Oleh: Ilham Mirsal, MA
Dosen STAI Tapaktuan dan Pegiat Sejarah Lokal
“Daerah yang mengenal sejarahnya adalah daerah yang tahu ke mana masa depannya harus diarahkan.”
Pasie Raja. Nama yang mungkin hanya terdengar seperti sebuah kecamatan administratif biasa di Kabupaten Aceh Selatan. Namun di balik nama ini, tersimpan kisah panjang tentang jejak peradaban, benteng kebudayaan, dan denyut kehidupan masyarakat pesisir Aceh yang terus bertahan dalam gelombang perubahan zaman.
Di Antara Pantai dan Kekuasaan
Dalam bahasa Aceh, pasie berarti pantai dan raja berarti pemimpin. Nama ini bukan tanpa makna. Pasie Raja memang terletak di jalur strategis pesisir barat Sumatra—wilayah yang pada masanya menjadi persinggahan pedagang, ulama, hingga penjajah. Sejarah mencatat bahwa wilayah ini telah menjadi bagian dari struktur kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam, bahkan ikut berperan dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda. Tidak sedikit pejuang dari wilayah ini yang gugur dalam mempertahankan tanah air.
Namun, yang menarik, dalam narasi lisan masyarakat setempat, Pasie Raja diyakini pernah dipimpin oleh seorang perempuan tangguh bernama Inong Cuma Fatimah. Ia adalah simbol kekuatan, kecerdasan, dan kepemimpinan perempuan di masa lalu—sebuah fakta yang jarang dibahas dalam arus utama historiografi Aceh.
Pasie Raja: Museum Hidup Budaya Pesisir
Masyarakat Pasie Raja hingga kini masih menjaga berbagai tradisi luhur yang menjadi identitas mereka. Dari tradisi peusijuk, tarian ranup lampuan, hingga kesenian Rapai dan Dalail, semuanya adalah warisan budaya yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Tak hanya itu, hikayat-hikayat lisan yang diwariskan secara turun-temurun juga menjadi sumber nilai moral, pendidikan, dan identitas. Di tengah gempuran budaya digital dan modernisasi yang cepat, keberadaan tradisi ini adalah harta yang tak ternilai.
Bahasa yang digunakan pun kaya. Dialek Aceh Selatan berpadu dengan nuansa Melayu pesisir dan bahasa Jame. Ini menjadikan Pasie Raja sebagai ruang pertemuan budaya yang dinamis, bukan ruang homogen yang beku.
Pertanian, Laut, dan Perjuangan Ekonomi
Secara ekonomi, masyarakat Pasie Raja menggantungkan hidup dari pertanian, perkebunan pala, cengkeh, sawit, dan kakao, serta hasil laut. Meski secara geografis kaya, namun perjuangan ekonomi masyarakat tidak mudah. Harga hasil panen yang fluktuatif, akses pasar yang terbatas, serta tantangan infrastruktur masih menjadi persoalan klasik.
Namun justru dalam kesederhanaan inilah, lahir semangat gotong royong yang tinggi. Warga saling menopang dalam kenduri, panen, hingga pembangunan rumah dan fasilitas ibadah. Inilah kekuatan sosial yang kerap luput dari pengamatan: solidaritas kultural yang tidak terdata dalam angka statistik.
Saatnya Menyusun Ulang Narasi
Hari ini, sejarah lokal seperti Pasie Raja nyaris tak terdengar dalam buku pelajaran sekolah. Generasi muda lebih akrab dengan cerita luar negeri daripada dengan jejak leluhur mereka sendiri. Padahal, jejak darah perjuangan, warisan budaya, dan kisah-kisah dakwah dari para ulama seperti Tgk Said Shaleh di Rasian adalah bagian penting dari jati diri kita.
Sudah saatnya kita tidak hanya mengenang, tapi juga menyusun ulang narasi Pasie Raja sebagai kuta sejarah dan budaya. Ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana: mendokumentasikan hikayat rakyat, menulis kembali biografi para tokoh lokal, hingga mengadakan festival budaya tahunan yang melibatkan generasi muda.
Penutup: Pasie Raja Hari Ini dan Esok
Pasie Raja adalah rumah bagi kenangan, harapan, dan masa depan. Ia tidak boleh hanya dikenang sebagai lokasi geografis, tetapi harus dibaca sebagai titik penting dalam peta kebudayaan Aceh Selatan. Dari laut yang membawa dakwah dan perdagangan, hingga gunung yang menyembunyikan jejak para pejuang, semuanya adalah bagian dari kita.
(Orang yang tidak mengenal tempat duduknya, tak akan tahu tempat berdirinya.) Mari kenali Pasie Raja, bukan hanya dengan peta, tapi dengan hati.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini












Discussion about this post