HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tentang Malas, Kerja, dan Indonesia Terhormat.

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Maret 23, 2026
in Budaya, Artikel, Indonesia, POTRET Budaya, SDM indonesia
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Novita Sari Yahya

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan malas? Apakah malas hanya berarti tidak bekerja, tidak mencari uang, atau tidak bergerak secara fisik?

Baca Juga

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Maret 23, 2026

Pidato Manifesto: Indonesia Terhormat

Maret 22, 2026
Ketika Minyak Juga Menjadi Senjata Geopolitik

Ketika Minyak Juga Menjadi Senjata Geopolitik

Maret 22, 2026

Pemahaman seperti itu terlalu sempit.
Hari ini, kita hidup dalam sistem yang mengukur rajin atau tidaknya seseorang hanya dari seberapa keras ia bekerja secara fisik, seberapa lama ia menghabiskan waktu untuk bekerja, dan seberapa besar ia berkontribusi pada mesin ekonomi.

Namun pertanyaannya: bekerja untuk siapa, dan untuk kepentingan siapa?

Dalam sistem Kapitalisme, manusia sering kali tidak lagi menjadi subjek yang merdeka, melainkan bagian dari mesin produksi. Ia bekerja, tetapi bukan untuk membangun dirinya. Ia bergerak, tetapi tidak menentukan arah. Ia rajin, tetapi kehilangan makna.

Di sinilah letak kesalahpahaman besar itu. Tidak semua yang tampak “tidak bekerja keras” adalah malas. Banyak orang sesungguhnya bukan malas, melainkan dibatasi, dimiskinkan, dan dibodohi oleh sistem yang tidak memberi ruang untuk berkembang.

Ketika pendidikan hanya mencetak pekerja, bukan pemikir,. Ketika ekonomi hanya membuka ruang bagi tenaga, bukan gagasan. Maka manusia perlahan kehilangan kemampuannya untuk berkarya.

Padahal, berkarya adalah hakikat manusia. Seorang manusia yang bekerja hanya untuk bertahan hidup, tanpa ruang untuk berpikir dan mencipta, pada akhirnya tidak berbeda jauh dari alat. Ia hidup, tetapi tidak sepenuhnya merdeka.

Inilah yang pernah diingatkan oleh Soekarno, bahwa kemerdekaan bukan hanya soal lepas dari penjajahan fisik, tetapi juga terbebas dari ketergantungan ekonomi dan penjajahan cara berpikir. Bangsa yang merdeka seharusnya tidak menjadi kuli di negeri sendiri.

Hari ini, kita melihat perubahan besar tentang
cara kerja bergeser, teknologi berkembang, bahkan kerja bisa dilakukan dari mana saja. Namun perubahan ini tidak otomatis memerdekakan manusia. Jika pola pikirnya tetap sama, maka manusia hanya berpindah dari satu bentuk ketergantungan ke bentuk lainnya.

Ketergantungan pada energi, pada sistem global, pada struktur ekonomi yang tidak kita kendalikan Semua itu menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar kerja, tetapi kedaulatan.

Indonesia adalah bangsa yang kaya.
Kaya sumber daya, kaya potensi, kaya sumber daya manusia. Namun kekayaan itu tidak berarti jika rakyatnya hanya dididik untuk menjadi pekerja, bukan pencipta.

Karena itu, kita harus membedakan dengan jelas: antara malas adalah pilihan untuk tidak bertindak, tetapi dimiskinkan dan dibodohi adalah kondisi yang dipaksakan oleh sistem.

Keduanya tidak sama.

Cita-cita tentang Indonesia terhormat bukanlah tentang seberapa keras rakyatnya bekerja, tetapi tentang seberapa merdeka rakyatnya berpikir dan berkarya.

Indonesia terhormat adalah Indonesia yang:

tidak sekadar bekerja, tetapi mencipta

tidak sekadar mengikuti, tetapi menentukan arah

tidak sekadar bertahan hidup, tetapi memberi makna pada kehidupan

Sebab pada akhirnya, martabat sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa sibuk rakyatnya, melainkan dari seberapa besar kesadaran dan kemandirian yang dimilikinya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 173x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 159x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 146x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 126x dibaca (7 hari)
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
17 Mar 2026 • 121x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Baca Juga

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli
Iran

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Maret 23, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda
Puisi Essay

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?
Kebencanaan

Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?

Maret 22, 2026
Banjir Hidrometeorologi yang Menyisakan Kesengsaraan Panjang
Bencana

Banjir Hidrometeorologi yang Menyisakan Kesengsaraan Panjang

Maret 22, 2026
Next Post
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Login

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com