demikian: berbicara amar ma’ruf, namun abai nahi mungkar. Setidaknya sampai detik ini, dunia hanya menonton berbagai bentuk penindasan global dengan diam yang panjang.

Rasulullah ﷺ justru menegaskan keseimbangan itu: amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak bisa dipisahkan. Tanpa keduanya, agama berubah menjadi ritual tanpa daya gugat.

Dalam konteks Indonesia pun demikian. Kita diajarkan berakhlak baik, namun jarang diajarkan memberantas kemungkaran. Korupsi terjadi bukan karena pelaku kuat, melainkan karena kitalah yang lemah terhadap kemungkaran. Kita memilih tahajud ketimbang menyuarakan ketidakadilan. Kita memilih bershalawat ketimbang menyatakan kebenaran yang tidak disukai mayoritas.

Sejauh ini, kita hanya memilih diam pada kebijakan politik yang tidak bijak, meski mengaku beriman kepada Allah Azza wa Jalla. Padahal iman selalu diuji dalam ruang sosial, bukan hanya di sajadah.

Seberapa sering kita bertanya tentang bias iman, bias ilmu, dan bias amal dalam diri kita? Sekarang bayangkan Anda anak seorang petani dengan tiga adik perempuan. Ayah Anda tamatan SD. Sawah garapan milik ayah Anda dihantam banjir. Kira-kira mampukah Anda bertahan seperti hari ini? Akan ada yang bertahan dan sukses, namun persentasenya sangat kecil.

Ketidakadilan yang kita biarkan itu pada akhirnya melahirkan realitas sosial yang pahit seperti ini. Dalam kondisi itu, pernahkah kita melirik mereka yang akhirnya hanya menjadi pengguna narkoba, kriminal akut, sementara pemerintah berpesta pora dengan jabatan? Anda yang beriman kemudian hanya berkata, “kasihan mereka.”

ADVERTISEMENT

Maka di sinilah iman diuji: apakah ia hanya menjadi identitas spiritual, atau berubah menjadi kesadaran moral yang hidup. Sebab dalam Islam, iman tanpa keberpihakan pada keadilan hanyalah bentuk lain dari kelalaian.

Tanyalah pada diri Anda: apakah Anda manusia beriman? Jangan-jangan Anda telah “membunuh” sensitivitas tauhid dalam diri hingga tidak peduli pada makhluk Tuhan lainnya. Bagaimana mungkin khalifah, makhluk yang dimuliakan, justru patuh pada kekuasaan yang sementara?

Mari ngopi sejenak, sahabat, sambil merenungi makna dan nilai iman kita.

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Don Zakiyamani
Penikmat kopi tanpa gula

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.