HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    871 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    871 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Maret 24, 2026
in Artikel, #Celoteh, #Hegemoni, #Kemerdekaan, #Kontemplasi
Reading Time: 3 mins read
0
Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Novita Sari Yahya

Saya tersenyum ketika membaca sebuah status yang meminta Wali Kota Depok dibuatkan tato artistik oleh salah seorang pendukungnya. Ungkapan itu mungkin dimaksudkan sebagai candaan atau bentuk dukungan kreatif, tetapi bagi saya, ia justru memantik ingatan lama tentang bagaimana tato pernah dimaknai sangat berbeda di negeri ini.

Baca Juga

Digempur +62 Siang Malam, Akhirnya KPK Jemput Gus Yaqut dan Jebloskan ke Rutan Lagi

Digempur +62 Siang Malam, Akhirnya KPK Jemput Gus Yaqut dan Jebloskan ke Rutan Lagi

Maret 24, 2026
Lebaran di Tengah Krisis dan Ilusi Kemenangan

Lebaran di Tengah Krisis dan Ilusi Kemenangan

Maret 24, 2026

Berhenti Bertanya “Apakah Aku Berbakat?”

Maret 24, 2026

Ingatan itu membawa saya pada sebuah percakapan di tahun 2009 dengan seorang petinggi organisasi kemasyarakatan. Saat itu, ia mengeluhkan kondisi pemerintahan yang menurutnya sarat dengan praktik korupsi. Saya menanggapi dengan nada setengah bercanda: mungkin sebaiknya Anda saja yang mencalonkan diri menjadi Presiden Indonesia. Jika terpilih, Anda akan menjadi satu-satunya Presiden bukan hanya di Indonesia, tetapi mungkin juga di dunia yang bertato. Ia tertawa, tetapi saya kira ia paham bahwa jawaban itu menyimpan sindiran tentang bagaimana simbol tubuh masih kerap memengaruhi cara publik menilai seseorang.

Dari situ, pikiran saya meluas pada istilah “preman”. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini sering dikaitkan secara longgar dengan istilah “free man”. Secara etimologis, penafsiran ini memang tidak sepenuhnya tepat, tetapi menarik karena mencerminkan cara masyarakat memberi makna. Dalam praktik sosial di Indonesia, sosok yang disebut preman kerap diasosiasikan dengan tubuh bertato seolah-olah tato menjadi penanda keberanian, kekerasan, atau bahkan perlawanan terhadap tatanan.

Namun, makna itu tidak lahir begitu saja. Pada dekade 1980-an, Indonesia pernah mengalami fase kelam melalui operasi penertiban yang dikenal sebagai Peristiwa Penembakan Misterius (Petrus). Dalam periode tersebut, banyak orang yang diduga terlibat kriminalitas menjadi korban tindakan represif aparat. Tato, dalam konteks itu, sering kali dianggap sebagai salah satu penanda yang memperkuat kecurigaan. Akibatnya, tubuh bertato tidak lagi sekadar ruang ekspresi, melainkan berubah menjadi stigma yang berbahaya bahkan bisa berujung pada hilangnya nyawa.

Sejak saat itu, tato tidak hanya berbicara tentang seni atau identitas pribadi, tetapi juga tentang ingatan kolektif dan trauma sosial. Generasi yang hidup pada masa tersebut tentu memiliki persepsi yang berbeda dibandingkan generasi hari ini.

Memasuki era reformasi, terutama dalam dua dekade terakhir, makna tato perlahan bergeser. Ia tidak lagi secara otomatis dikaitkan dengan kriminalitas. Kita dapat melihat perubahan ini pada berbagai kalangan: seniman, musisi, atlet, hingga figur publik yang tampil terbuka dengan tato di tubuh mereka. Di kota-kota besar, tato bahkan berkembang sebagai bagian dari industri kreatif—dengan standar artistik, teknik, dan estetika yang semakin diakui.

Di sisi lain, dalam komunitas tertentu seperti anak jalanan atau kelompok subkultur, tato tetap memiliki fungsi sebagai penanda solidaritas dan identitas kolektif. Artinya, satu simbol yang sama dapat memiliki makna yang berbeda, tergantung pada konteks sosial yang melingkupinya.

ADVERTISEMENT

Perubahan ini menunjukkan bahwa simbol tidak pernah benar-benar statis. Ia bergerak mengikuti zaman, dipengaruhi oleh kekuasaan, budaya populer, serta dinamika masyarakat itu sendiri. Apa yang dulu dianggap sebagai tanda penyimpangan, kini bisa diterima sebagai bentuk ekspresi diri bahkan diapresiasi sebagai karya seni.

Namun di titik inilah pertanyaan menjadi penting. Apakah perubahan makna ini benar-benar mencerminkan pembebasan? Ataukah kita hanya berpindah dari satu bentuk simbol ke simbol lainnya?

Jika suatu hari ada kepala daerah termasuk Wali Kota Depok yang memiliki tato dan tetap dipercaya memimpin, sebagian orang mungkin akan melihatnya sebagai tanda keterbukaan zaman. Bahwa masyarakat tidak lagi menilai seseorang dari penampilan semata. Tetapi pembebasan yang sesungguhnya tentu tidak berhenti pada penerimaan simbol.

Pembebasan yang lebih mendasar terletak pada cara berpikir, keberanian mengambil keputusan, serta integritas dalam menjalankan amanah. Dalam konteks kepemimpinan, yang jauh lebih penting bukanlah apakah seseorang bertato atau tidak, melainkan apakah ia mampu menghadirkan kebijakan yang adil, berpihak pada masyarakat, dan bebas dari praktik korupsi.

Istilah “free man”, jika ingin dimaknai lebih dalam, seharusnya tidak berhenti pada gaya atau penampilan. Ia seharusnya merujuk pada kebebasan berpikir, keberanian untuk bersikap independen, dan kemampuan untuk keluar dari pola-pola lama yang tidak lagi relevan. Kebebasan semacam ini tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi justru menentukan arah sebuah kepemimpinan.

Dalam kerangka itu, sosok pemimpin muda hari ini memiliki peluang untuk menghadirkan wajah baru: lebih terbuka, lebih dekat dengan masyarakat, dan lebih adaptif terhadap perubahan. Namun, keterbukaan itu harus diiringi dengan tanggung jawab. Sebab tanpa integritas, simbol apa puntermasuk tato tidak akan memiliki makna yang berarti.

Pada akhirnya, tato hanyalah salah satu bentuk simbol. Ia bisa menjadi karya seni, penanda identitas, atau bahkan sekadar tren. Yang lebih penting adalah bagaimana kita, sebagai masyarakat, memaknai kebebasan itu sendiri.

Apakah kita hanya berhenti pada apa yang tampak di permukaan? Ataukah kita berani melangkah lebih jauh menuju perubahan yang nyata dalam cara berpikir dan bertindak?

Di situlah barangkali makna “bebas” menemukan tempatnya yang paling jujur.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 200x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 197x dibaca (7 hari)
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
17 Mar 2026 • 161x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 144x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 123x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Baca Juga

Digempur +62 Siang Malam, Akhirnya KPK Jemput Gus Yaqut dan Jebloskan ke Rutan Lagi
Artikel

Digempur +62 Siang Malam, Akhirnya KPK Jemput Gus Yaqut dan Jebloskan ke Rutan Lagi

Maret 24, 2026
Lebaran di Tengah Krisis dan Ilusi Kemenangan
Artikel

Lebaran di Tengah Krisis dan Ilusi Kemenangan

Maret 24, 2026
Artikel

Berhenti Bertanya “Apakah Aku Berbakat?”

Maret 24, 2026
Evening street scene with people socializing
Aceh

Aceh Mengaji Masihkah Menjadi Tradisi?

Maret 23, 2026
Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Login

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com